Minggu, 25 November 2012

SEJARAH DAN KESUSASTRAAN ZAMAN JOODAI DI JEPANG




1. Garis besar kesusastraan zaman Joodai
Joodai bungaku disebut juga sebagai kesusastraan zaman Yamato, karena kegiatan politik serta kebudayaan pada zaman tersebut berpusat di Yamato. Joodai bungaku ini dapat dipastikan berakhir ketika ibukota pemerintahannya pindah ke Heian pada tahun 794, tetapi permulaannya tidak dapat diketahui secara pasti. Usaha penyatuan negara Jepang mengalami kemajuan sekitar abad IV sampai abad V dan di bawah dinasti yamato ini didirikan menjadi sebuah negara kesatuan. Penerimaan kebudayaan Cina sudah terjalin sejak abad ke III. Dan pada abad ke VII dan ke VIII Jepang mengirim utusan yang disebut Kenzuishi dan Kentooshi untuk mengimpor kebudayaan Cina, seperti cara pembuatan istana, dan undang-undang yang menjadi dasar negara. Selain itu buku-buku pun banyak di datangkan dari negeri Cina. Dalam bidang pemikiran (shisooshi) pun seperti Juukyo (konfusianisme) dan pemikiran Roosoo (Lao Tzu dan Chuang Tzu) cukup banyak penggemarnya. Di samping itu agama Budha juga masuk ke Jepang dan mendapat penganut yang tidak sedikit, terutama diantaranya bagi Shootoku Taishi dan Kaisar Shoomu. Selama itu banyak sekali dibuat patung-patung dan kuil-kuil Budha, antara lain Hooryuji dan Toodaiji.
Di antara unsur-unsur kebudayaan Cina yang diimpor, yang sangat berpengaruh dan membuka lembaran baru pada kesusastraan Jepang adalah tulisan kanji. Berkat ada tulisan kanji orang Jepang dapat menulis kesusastraannya. Selanjutnya tulisan kanji dikembangkan sampai menghasilkan huruf hiragana dan katakana, sehingga meletakkan dasar perkembangan kesusastraan. Kesusastraan yang di tulis huruf hiragana dan katakana muncul sejak zaman Heian.


2. Keadaan Kesusastraan
Pada Joodai bungaku terdapat suatu masa yang panjang sekali yang hanya mengandalkan media dari mulut ke mulut. Kesusastraan yang disampaikan secara lisan ini dalam bahasa Jepang disebut Kooshoo Bungaku. Kooshoo Bungaku lahir dari kelompok masyarakat dan dinikmati oleh masyarakat pula. Karena penyampaiannya secara lisan , maka kooshoo bungaku ini bersifat tidak stabil dan berubah-ubah. Pengaruh kooshoo bungaku menjadi berkurang karena pemakaian tulisan kanji dan adanya kesadaran individual. Kesadaran individual ini melahirkan kreativitas-kreativitas pada kesusastraannya. Sedikit demi sedikit hilangnya sifat ketidakstabilan ini terlihat pada beberapa hasil karya sastra kooshoo bungaku yang sudah tertulis seperti, Kojiki, Nihonshoki dan Fudoki. Beberapa ciri khas Joodai Bungaku adalah:

a. Sebagian besar diisi oleh Kooshoo Bungaku yang
berpangkal pada rakyat.
b. Selebihnya diisi oleh kepopuleran lirik individual yang masih segar karena baru saja lahir dan indah karena memiliki kesempurnaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar