Sabtu, 31 Agustus 2013

Fa Dalam Perantauan Ilmu

Akhirnya ketemu cerpen ini lagi... sudah lama cerpen ini saya buat tapi entah kenapa hilang begitu saja di folder-folder yang ada di PC, dan malam ini saya menemukannya lagi. Jadi agar tidak hilang lagi, saya menyimpannya di sini saja, dan semoga ada yang membacanya. hehehehe...

Sebenarnya penulisan cerpen ini terinspirasi dari dua orang yang 'mungkin' tisak saling kenal dan berada di tempat yang berbeda. Satu di Bogor dan satu di Jogja.

Alasan lain saya posting cerpen ini adalah sebagai ucapan terimakasih buat mereka berdua yang banyak memberi inspirasi. "semoga mereka bisa membaca cerpen ini... :D"

Silahkan 'nikmati' cerpen ini....



Fa dalam Perantauan Ilmu

Entah apa yang ada di kepalaku saat itu sehingga aku melakukan hal sejauh ini. Kini aku berada jauh dari kedua orang tuaku, jauh dari kampung halamanku, jauh dari teman-temanku, jauh dari segala yang telah membesarkanku. Tapi nasi sudah menjadi bubur, semua telah terlanjur. Aku harus menjalaninya.
            Menginjak masa perkuliahan, aku mendaftar di salah satu universitas ternama di kota pelajar, Jogja. Bagiku, kota itu merupakan surga bagi orang-orang yang haus akan ilmu. Sejak dulu memang aku mengidam-idamkan untuk melanjutkan study di sana. Karena itu saat keluar hasil pengumuman kalau aku lulus, girangnya bukan main. Aku merasa ada di awan, melayang. Dan lagi izin dari orangtua sudah kukantongi.
            Tapi saat ada di sini, tepat seminggu di sini, aku merasa keputusanku dulu kurang tepat. Aku merasa tidak mampu beradaptasi di sini, ternyata jauh dari orangtua itu sungguh sangat tidak mengenakkan. Sebelumnya semua kebutuhanku tiap hari disediakan oleh orangtua, kini aku harus menyediakannya sendiri. Berat rasanya. Namun aku harus bertahan dan melanjutkan apa yang telah kuputuskan sendiri. Entah mengapa aku merasa keadaan tradisionalnya masih sangat kental. Aku menghibur diri dengan menikmati  keadaan Jogja yang tenang dan damai. Selain itu, kota ini memiliki banyak toko buku maupun perpustakaan. Dan memang itu semua yang membuatku sangat tergila-gila untuk menutut ilmu di Jogja.

Rabu, 28 Agustus 2013

Alhamdulillah

Sungguh besar nikmatmu ya Allah... terima kasih atas segalanya. ^^

Minggu, 18 Agustus 2013

Tak Lagi Bersua(ra)

Adakah sebuah ingatan yang abadi?
Tak terlupa pada yang seharusnya tak terabai
Mengingat segala yang harus dikenang

Adakah wajah yang berubah
Adakah suara yang tak lagi sama
Aku bertanya
Karena kita tak pernah lagi bertemu
Karena kita tak pernah lagi berbicara

Sepertinya Aku Rindu Kalian

02:45 tadi subuh aku terbangun. Mimpi yang seperti kenyataan tiba-tiba buyar, hilang bak asap yang terkena tiupan angin.

Namun, saat terjaga pun, aku masih merasakan mimpi itu, masih terekam jelas apa yang ada di dalam mimpi itu. Mereka, yaaa aku melihat mereka. Mereka yang dulu memberi warna dalam hidupku, mereka yang dulu memberiku banyak canda tawa. Mereka adalah teman-teman SMP-ku.


Entah mengapa aku memimpikan mereka. Atau jangan-jangan aku merindukan mereka? Ya, sepertinya memang begitu. Wajah-wajah yang lugu dan penuh tawa sungguh memenuhi fikiranku subuh tadi.

Adakah diantara kalian yang membaca ini? aku sepertinya merindukan kalian... 

Kamis, 15 Agustus 2013

Kamis


Hari ini spesial, tapi alasan mengapa hari ini spesial masih kupertanyakan. Tak ada! jika aku harus menjawabnya.

Tapi entah mengapa aku menunggu hari ini. Mungkin karena hari ini hari 'kamis'. Lalu, apa spesialnya hari kamis? *bingung

Tak ada yag spesial di hari kamis. Hari kamis sama halnya dengan hari yang lainnya, memiliki 24 jam. Lalu? entahlah, aku juga bingung....

Sejak dulu aku menyukai kata 'kamis'. Mungkin karena kedengarannya mirip dengan kata 'manis' dan mungkin karena mirip dengan namaku sendiri.

Kini aku bisa menyimpulkan, kalau aku hanya menyukai KATA 'kamis' bukan menspesiakan HARI-nya.

Selasa, 13 Agustus 2013

Kawah Putih Bandung

Ada apa ini.... kok jemari saya lagi pengen nulis tentang Kawah Putih yang ada di Bandung. itu loh tempat wisata yang kueren abisss... saking kerennya beberapa film menjadikan tempat wisata ini sebagai lokasi syuting.

Ke kawah Putih udah lebih dari setahun. waktu itu bareng dua sahabat "nyasar" aku. Kenapa aku bilang "nyasar", karena mereka berdua adalah sahabat yang gak kapoknya jalan kesana kemari meski kami sudah nyasar. hahahahaha

Kawah Putih terletak di daerah pegunungan, makanya suhu di sana dingin. Kesana aja lewatin tanjakan dengan jalanan yang berkelok-kelok. Tapi pemandangan sepanjang jalan wiiihhhh kereeeennn... apalagi kita disuguhin sama perkebunan Strawberry. uuuhhhh mantap abiss daahh...

Pokoke kalau ke Bandung, jangan sampai deh gak ke Kawah Putih, bakalan nyeseeeeellll..... ^^


Belajar Mensyukuri waktu

Manusia memang tak pernh merasa berkecukupan dalam hidupnya. Diberi ini minta itu, ada ini mau itu, dan blablabla lainnya.

Sama halnya dengan waktu, manusia kadang lupa bersyukur dan tak menyadari betapa berharganya waktu yang dihadiahkan oleh Allah SWT. Diberi waktu sibuk maunya istirahat, diberi waktu istirahat lama katanya bosan jadi mau sibuk. yaaa begitulah tingkah manusia.

Tak luput dengan diriku, aku akui aku memang kadang lupa mensyukuri segala nikmat yang Allah beri untukku. Nikmat waktu yang selalu kusia-siakan kadang balik menikamku saat kesibukan dan waktu sempit menghampiri. Namun, di saat aku tengah berada di waktu 'nyaman' tak ada yang mengejar, aku berleha-leha menyia-nyiakannya. Ahh sungguh sebuah kebiasaan yang harus dimusnahkan.

Beberapa detik sebelum menulis ini, aku mengeluh kebosanan tak tahu harus berbuat apa dengan waktu yang panjang lengang ini. Padahal jika difikir, terlalu banyak kegiatan positif yang telah kusia-siakan.

Tak mau larut dengan kemalasanku, aku mencoba membunuh kebosanan dengan menciptakan beberapa karya dalam lembaran. Mungkin dengan begini, aku bisa sedikit belajar mensyukuri waktu yang ada dengan melakukan hal kecil yang positif daripada merenung dan memanjakan diri.

Waktu sangat penting untuk kita syukuri.
Aku mengajak diri sendiri dan kalian untuk meninggalkan keluhan tentang waktu yang kadang kita anggap tak bersahabat. Jadi mari kita gunakan semua anugrah waktu kita dengan hal positif meski itu kecil, karena hal besar selalu berawal dari hal kecil.


_ Tulisan ini sebagai pengingat untuk diriku yang kadang menyia-nyiakan waktu _

Sabtu, 10 Agustus 2013

AKU, SKRIPSI DAN EMAK



Cerpen yang telah dimuat di Surat Kabar Kampus Unhas, Identitas.



“Nih, ada surat untukmu.” Caka teman satu pondokanku menyodorkan sebuah amplop kecil.
            Belum kubuka amplop itu, Putra teriak dari lantai atas, “Hari gini masih surat-suratan… romantis banget…” disusul tawa dari seluruh penghuni pondokan yang ada saat itu.
            “Hus… ini dari Emak di kampung tahu!” kataku
            “Kirain dari si ehem..ehem…” Putra kembali menggoda tapi aku tak menghiraukannya.
            “Lah, kok masih pake surat? Sekarang kan sudah ada alat komunikasi yang canggih, Handphone.” Riko si wajah bule angkat bicara.
            “Di kampungku signal belum ada Rik, lagian Emak tak punya HP. Jadi selama kuliah aku cuma bisa berkomunikasi lewat surat. Itupun jarang, kalau ada yang penting saja.”
            “Berarti kali ini ada yang penting Jar. Kalau ada apa-apa bilangin kita-kita ya…” ucap Riko sambil berlalu menuju kamarnya.
            “Iya, memang sepertinya ada yang penting.” Gumamku. Dengan sejuta penasaran, aku segera menuju kamar yang ada di lantai dua. Kubuka pintu dan masih memandangi amplop yang di depannya bertuliskan  -Untuk Fajar di Makassar-  kutaruh tas di samping lemari, lalu duduk di tepi ranjang. Kubuka amplop putih itu. Entah mengapa perasaanku jadi tak karuan. Detak jantung menjadi semakin kencang. Amplop itu sedikit basah karena tanganku yang mengeluarkan keringat berlebih. Aku takut di dalam amlpop itu ada berita yang tak bisa kuterima. Tapi kucoba untuk menenangkan diri sebelum membaca kertas yang isinya kutahu jelas bukan tulisan Emak. Pikiranku semakin kacau, mengapa bukan Emak sendiri yang menulisnya? tanyaku pada diri sendiri.  Aku memulai membaca surat itu, pertama-tama aku membalas salam dari awal isi surat itu, kulanjutkan membaca dengan sangat teliti. Sesekali kunaikkan ujung kacamataku. Dengan wajah yang tegang kuresapi satu per satu kalimat surat itu. Dua lembar, cukup panjang namun hanya mengabarkan satu pesan pilu, Emak sakit. Sakitnya parah dan dia ingin aku segera pulang.
            Selesai membaca surat itu, aku terdiam, lama… hingga aku memiliki tenaga untuk melipat kertas itu dan memasukkannya kembali ke dalam amplop. Kurebahkan diri di tempat tidur. Kupandangi langit-langit kamarku yang penuh sarang laba-laba. Tak terasa empat tahun sudah aku meninggalkan kampung dan Emak untuk menuntut ilmu tanpa pulang sekalipun. Aku sudah berjanji untuk tak kembali ke kampung sebelum kupersembahkan secarik kertas kepada Emak yang menandakan bahwa aku telah menuntaskan tugasku untuk meraih gelar sarjana. Tapi kali ini Emak sakit, sakit keras kata surat itu dan dia ingin aku segera pulang. Sekarang tak mungkin aku pulang, saat ini aku sedang mengurus skripsi dan sebentar lagi akan selesai. Lagian, aku tak mungkin mengingkari janjiku pada diri sendiri untuk tidak pulang ke kampung sebelum mendapat ijazah. Kututup wajah dengan kedua tangan, aku harus bagaimana?
            Tak terasa aku tertidur, dan bangun saat adzan magrib berkumandang. Kukira aku hanya bermimpi kalau Emak sakit, tapi ini nyata, surat itu masih ada di samping tanganku, tergeletak di kasur. Aku beranjak dari tempat tidur dengan perasaan dilema, antara pulang atau tetap tinggal menyelesaikan skripsiku. Untuk menemukan jawaban saat keadaan seperti ini, aku pasti memintaNya untuk membantuku. Selesai shalat magrib, kali ini doaku sangat panjang dan diakhiri dengan mendoakan kedua orangtuaku yang mencurahkan seluruh kasih sayangnya padaku, kutahu itu pasti.
            Kubuka laptop, lalu kucari file dengan judul skripsi. Malam ini aku harus segera memperbaiki tulisan-tulisanku yang kata dosen pembimbing harus diubah. Belum selesai beberapa bagian, aku teringat Emak kembali. Konsentrasiku pada skripsi menjadi buyar. Aku tak bisa menyelesaikan perbaikan skripsi malam ini. Aku menutup laptop, mataku kembali melirik surat dari kampung. Perasaanku kembali kacau, aku benar-benar bingung tak tahu harus melakukan apa.

Kaladi di Subuh Hari



             



5:33, aku berjuang untuk tidak tidur kembali setelah sahur dan shalat subuh. Aku memaksa mataku tetap terbuka dan melawan rasa kantuk yang selalu bekerjasama dengan rasa malas untuk beranjak dari tempatku menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Ya, aku memang sering tidur tanpa melepas mukenah. Hahahaha -ini jangan di contoh!
            Tapi subuh kali ini beda, aku segera melepas mukenah, menyimpannya lalu mengambil peralatan paling ampuh untuk mengusir rasa kantuk, laptop dan Hp. Sebenarnya sih di sini tidak ada signal, tapi Hp kan bisa memutar musik. Hehehehe…. Dan, seperti biasa, laptop kujadikan tempat untuk menuang segala rasa dan kata yang sudah sesak di dalam diriku (baca: hati dan fikiran).
            Pagi ini sungguh indah. Aku benar-benar merasakan sejuknya udara pagi, terlebih tempatku saat ini adalah tempat dimana udara segar berlimpah. Ahh… tak terhitung lagi berapa kali aku menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati karunia-Nya.
            Sensasi udara segar tak datang sendiri sebagai karunia-Nya pagi ini, sapaan mentari yang muncul perlahan menjadi pemandangan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Kicauan burung-burung diselingi sahutan ayam seperti lebih merdu dari Mp3 yang sedang bersenandung di Hpku. Ahhh ini benar-benar  hadiah dari Allah yang luar biasa. Aku menyesal kemarin-kemarin terlena dengan rasa kantuk dan malas.
            6:16, matahari telah menerangi segalanya. Kemanapun arah mataku memandang, aku disuguhi oleh hijaunya alam. Pepohonan yang tinggi menjulang serta gunung-gunung yang kokoh berdiri menjadi pemandangan yang luar biasa. Langit yang berwarna abu-abu secara perlahan membiarkan awan-awannya bergerak untuk menunjukkan cantiknya biru cerah.
            Tempat ini benar-benar indah, tempat ini adalah hadiah bagi mereka yang bersyukur…

Kaladi Darussalam, 20 Juli 2013