Minggu, 09 Oktober 2016

Renjana _ Yansa El-Qarni




Yansa El-Qarni
Seorang penulis yang baru kali ini saya membaca karyanya yang dibukukan. 
Sajaknya melulu tentang kerinduan dan kejujuran seorang yang memendam cinta.

Hari ini, malam ini tepatnya. Sajak-sajak karya Yansa El-Qarni ini menemani saya menghabiskan dinginnya malam di bandara Soekarno-Hatta Jkrt.
Saya tekejut mendapati gaya dan bahasa tulisannya. Rasanya tidak jauh berbeda dari tulisan-tulisan saya. Saya merasa ada kesamaan yang nyata. Pernyataan pernyataan ketidakmampuan memendam cinta dan ketidakbadilan rasa rindu. 
Sepertinya dia masih jomblo! 😂

Rabu, 27 Juli 2016

Senja bersama Rosie


Sebuah karya dari TereLiye namun di novel ini namanya masih Darwis Darwis.

Adalah Tegar Karang seorang pemuda yang lahir dan tumbuh di Gili Trawangan, Lombok. Dia memiliki seorang sahabat sejak kecil bernama Rosie. Setiap hari bersama, semua masa kecil mereka lewati berdua.

Kebersamaan bisa menumbuhkan rasa suka bahkan cinta. Dan itu pulalah yang dialami Tegar. Ia jatuh cinta pada Rosie. Ia memendamnya selama ini hingga ia memutuskan untuk mengatakannya di puncak Rinjani kala mereka mendaki bersama.
Namun apa dikata, ia terlambat beberapa langkah saja. Saat hendak tiba di puncak Rinjani, Tegar harus menyaksikan pujaan hatinya direbut oleh sahabatnya sendiri, Dani. Dani lebih dahulu mengutarakan cinta pada Rosie. Dua puluh tahun Tegar luluh lantah dikalahkan oleh dua bulan Dani.
Tegar sendirilah yang dua bulan lalu memperkenalkan Dani pada Rosie. Namun tanpa Tegar duga ternyata diantara meraka tumbuh beni cinta.

Kenyataan pahit itu membuat Tegar memilih untuk menghilang dari kehidupan Rosie. Ia pergi. 

Tereliye (darwis) tidak begitu saja mengakhiri kisah Tegar dan Rosie. Ia menyusun cerita dengan sangat apik, mengalir indah dan penuh kejutan.
Ia mempertemukan kembali Tegar dan Rosie, meski saat itu hati Tegar telah berdamai dengan kepedihan cinta yang ia alami.

Kebahagian Rosie, Dani serta emoat anaknya kini juga menjadi kebahagian Tegar. Hingga bom di Jimbaran, Bali merenggut semuanya. Dani meninggal, Rosie gila, dan Tegar harus mengurus keempat anak Rosie&Dani.

Tegar, bukan sekedar nama. Dia sungguh tegar, setegar batu karang.

TereLiye (Darwis) menyuguhkan cerita tanpa jeda, dia sungguh jenius. Pembaca terbawa, merasakan setiap kejadian. Dan lagi, kita tak bisa menebak hingga membaca akhir halaman cerita 'Senja Bersama Rosie'. 


Sanrego, 27 juli 2016

Senin, 25 Juli 2016

Kisah sang penandai

Jim & Nayla bukanlah romeo&juliet, mereka terap Jim & Nayla.
Meski cinta mereka satu sama lain amatlah besar, meski hubungan mereka tidak direstui, meski Nayla merenggut nyawa sendiri dengan meneguk racun, namun mereka bukanlah romeo&juliet, mereka tetaplah Jim & Nayla.

Jim yang anak yatimpiatu dibesarkan oleh kedermawanan bangsawan, Jim yang tak pandai membaca, Jim yang periang, handal menggesek biola, Jim yang hatinya telah tertambat pada satu orang, iyalah Nayla.

Kematian Nayla di bulan ketujuh hari ketujuh dan di jam tujuh itu mengubah kehidupannya. Ia yang awalnya ingin memiliki cerita yang sama dengan kisah angka tujuh yang sangat terkenal di kotanya itu didatangi oleh sang Penandai -penjaga dongeng.

Sang penandai menjanjikan kehidupan yang hebat, cerita yang luarbiasa jika Jim percaya pada kalimat "Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya."

Meski berat, Jim mengikuti saran sang penandai, meninggalkan pusara tercinta Nayla. Bersama kapal 'pedang langit' yang dipimpin oleh Laksamana Ramirez, Jim berangkat menjemput janji sang penandai, janji kehidupan yang hebat. Namun tidak ada kehidupan yang hebat tanpa perjuangan yang kuat. Jim menghadapi berbagai macam rintangan di tengah laut. Untunglah ia bersama Laksamana Ramirez yang gagah perkasa menghadapi segala rintangan laut, yang ternyata juga adalah orang pilihan Sang Penandai untuk menyelesaikan satu cerita dongeng.

Tanah Harapan, tujuan kapal 'pedang langit' berlabuh. Daratan yang pada akhirnya adalah tempat berakhirnya cerita dongeng Jim.

Bagaimana dengan kisah cintanya?
Jim hanya perlu percaya pada kalimat "Pecinta sejati tidak akan pernah menyerah sebelum kematian itu sendiri datang menjemput dirinya." Dan kisah cintanya akan berakhir bahagia, menurutku.


- Sanrego, 24 juli 2016

Rabu, 29 Juni 2016

Aku adalah tangan yang tak bisa bertepuk

Semua terjadi begitu saja, tak ada yang bisa mencegahnya. Perasaan itu semakin tumbuh kian hari. Aku tidak mau, tapi aku tidak bisa mencegahnya. Ini membuatku seperti seorang yang menderita sebuah penyakit aneh. Tak karuan rasanya perasaan ini. Ingin diluapkan tapi takut salah, ingin disimpan tapi tak terbendung. Benar, aku menjadi sedikit gila. 

Terlalu banyak hal yang kulakukan diluar kendali, aku sudah berusaha mengendalikannya, tapi tetap tidak bisa. Perasaan itu terlalu menguasai. Hatiku telah benar-benar dikuasai olehnya.

Tapi, aku adalah tangan yang tak bisa bertepuk. Aku inginnya, tapi ia tak inginku. Perasaanku tak sampai menyentuh perasaannya. Hatinya telah dikuasai oleh orang lain. Aku, tak bisa bertepuk.

Minggu, 06 Maret 2016

Eliana, Pukat, Burlian, & Amelia




Untuk Tere Liye,

Terima kasih sudah menghadirkan Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia. Keempat saudara itu sedikit banyak telah merubah pemikiran saya yang dulunya sempit. Pelajaran-pelajaran berharga, nasehat serta renungan-renungan yang datang dari cerita mereka membuat saya belajar banyak tanpa merasa digurui.

Jujur saya membaca novel ini bukan dari membeli sendiri tapi dipinjamkan oleh teman –yang baik hati dan juga pengoleksi novel Tere Liye. Seperti biasanya sebelum membaca novel saya pasti bertanya apa ini bagus, ceritanya menarik atau tidak dan blablabla… sampai akhirnya teman saya menyarankan membaca serial mamak ini. Melihat judulnya, saya mulai bertanya ini itu pada teman saya dan ya akhirnya saya memutuskan membaca Amelia terlebih dahulu, kenapa? Ya… karena Amelia anak bungsu, seperti saya. 

Dari novel Amelia, saya merenungi banyak hal. Saya merasa sangat beruntung membaca cerita Amelia. Bahkan ada beberapa bagian cerita –yang meskipun tidak sedih, membuat saya menangis. Pertanyan ‘kenapa anak bungsu dicap manja, Kenapa anak bungsu sangat dikhawatirkan kalau pergi jauh, Dan kenapa-kenapa lainnya,’ yang juga selalu menjadi pertanyaan saya. Namun ada satu pertanyaan yang lebih dalam dari pertanyaan lainnya yaitu, ‘Kenapa anak bungsu yang harus menunggu rumah?’. Membaca novel Amelia, sedikit banyak membuka pemikiran-pemikiran saya yang dulunya sangat sempit atas pertnyaan-pertanyaan itu. Banyak hal yang membuat saya iri dari Amelia, meski sebenarnya dia juga sering sakit-sakitan, tapi dia sangat kuat. Kuat hatinya.

Burlian, anak ketiga. Si spesial. Ah.. dari semua cerita, saya paling iri membaca cerita bahwa Burlian ada kaitannya dengan Jepang. Masih kecil dia sudah berteman dengan Nakamura-san, bahkan saling bertukar surat dengan anak Nakamura-san yang tinggal di Jepang, hingga akhirnya Burlian ke Jepang. Saya yang tiga tahun lebih belajar bahasa dan budaya Jepang, belum pernah sekalipun ke Jepang. Ahh.. Burlian, saya sungguh iri. Paling jahil bersaudara membuat Burlian sering mendapat masalah, bahkan hampir ditelan buaya hidup-hidup. Kocak, Burlian memang kocak. Saya sangat suka dengan karakter Burlian. Saya belajar bahwa hidup itu harus diselingi dengan humor jangan serius melulu lewat cerita-cerita Burlian. Anak spesial.

Calon peneliti hebat, yang selalu memiliki jawaban dari semua pertanyaan, si pintar Pukat. Saya belajar nilai kejujuran dan persahabatan dari Pukat. Cerita pertengkaran Pukat dengan sahabatnya Raju membuat saya sedikit malu mengingat kejadian yang sama saat masih sekolah dulu, bertengkar dengan teman hanya karena masalah sepele. Saya suka dengan Pukat, dia kreatif, tidak pernah kehabisan ide dan ya jelas sangat pintar.

Kakak sulung, Eliana. Meski saya anak bungsu, saya tahu banyak bagaimana perangai dan perasaan seorang sulung –yang ya memang selalu momok menyebalkan buat adiknya jika mengomel. Keberanian Eliana melakukan hal-hal yang diluar kebiasaan anak kecil lainnya membuatnya menjadi seorang yang selalu dipanggil pemberani oleh sebagian besar warga kampung. Saya yakin sangat sedikit gadis kecil yang seberani Eliana mengusir penambang pasir di kampung. Dia memang benar-benar berani.

Keempat saudara itu bukan siapa-siapa tanpa kehebatan kedua orangtuanya. Bapak dan emak. Ah, cerita romantis –sebenarnya dramatik, Bapak memperjuangkan Emak membuatku salut. Jodoh memang tidak ada yang tahu, bahkan pertemuannya pun tidak ada yang bisa menebak. Seperti kalimat yang ada di dalam novel, Kata tetua bijak, manusia memiliki sendiri hari-hari spesialnya. Termasuk salah-satunya hari ketika kita bertemu dengan pasangan hidup. Setelah memiliki anak, mereka mendidik keempat anaknya dengan baik, dan mungkin bahkan bisa dijadikan contoh bagi semua orangtua agar anaknya seberhasil Eliana, Pukat, Burlian dan Amelia.

Dari semua tokoh yang hadir di keempat novel tersebut, terima kasih terdalam buat Tere Liye yang telah menghadirkan mereka. Mereka seperti nyata bagi saya, mereka ada di belahan bumi ini, dan sekarang mereka telah menjadi orang hebat, orang besar. Terima kasih untuk Tere Liye yang menghadirkan keempat novel ini. Menjadikan bacaan yang bukan hanya sekedar novel tapi juga buku pelajaran bagi saya. Pelajaran kehidupan.

Selasa, 23 Februari 2016

Senin, 15 Februari 2016

Saat hujan, ada kenangan yang pulang.


Aku suka hujan.
Mainstream ~ 
Memang sih. Tapi ya inilah, aku suka hujan.
Hujan datang membawa banyak hal, termasuk kenangan.

Kamis, 28 Januari 2016

Menunggu Rumah

Novel Amelia yang ditulis oleh TereLiye membuat saya merenung, menangis lalu berfikir.
Novel ini bukan novel sedih, sama sekali tidak. Novel ini hanya bercerita tentang keseharian seorang anak yang bernama Amelia. Dia anak bungsu.
Ya disitu permasalahannya. Dia anak bungsu. Sama seperti saya yang juga anak bungsu. 
Di sana, dalam ceritanya, dia, Amelia, selalu merasa risih jika kakak-kakaknya menjahilinya dengan cara menyebutnya sebagi si "penunggu rumah".
"Penunggu rumah" maksud yang saya tangkap dari novel itu adalah seseorang yang tak bisa pergi jauh, hanya boleh tinggal di rumah saja. Mungkin saya salah tangkap, atau apalah yang pasti itu yang saya paham.
Lalu? Yaaa... Saya anak bungsu, dan saya rasa saat ini saya jadi si "penunggu rumah".
Padahal jiwa saya, hati saya sudah jauh bertualang, tinggal raga saya saja di sini, di rumah, di kampung halaman.
Bukan, bukan maksud saya tak mau tinggal bersama orangtua, bukan bukan begitu. Anak mana sih yang tak ingin tinggal dengan orangtuanya. Pasti semua ingin. Tapi dengan umur yang masih sangat muda, lalu hanya tinggal di rumah saja. Bagi saya, seperti raga yang hanya bernafas, tak ada jiwa. Tak ada gairah, apalagi semangat.

Selasa, 12 Januari 2016

Ada rindu yang kukirim dalam doa


Aku mengirim rindu
Mengirimnya kepada seseorang yang tak kutahu bagaimana raut wajahnya, sesorang yang tak kutahu di mana ia kini berada

Aku mengirim rindu
Mengirimnya kepada pemilik hati yang Allah pilihkan untuk hatiku

Dan aku mengirim doa
Semoga hamparan sejadahnya semakin didekatkan pada hamparan sejadahku