Selasa, 29 September 2015

pelepas segala atau pemenjara segala?

Manusia tidak perlu harus serakah untuk menjalani kehidupannya. Tapi bagaimana jika malah tak memiliki satu pun? 

Melepas segala yang ada dan membiarkannya tanpa menggenggam satu pun juga terkadang menjadi musibah bagi manusia. Ia akan bersedih dan kesepian oleh ketidakadaan. 

Belajar dari cerita dua manusia yang melepas dan menggenggam erat semuanya menjadi sebuah renungan untuk diri saya sendiri. 

Cerita pertama datang dari seorang teman yang datang dengan senyum tipis namun miris. Ia akhinya tak bisa lagi membendung rasa menyesalnya setelah melewatkan segala yang pernah datang padanya. Dahulu ia termasuk seorang yang banyak mendatanginya, namun tak satupun ia hiraukan, tak satupun ia genggam, karena menurut pembelaannya, ia tak mau membuat yang datang terbelenggu oleh dirinya, ia ingin membebaskan semua jiwa yang ada. Ia ingin semua jiwa bebas, tanpa ikatan apapun, tanpa aturan apapun yang sengaja manusia ciptakan untuk membatasi manusia lain. namun kini, ia sadar atau malah menjadi tak sadar bahwa ada hal yang harus digenggam, harus dipenjarakan oleh jeruji yang kita buat sendiri untuk jiwa orang lain. terlambat. Saat ia mulai membangun jeruji itu, semua tak ada lagi. Semua pergi dan tak pernah datang lagi. 

Cerita kedua malah datang dari seorang teman dengan mata bengkak oleh tangis. Ia mengutuk dirinya sendiri yang serakah. Serakah… ia menamai dirinya serakah saat bercerita pada saya. Dari penuturannya, ia kehilangan segalanya karena keserakahan yang ada di dalam dirinya. Dahulu, ia membangun penjara yang sangat lapang di dalam dirinya. Ia memenjarakan segala yang datang padanya, termasuk jiwa manusia lain. ia ingin menguasai segalanya. Ia ingin memiliki segalanya. Meski lapang, penjara itu pun akhirnya sesak oleh segala sehingga jerujinya rusak dan terbukalah pintu untuk segala itu pergi. Pergi dan tak pernah datang kembali.

Kini keduanya tak memiliki apa-apa. Kini keduanya datang dengan cerita pilu. Saya hanya bisa mendengar kisah mereka dan tak ada saran apapun. Dan karena dari mereka ada pertanyaan besar untuk jiwa , apakah ia pelepas segala atau pemenjara segala?