Kamis, 15 Oktober 2015

Cinta di dalam Gelas



Ini bukan tentang novel karya Andrea Hirata namun ya memang tulisan ini terinspirasi dari novel tersebut.

Ada. Ada cinta di dalam gelas. Ia berwujud kopi atau teh yang diseduh dengan segenap hati dan disuguhkan untuk yang terkasih.

Bicara tentang kopi dan teh, di sinisaya tidak ingin mengajari anda bagaimana menakar mereka bersama gula dalam sebuah gelas. Tidak. Bukan itu. Saya hanya ingin berbagi harapan-harapan saya tentang masa depan yang tentu saja kita tahu bersama kalau masa depan itu dirahasiakan Tuhan bahkan sedetik kemudian pun kita tak boleh tahu rasahasia itu. Biarlah Tuhan membuatnya menjadi sebuah kejutan. Ya namanya juga harapan, kita bebas mengharapkannya, terwujud atau tidak harapan kita ya lihat nanti.

Saya teringat dengan sebuah status teman saya di sebuah media sosial. Katanya begini “sebesar apa kita boleh berharap? – sebesar kita mampu menanggung kecewa

Sebenarnya harapan saya tak muluk-muluk, saya hanya berharap suatu hari nanti saya bisa berbagi cinta yang saya tuang di dalam gelas kepada seseorang yang menerima cinta itu dengan senyuman. Kepada siapa? Saya akan merahasiakannya pada kalian. Dan tentu saja untuk saat ini Tuhan merahasiakannya pada saya. Karena bagi saya cinta di dalam gelas itu hanya untuk seseorang yang telah menjadi pasangan saya yang disahkan oleh agama dan negara.

Di umurku yang sekarang ini, entah sudah berapa gelas yang telah saya seduh untuk orang-orang  di sekitar saya, tapi belum ada cinta di dalam gelas itu. Hanya ada teh/kopi, gula dan air panas. Hambar? Baiklah, saya juga menambahnya dengan perasaan sayang, namun bukan cinta.

Cinta di dalam gelas membuatku hanyut berharap ini itu, dan kepada Sang Pemilik saya meminta seorang untuk kubagi cinta di dalam gelas. Walau satu gelas namun untuk selamanya.

Selasa, 29 September 2015

pelepas segala atau pemenjara segala?

Manusia tidak perlu harus serakah untuk menjalani kehidupannya. Tapi bagaimana jika malah tak memiliki satu pun? 

Melepas segala yang ada dan membiarkannya tanpa menggenggam satu pun juga terkadang menjadi musibah bagi manusia. Ia akan bersedih dan kesepian oleh ketidakadaan. 

Belajar dari cerita dua manusia yang melepas dan menggenggam erat semuanya menjadi sebuah renungan untuk diri saya sendiri. 

Cerita pertama datang dari seorang teman yang datang dengan senyum tipis namun miris. Ia akhinya tak bisa lagi membendung rasa menyesalnya setelah melewatkan segala yang pernah datang padanya. Dahulu ia termasuk seorang yang banyak mendatanginya, namun tak satupun ia hiraukan, tak satupun ia genggam, karena menurut pembelaannya, ia tak mau membuat yang datang terbelenggu oleh dirinya, ia ingin membebaskan semua jiwa yang ada. Ia ingin semua jiwa bebas, tanpa ikatan apapun, tanpa aturan apapun yang sengaja manusia ciptakan untuk membatasi manusia lain. namun kini, ia sadar atau malah menjadi tak sadar bahwa ada hal yang harus digenggam, harus dipenjarakan oleh jeruji yang kita buat sendiri untuk jiwa orang lain. terlambat. Saat ia mulai membangun jeruji itu, semua tak ada lagi. Semua pergi dan tak pernah datang lagi. 

Cerita kedua malah datang dari seorang teman dengan mata bengkak oleh tangis. Ia mengutuk dirinya sendiri yang serakah. Serakah… ia menamai dirinya serakah saat bercerita pada saya. Dari penuturannya, ia kehilangan segalanya karena keserakahan yang ada di dalam dirinya. Dahulu, ia membangun penjara yang sangat lapang di dalam dirinya. Ia memenjarakan segala yang datang padanya, termasuk jiwa manusia lain. ia ingin menguasai segalanya. Ia ingin memiliki segalanya. Meski lapang, penjara itu pun akhirnya sesak oleh segala sehingga jerujinya rusak dan terbukalah pintu untuk segala itu pergi. Pergi dan tak pernah datang kembali.

Kini keduanya tak memiliki apa-apa. Kini keduanya datang dengan cerita pilu. Saya hanya bisa mendengar kisah mereka dan tak ada saran apapun. Dan karena dari mereka ada pertanyaan besar untuk jiwa , apakah ia pelepas segala atau pemenjara segala?

Senin, 27 Juli 2015

Tidak Ada yang Benar-benar Baru dalam Ingatan Saya

Aku berimajinasi, menemukan sebuah peradaban yang melampaui daya fikir manusia zaman sekarang. Sebuah kehidupan yang tak pernah terlintas dibenak manusia manapun di muka bumi ini sejak zaman batu hingga zaman maya yang menyerang kehidupan sosial remaja masa kini.
Tidak ada cara lain selain kapsul waktu yang sering digunakan tokoh anime-anime, aku juga berimajinasi menggunkan kapsul itu. Meminum atau masuk ke dalam kapsul itu, aku belum memikirkannya, tapi bagiku satu satunya cara untuk mencapai peradaban yang akan kutemukan itu adalah dengan menggunakan kapsul waktu.
apa yang akan aku lakukan di peradaban itu? Aku juga belum memikirkannya, yang ada dibenakku saat ini hanya menemukan peradapan itu.
Waktuku dimulai detik ini, kapsul. Aku harus bertemu kapsul waktu. Dipertemukan, menemukan atau ditemukan semua bagiku sama saja, yang penting aku bisa menggunakan kapsul itu.
Enam hari kemudian, entah itu keajaiban atau memang karena usaha kerasku, aku menyentuh kapsul itu, kugunakan lalu semua menjadi aneh. Aku menemukan peradaban itu.
Hal yang paling signifikan perubahannya adalah tanah. Sejauh mata memandang, tak ada tempat untuk dipijaki, atau memang tak ada tanah di peradaban itu? Semua melayang!
Rumah tersusun rapi, berpetak-petak tapi tetap melayang.  Mobil? Aneh, bentuk dan rupa layaknya mobil tapi terbang bak sebuah pesawat. Peradaban ini canggih, luar biasa!

Tigapuluhenam detik kemudian, aku sadar, ini aneh, ini seperti sudah tak asing, peradaban ini sudah pernah ada dalam fikiran seseorang bahkan banyak orang.


Kamis, 11 Juni 2015

Believe

Rencana Tuhan untuk umatnya selalu indah. yakinlah!

Selasa, 02 Juni 2015

Rabu

“Besok hari Rabu. Jika ini hari terakhirku, Rabu akan menjadi hari favoritku.”
--- kutipan dari salah satu sajak Aan Mansyur dalam bukunya ‘Melihat Api Bekerja’


Tidak, tidak mungkin aku menghianati hari Kamis. Aku tetap mencintai hari Kamis lebih dari hari manapun. Jadi jangan beranggapan kalau aku akan berkhianat.

Tapi untuk kali ini, dalam tulisan ini, aku ingin mengunggapkan rasa kagumku pada Rabu.

Tepat seminggu yang lalu, di hari Rabu, aku menerima begitu banyak kejutan, –kau tahu kan aku menyukai kejutan. Eh, tidak, ini lebih dari kejutan, ini hadiah dari Tuhan. Tuhan menghadiahkanku begitu banyak hal baru di hari Rabu seminggu yang lalu.

Senin, 18 Mei 2015

Batu Dinding Balikpapan



Ngetrip itu seperti candu, bikin ketagihan setengah mati.

Aku paling semangat kalau dengar kalimat "yok, jalan-jalan yok!" hahahaha.. aku memang ketagihan jalan-jalan. apalagi kalau destinasinya alam. wiihhh aku paling suka tuh ke tempat yang masih alami banget. suka juga sih ke tempat yang udah ada sentuhan modern-nya tapi tetep harus ada unsur alamnya.hhhh

minggu kemarin, aku ke batu dinding balikpapan. wiihhh keren banget!tapi yaa segala sesuatu butuh pengorbanan guys. untuk sampai di sana, harus menempuh berpuluh-puluh kilometer menggunakan kendaraan, terus disambung berkilo-kilo jalan kaki sambil mendaki.
Tapi yakinlah, semua lelahmu bakalan terbayar pas sampai di sana.

Batu dinding Balikpapan, bisa kubilang layaknya tembok besar china. tapi ini belum tersentuh modernisasi. masih alami banget.





 saran:

- kalau mau ke sana, usahakan olahraga ringan sebelumnya agar fisik bisa tahan.
- kalau mau timing yang bagus, datang pas sunrise, kalau startnya dari balikpapan kota, usahakan berangkat jam 3 subuh.
- gunakan kendaraan roda dua aja kalau ke sana.
- bawa kamera
- jangan lupa tongsis
- gak usah bawa banyak bekal, di sana ada penjual cemilan dan minuman kok.
- cari hari yang bukan hari libur, soalnya kalau hari libur banyak orang, jadi spot untuk foto-foto keren kurang.
- jangan buang sampah sembarangan di sana.
- jangan corat-coret batu.
- cintai tempat wisata yang ada di Tanah Air kita, Indonesia.


Sabtu, 25 April 2015

Bisu


Aku ingin bercerita padamu
Tentang apapun yang kualami
Tentang semua yang  kulihat

Aku ingin bercerita padamu
Tentang langit sore ini
Awan dan warna jingganya

Aku ingin bercerita padamu
Tentang kicauan burung
Suaranya sungguh merdu

Aku ingin bercerita padamu
Tentang anak kecil dipinggir jalan
Mereka tertawa lepas tanpa beban

Aku ingin bercerita padamu
Apapun itu

Tapi aku bisu, sayang



*puisi ini juga bisa anda temukan di buku kumpulan puisi Malaikat Tanpa Sayap

:')

"Hidup itu memang gak selalu enaknya saja, kadang masalah datang. Yang penting selalu berdoa, dan jangan mengeluh, dan yang paling penting buat ila, jangan cepat bosan." -Mama


Hopeless

Bukankah kita semua mempunyai impian. Lalu apa impianmu? 
Bagaimana jika impian itu menghindarimu, menjauh dan hilang di persimpangan jalan. 
Apakah kau tetap berusaha mengejarnya? Meski berpeluh darah dirimu, atau meski penolakan dari orang-orang yang ada di sekitarmu, yang kamu sayangi dan menyayangimu?

Apa perlu kita mengorbankan mereka demi impian kita? Atau perlu kah kita merelakan impian itu demi mereka. 
Bahagia. 
Seperti apa bahagia itu? Apakah dia ada saat impian tergenggam atau saat orang-orang melimpahi kita kasih sayang?
Aku? (tertawa) jangan tanya aku.
Jangankan defenisi bahagia, tujuan hal-hal berwarna putih itu diciptakan pun aku tak tahu.

Aku tak tahu apa pun. Kau tak percaya? 
Percayalah, karena menurutku jika kau benar-benar sudah merasa tak lagi menggenggam alasan untuk bersemangat, maka kau sudah tak mengetahui apa-apa. (tertawa lagi)

Jumat, 20 Februari 2015

ILa sayang mama papa banyaaaaakk sekaliii


Seperti biasanya, ila tidak pernah bisa menulis sesuatu yang ‘waw’ untuk mama papa.
Kata-kata yang biasa ila gunakan untuk membuat sajak seakan lenyap begitu saja. Bagi ila, tak ada tulisan yang cukup indah untuk menggambarkan betapa indahnya mereka.

Malam ini, ila gak nulis sajak puitis atau apapun itu. Malam ini, ila Cuma mau bilang, “ila sayang mama papa banyaaakkk sekaliiiii”

Kalimat itu seperti menyihirku kembali ke masa kanak-kanak. Masa segala sesuatunya tak mengenal sungkan atau malu untuk mengungkapkan rasa. Mau mengatakan ini, ya tinggal bilang, mau mengatakan itu, ya tinggal ngomong. Tak ada ganjalan.

“ila sayang mama papa banyaakk sekaliii” kalimat itu disusul pelukan hangat. Ahh sungguh hangat.

Kamis, 12 Februari 2015

Gadis kecilmu rindu, Ayah.

Beberapa hari lalu aku menelfonmu, dengan malu-malu aku mengatakan bahwa aku rindu.

Aku benar-benar rindu, Ayah. Namun gadis -yang masih kau anggap kecil ini selalu malu mengutarakannya. Lima bulan lulus kuliah, dan sebulan merantau jauh darimu untuk meraih harap semoga bisa mandiri, tak membebanimu lagi dalam hal materi, namun mungkin malah semakin membebanimu dalam hal kekhawatiran.

Kekhawatiranmu malah kadang mengalahkan segalanya. Apakah Ayah ingat saat aku hendak ke pulau jawa untuk pertama kalinya? Karena beberapa insiden kecil di Bandara, Ayah hampir saja melarangku pergi. Namun setelah aku dan kawanku meyakinkan Ayah bahwa semua akan baik-baik saja, akhirnya Ayah merelakanku pergi walau beberapa hari kemudian Mama memberitahuku bahwa Ayah sempat meneteskan air mata di dalam mobil masih di parkiran bandara karena terlalu khawatir dengan keadaanku. -sungguh maafkan aku Ayah atas hal itu, aku benar-benar berdosa telah membuatmu meneteskan airmata.

Selasa, 10 Februari 2015

Am I 'Polos' or 'Bego' ?

Pertanyaan yang akhir-akhir ini sering mengganggu fikiranku.

Seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia, menawarkan senyum, tawa dan kejujuran kepada siapapun. Namun di sisi lain, dia bak orang yang tak berilmu, dipermainkan, ditertawai, bahkan ditipu tidak hanya oleh orang lain, bahkan dirinya sendiri.

Saya 'polos' atau 'bego' ?
entahlah... mungkin polos tidak tepat, sebab aku bukan lagi anak kecil. Bego? ah bukan juga, aku hanya mencoba untuk selalu jujur, berusaha menjaga kepercayaan mereka.
so, what am I?

ini bukan masalah 'hati', jangan, jangan kalian sangkut pautkan dengan kekasih. Ini hanya masalah manusia yang tak punya kegiatan rutin dalam kesehariannya.


Kamis, 29 Januari 2015

RINDU


Selamat Hari Kamis, Manis. ^^


Rindu. Rindu dalam KBBI diartikan  sangat ingin dan berharap benar terhadap sesuatu. Ada banyak kerinduan di dunia ini, Ada  rindu pada seseorang, rindu pada pekerjaan, rindu pada sekolah, rindu pada suatu tempat, rindu pada mainan, atau mungkin ada rindu untuk diriku. hhh

Pagi ini, di daratan yang jauh dari tempat kelahiranku, aku merasakan sesuatu yang mengganjal di dalam dada, sesuatu yang membuatku harus menahan nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. sesuatu yang mungkin bisa kunamakan rindu.

Ada rindu di sana yang hendak tumpah yang mungkin membujuk air mata atau memaksa tawa.

Aku tidak sedang rindu pada seorang kekasih yang jauh. Itu mungkin hanya dirasakan bagi mereka yang sedang kasmaran. Mereka rindu ingin bertemu, mungkin rindu bertatapan muka, melihat wajah mereka satu sama lain, memerhatikan perubahan-perubahan di senyum yang tersungging, adakah masih seperti dulu atau telah pudar, atau rindu berjalan beriringan di pinggir pantai dan rindu-rindu lain yang dirasakan oleh kekasih. Aku, tidak!

Rinduku sederhana. Rindu pada masa yang kulewaati, masa yang bisa membuatku bebas, bebas tertawa, bebas merasakan bahagia. Rindu pada benda yang dulu membuatku kuat, kuat tertawa, kuat merasakan bahagia. Rindu pada tempat yang dulu membuatku tulus, tulus tertawa, tulus merasakan bahagia. 

Aku ingin merasakan rindu dalam kesendrian, namun, semakin aku membawa dan menemukan diriku berada di masa, benda dan tempat yang kurindukan, semakin aku mendengar suara-suara yang menyebut namaku, berbisik di telingaku dengan lembut. Adakah seseorang atau beberapa orang yang kurindukan? Tidak! aku tidak ingin merindukan seseorang atau beberapa orang itu, aku hanya ingn merindukan masa, benda dan tempatnya. Karena aku telah menganggap mereka tiada meski belum mati. Lalu dalam hati kecilku berkata 'bukankah ketiadaan itu yang kadang dirindukan?'

Entahlah, detik ini aku terhenti. Aku ingin menata ulang rindu yang kurasa.