Kamis, 28 Januari 2016

Menunggu Rumah

Novel Amelia yang ditulis oleh TereLiye membuat saya merenung, menangis lalu berfikir.
Novel ini bukan novel sedih, sama sekali tidak. Novel ini hanya bercerita tentang keseharian seorang anak yang bernama Amelia. Dia anak bungsu.
Ya disitu permasalahannya. Dia anak bungsu. Sama seperti saya yang juga anak bungsu. 
Di sana, dalam ceritanya, dia, Amelia, selalu merasa risih jika kakak-kakaknya menjahilinya dengan cara menyebutnya sebagi si "penunggu rumah".
"Penunggu rumah" maksud yang saya tangkap dari novel itu adalah seseorang yang tak bisa pergi jauh, hanya boleh tinggal di rumah saja. Mungkin saya salah tangkap, atau apalah yang pasti itu yang saya paham.
Lalu? Yaaa... Saya anak bungsu, dan saya rasa saat ini saya jadi si "penunggu rumah".
Padahal jiwa saya, hati saya sudah jauh bertualang, tinggal raga saya saja di sini, di rumah, di kampung halaman.
Bukan, bukan maksud saya tak mau tinggal bersama orangtua, bukan bukan begitu. Anak mana sih yang tak ingin tinggal dengan orangtuanya. Pasti semua ingin. Tapi dengan umur yang masih sangat muda, lalu hanya tinggal di rumah saja. Bagi saya, seperti raga yang hanya bernafas, tak ada jiwa. Tak ada gairah, apalagi semangat.

Selasa, 12 Januari 2016

Ada rindu yang kukirim dalam doa


Aku mengirim rindu
Mengirimnya kepada seseorang yang tak kutahu bagaimana raut wajahnya, sesorang yang tak kutahu di mana ia kini berada

Aku mengirim rindu
Mengirimnya kepada pemilik hati yang Allah pilihkan untuk hatiku

Dan aku mengirim doa
Semoga hamparan sejadahnya semakin didekatkan pada hamparan sejadahku