Minggu, 16 November 2014

Man Jadda Wa Jadda




 Sebuah cerpen yang telah dimuat di media cetak. 
Terinspirasi dari perjuangan teman-teman setim saat menyusun proposal untuk PIMNAS...
        
   
 Langit sedang mendung saat aku dan ketiga kawanku duduk di taman kampus. Banyak hal yang kami bicarakan. Mulai dari masalah-masalah kuliah sampai hal-hal konyol yang membuat mata mereka yang sedang melewati taman tertuju pada kami yang mengeluarkan suara keras saat tertawa. Kebiasaan itu sudah kami lakukan sejak pertama masuk kuliah. Meskipun kami bukan dari jurusan yang sama namun pertemanan kami sangat erat. Bisa dibilang taman di pojok lapangan merupakan tempat favorit kami. Bagaimana tidak, setiap ada waktu luang kami pasti ngumpul di sana. Tidak seperti mereka yang menghabiskan waktu luang di luar kampus atau lebih sering jalan-jalan ke mall. Bagi kami jalan-jalan ke mall itu sangat tidak penting untuk dilakukan. Selain menghabiskan waktu dan uang, tenaga juga terkuras. Kami sepakat untuk menggunakan waktu luang untuk berdiskusi di bawah pohon rindang yang kami beri nama “Si Ijo”. Namun, sepertinya kata “diskusi” hanya sekedar ucapan saja. Buktinya, kami lebih sering bergosip, dan cengengesan tertawa di sana.
            “Eits, hampir lupa,” Lia memukul dahinya.
            “Apa? Lupa apa?” seperti dikomando, kami bertiga serempak bertanya hal yang sama pada Lia.
            “Ini ada lomba karya ilmiah, kalian mau ikut nggak?” tanya Lia antusias
            “Bagus tuh, ikut yuk!” ajak Baim.
            “Iya, daripada kita gak ada kerjaan, cuma nongkrong di sini, bagaiamana kalau mencoba sesuatu yang baru,” Yatni menambahkan.
            “Aku ikut kalian aja deh... hehehehe” ucapku disambut ‘huuuu’ dari ketiga teman-temanku.
            Akhirnya kami berempat disibukkan oleh lomba karya ilmiah itu. Namun, ternyata pembuatannya tidak semudah yang kami bayangkan. Kami baru tahu kalau lomba karya ilmiah yang dibawa Lia kepada kami ternyata bukan lomba karya ilmiah seperti biasanya. Lomba ini memiliki serentetan persyaratan. Dan syarat yang paling wajib dipenuhi adalah, bukan hanya sekedar menulis karya ilmiah, namun tulisan itu harus berupa laporan kegiatan. Jadi intinya, selain menulis kita juga harus bekerja di lapangan.
            “Yakin mau ikut lomba ini” tanya Baim.
            “Iya, kalian yakin? Sepertinya berat loh,” Yatni menambahkan.
            “Pokoknya kita harus ikut! Berat atau ringan gak masalah yang penting jalan. Ayolah kawan-kawan, masa begini aja kita nggak bisa. Bagaimana, Ca?” Lia melirikku.
            “Aku mah ikut kalian aja...” ucapku cuek.
            “Huuuu... dari tadi yang kamu katakan itu mulu,” Yatni memanyunkan bibirnya.
            “Ok... ok... benar kata Lia, nggak ada salahnya kita coba,” entah mengapa Baim terlihat bijaksana saat itu, ya mungkin saat itu saja. Aku tertawa dalam hati melihatnya.
            “Sip deh, nggak ada penolakan lagi. Besok kita mulai bekerja!” Sudah pasti lia yang menjadi ketuanya, dia yang paling bersemangat.
###
            Setelah berembuk, akhirnya kami memilih untuk membuat karya ilmiah yang berhubungan dengan pengabdian kepada masyarakat. Sebelum memulai menulis, kami terlebih dahulu harus menentukan lokasi penelitian, dan salah satu desa yang letaknya lumayan jauh dari kampus menjadi pilihan kami. Desa ini sebenarnya tak begitu jauh dari pusat kota, namun entah mengapa keadaan di desa ini menyedihkan. Bisa dibilang desa ini sangat tepencil. Sekolah formal untuk menengah atas saja tidak ada, karena itu masyarakat desa ini kebanyakan hanya lulusan SMP.
            Baim memang jago dalam hal seperti ini. Tak salah kalau ia kami juluki si penjelajah. Hampir seluk beluk kota kami ia tahu, dan tentunya dari dia kami dapat info desa ini. Untung Yatni yang taraf kehidupannya juara diantara kami rela membawa mobil merahnya memasuki desa meski dengan jalanan yang sama sekali belum tersentuh oleh mulusnya aspal. Sempat mengeluh sih, tapi melihat semangat Lia yang melebihi semangat 45, Yatni sepertinya merasa keluhannya akan sia-sia.
            Dalam dua minggu ini, sudah beberapa kali kami ke desa itu, lelah juga sih harus bertanya ini itu pada masyarakat, untungnya kepala desa di sana sangat baik dan terbuka, jadi segala kegiatan kami di sana berjalan lancar. Karena proses pengambilan data dan perencanaan kegiatan sudah kami jalankan, maka kini saatnya kami menulis karya ilmiah itu.
            “Melelahkan juga ya...” aku mulai mengeluh.
            “Iya, capek urus ini terus, mana tugas kuliah juga numpuk... huuuffttt,” Yatni ternyata juga sama denganku.
            “Masa gitu aja kalian udah nyerah.Ampun deh ini Lia, dia gak sedikitpun menjadikan ini beban.
            “Aku juga sih, lelah. Tapi kita sudah sejauh ini, tinggal sedikit lagi karya ilmiah kita selesai.” Baim berkomentar lalu diam. Lalu tiba-tiba hening, tak ada suara dari kami. Entahlah apa yang ada di fikiran masing-masing yang pasti aku merasa sangat lelah mengerjakan semua tentang karya ilmiah itu.
            “Jadi?” Lia menatap kami satu-satu.
            “Jadi apa?” Yatni mengerutkan keningnya.
            “Jadi kalian mau lanjut atau tidak? Percuma melanjutkannya kalau kalian tak sungguh-sungguh, hanya setengah hati, atau malah karena tidak enak dengan aku yang sejak awal menggebu-gebu ingin ikut lomba ini,” ucap Lia, lalu kemudian semua terdiam lagi. Atmosfir diantara kami juga tiba-tiba berubah menjadi aneh, ada ketegangan yang kurasa. Apa Lia kecewa pada kami? Tanyaku dalam hati.
           Man jadda wa jadda,” suara Baim terdengar lantang dan berhasil membuat kami bertiga kaget setengah mati. “Man jadda wa jadda kawan-kawan, siapa yang bersungguh-sungguh dia yang mendapatkan. Ayo kita lanjutkan apa yang telah kita mulai, seberat apapun itu. Aku yakin kita pasti bisa.”
            Aku seperti terhipnotis kata-kata itu. Semangatku menjadi menggebu-gebu, “Iya! Ayo kita selesaikan karya ilmiah ini.” Yatni pun berkata hal yang sama, dan sebuah senyum manis terbentuk di bibir Lia.
            Karena mantra Manjadda wa jadda, akhirnya karya ilmiah itu selesai dalam waktu yang singkat.
###

            Sebulan lebih setelah pengumpulan karya ilmiah. Kami tak pernah membicarakannya lagi, mungkin lupa atau pura-pura melupakan. Saat ritual ngumpul di bawah ‘si ijo’ kami lakukan, tiba-tiba Lia mengacak-acak tasnya lalu mengeluarkan selembar kertas. “Nih, pengumuman lomba kemarin,” katanya tanpa ekspresi.
            Aku langsung menyambarnya dan memfokuskan mata pada nama-nama yang tertera di sana. Aku memanyunkan bibir, “nama kita tidak ada, kita tidak lolos.” Yatni mengambil kertas yang ada di tanganku, disusul Baim. Semua terdiam. Kecewa, aku yakin semua pasti kecewa.
            Tiba-tiba Baim mengambil nafas panjang lalu menghembuskannya, “ini kan lomba, pasti ada kalah ada menang. Ya sudah kalau kita tak lolos,” dia tersenyum.
            “Tapi kan kau yang bilang Manjadda wa jadda, siapa yang bersungguh-sungguh dia yang mendapatkan, tapi lihat, apa yang kita dapatkan, tidak ada!” kataku sambil melipat kedua tangan. Lia hanya diam.
            “Siapa bilang kita tidak dapat apa-apa. Kita memang tidak menang dalam lomba itu tapi kita menang di banyak hal. Coba ingat kembali, dalam mengerjakan karya ilmiah ini, kita telah mengalahkan ego kita, kita telah mendapatkan banyak pelajaran dari penduduk desa, kita bisa semakin menguatkan, aku juga merasa karya ilmiah ini membuatku semakin memahami bagaimana cara menulis ilmiah yang baik. Jadi kita telah mendapatkan banyak hal dari kerja keras kita, kawan-kawan,” kata-kata Yatni membuat kami saling berpandangan dan menyunggingkan senyum terbaik. Benar katanya, kami memang tidak menang, tapi kami mendapatkan banyak hal dari sana.
            “Ahhh... Yatniiii, kau sungguh bijak,” Lia memeluk Yatni.
            “Mau dong dipeluk juga,” Baim cengengesan.
            “Jiaaahhhh...” kami bertiga memuku Baim, lalu tertawa terbahak-bahak seperti  biasanya.
            “Kita memang gagal kali ini kawan-kawan, tapi lain kali kita pasti menang!” Lia mengepalkan jarinya lalu mengangkatnya tinggi-tinggi, semangatnya memang selalu juara diantara kami. Aku tersenyum kagum padanya.


Ila aswil

1 komentar:

  1. Man jadda wa jada, yg terakhir tdk tasydid atau dobel huruf "d". Krn kalau dobel, lain lg artinya :)

    BalasHapus