Sabtu, 24 November 2012

KESUSASTRAAN JEPANG ZAMAN PERTENGAHAN


A.  Garis Besar Kesusastraan Zaman Pertengahan
a.1 Pembagian menurut zaman
Abad pertengahan yang panjangnya 400 tahun ini dibagi dua 2 antara zaman Kamakura dan Muromachi. Dimulai sejak Minamoto no Yoritomo yang mendirikan pemerintahan Kamakura Bakufu diangkat menjadi seii Taisogun jendral tertinggi diantara para samurai.
a.2 Kesusastraan pada permulaan Abad Pertengahan
Kesusastraan pada permulaan abad pertengahan berlangsung kira-kira selama 140 tahun. Sejak tahun ke tiga pemerintahan kaisar Genko sampai runtuhnya kamakura bakufu. Bangsawan-bangsawan istana di Kyoto tetap menjalankan pemerintahan istana dan mengembangkan kesusastraan yang telah dirintis sejak zaman Heian. Para bangsawan ini menggali dan membangkitkan kembali pemikiran kesusastraan masa silam. Perpaduan kesusastraan yang lama dengan yang baru disebut dengan zaman Shinkokin. Dimana kebudayaan serta pikiran pikiran golongan samurai mulai berpengaruh pada kesusastraan yang mengakibatkan timbulnya suatu bentuk kesusastraan baru. Tepat pada waktu itu aliran baru agama Budha yaitu Joodooshuu, Nichirenshuu, dan Zenshuu mengalami masa jayanya sehingga memberi pengaruh yang kuat pada masyarakat. Kesusastraan yang banyak dipengaruhi oleh agama budha bercampur bersama sama dengan kesusastraan hasil karya para samurai dan bangsawan. Hal ini memberikan warna dan ciri khas tersendiri pada awal zaman pertengahan.


a.3Kesusastraan pada Akhir Zaman Pertengahan
Kesusastraan pada akhir zaman pertengahan berlangsung selama 270 tahun, termasuk didalamnya zaman Nambokuchoo, Muromachi dan Azuchimomoyama. Pada waktu itu bawahan melawan atasan dan kedudukan rakyat menjadi naik. Para bangsawan kehilangan kekuasaannya tetapi sebaliknya golongan samurai memperoleh kekuasaan dan berhasil membentuk kebudayaan. Kesusastraan berkembang karena kerjasama antara seniman dan samurai disamping bangsawan dan rakyat. Drama Noo yang dilindungi oleh para samurai berkembang dengan pesat ditangan seniman yang bernama Kannami dan Zeami. Selain itu seni Kyoogen (lelucon dalam drama Noo) dan Otoogizoshi (dongeng) mulai berkembang.

B. Pantun Waka dan Pantun Renga Shinkokinshu
 b.1 Shinkokinshuu
Awal zaman kamakura merupakan masa keemasan bagi kelompok penyair pantun. Pada masa ini diselenggarakan secara meriah Ropyakuban Utawase (600 buah kombinasi pantun) dan Sengohyakuban Utawase (1500 buah kombinasi pantun).
Shinkokin Wakashu berjumlah 20 jilid yang terdiri dari 2000 buah pantun yang ditulis dengan huruf Kana dan Kanji yang susunannya sangat teratur dibandingkan kumpulan sebelumnya. Penyair Shinkokinshuu ini terutama terdiri dari penyair-penyair kenamaan seperti Saigyoo, Jien, Fijiwara no Yositsune, Fijuwara Shunzei, Shokushinai Shinno, Fujiwara Teika, Fujiwara no Ietaka, Jakuren, dan bekas Kaisar Gotoba.

   b.1.1 Fujiwara Teika
      Fujiwara Teika adalah anak Fujiwara Shunzei. Gaya Khas yang menonjol dalam pantun yang digubahnya adalah gaya ushin. Selain itu dia juga sering membumbui pantunnya dengan unsur-unsur yang melukiskan kegairahan dengan rangkaian kata-kata yang halus walaupun apa ang dilukiskannya itu hanya khayalan belaka.
        Contoh pantun Fujiwara Teika adalah
Haru no yo no           (5) satu pagi musim semi
Yume no ukihasshi     (7) ketika aku mengadah ke langit
Todae shite              (5) setelah terbangun dari mimpi hampa
Mine ni wakaruru       (7) gumpalan awan memanjang
Yokogumo no sora     (7) menjauhi gunung tenang melayang
        Selain menulis pantun, Fujiwara Teika juga menulis teori-teori pantun yang dikumpulkan dalam buku Kindai Shuuka dan Eika Taigai. Pada hari tuanya dia menulis buku penelitian mengenai Genji Monogatari, suatu karya yang meneliti kesusastraan klasik Jepang. Buku yang memuat kumpulan pantun yng digubahnya Shuuigusoo.



  b.1.2 Fujiwara Ietaka
        Fujiwara Ietaka dapat disejajarkan dengan Fujiwara Teika yang belajar membuat pantun dari Fujiwara Shunzei. Dia mempunyai sifat yang baik, ramah dan terus terang. Ciri Khas pantunnya adalah nyata dan terus terang, baik dalam cara menganalisa satu persoalan maupun cara mengungkapkannya. Gaya pantunnya menarik, memberikan cahaya dan harapan karena banyak mengambil kiasan bulan. Kumpulan pantun yang dikarangnya disebut Minishuu. Contoh pantun Fujiwara Ietaka adalah
        Ikusato ka              (5) angin musim semi
        Tsuki no hikari mo   (7) bertiupmembawa keharuman
        Niou ramu               (5) bunga ume di lereng gunung
        Ume saku yama no   (7) dan menyebar ke desa-desa
        Mine no haru kaze   (7) nan bermandikan cahaya bulan
                                               (dari Shinchokushenshuu)
        Selain dari penyair pria yang disebutkan di atas, ada juga penyair wanita, antara lain Shikishi Naishinnoo (putri kaisar), Shunzei no Musume (putri Fujiwara Shunzei), Kunaikyoo.
        Tama no oyo            (5) daripada hidup tiada arti
        Taenaba taene         (7) tiada cita tiada cinta
        Nagaraeba              (5) Biarlah hidupku berakhir
        Shinoburu koto no   (7) biarlah aku pergi
        Yowari mo zo suru   (7) aku tak kuasalagi
                                               ( dikarang oleh Shikishi Naishinnoo)

        Kaze kayou              (5) satu malam di musim semi
        Nezame no sode no  (7) aku terbangun dari mimpi
        Hana no ka ni          (5) mendengar gemersik angin bertiup
        Kaoru makura no      (7)menaburkan kelopak  bunga di pembaringan
        Haru no yo no yume      (7) membuat bantal berbau wangi    
                                           (Dikarang oleh Shunzei no Musume)
        Usuki koki               (5) kalau memandangke padang rumput
        Nobe no midori no    (7) pada awal musim semi
        Wakakusa ni            (5) Pucuk muda mulai tumbuh
        Ato made miuru       (7) segar indah mempesona
        Yuki no mura kie      (7) di sela-sela salju yang mencair
                                           (Dikarang oleh Kunaikyoo)
 b.1.3 Minamoto no Sanetomo
        Di antara para penyair yang hidup pada permulaan zaman Kamakura, ada seorang penyair yang berbeda dengan penyair lainnya. Dia adalah Jendral ke-3 pemerintahan Kamakura Bakufu. Dia adalah murid Fujiwara Teika. Pantun yang ditulisnya banyak sekali dipengaruhi keindahan dan kelmbutan gaya bahasa Man yooshuu. Kumpulan pantun berjudul Kinkai Wakashuu ketika masih berumur 22 tahun. Pantun-pantun yang terdapat dalam Kinkai Wakashuu menempati posisi penting dalam sejarah pertumbuhan seni pantun di Jepang. Salah satu pantun Minamoto yang terkenal adalah
        Ooumi no                 (5) ombak besar yang menerpa
        Iso no todoro          (7) batu karang di pinggir pantai
        Yosuro name            (5) remuk redam berkeping-keping
        Warete kudakete    (7) dan menjadi buih putih
        Sakete chirukamo    (7) lenyap menghilang entah ke mana
                                                      (dari Kinkai Wakashuu)
   b.2 Beberapa Kumpulan Pantun setelah Shinkokinshuu
        Setelah peristiwa Jookyuu no Ran pada tahun 1221, yaitu peristiwa diadakannya kudeta yang tidak berhasil oleh bekas Kaisar Gotoba  terhadap pemerintahan Kamakura, Kaisar Jookyuu memerintahkan Fujiwara Teika untuk mengumpulkan pantun-pantun yang penting. Kumpulan pantun tersebut adalah Shinchokusen Wakashuu yang gayanya berbeda dengan Shinkokinshuu. Gaya bahasanya mudah di mengerti dan tidak  terikat pada teknik tertentu.
        Fujiwara Teika mempunyai anak bernama Tameie. Selain menjadi penggubah pantun seperti ayahnya dan menjadi editor kumpulan pantun Shokugosen Wakashuu dan lain-lain. Tameie mempunyai tiga orang putra yaitu Tameuji, Tamenori, dan Tamesuke. Ketiga putranya masing-masing membentuk kumpulanpenyair yang disebut Nijoo, Kyoogoku, dan Reizei. Kumpulan yang paling mirip dengan gaya ayahnya adalah Nijoo, karena dianggap paling baik dan klasik. Nijoo selalu bertentangan dengan Kyoogoku dan Reizei karena kedua aliran ini mengembangkan gaya yang baru. Ada 13 kumpulan pantun yang dikenal dengan nama Jusandaishuu. Hampir semua pantun yang ada dalam Jusandaishuu ditulis oleh Nijoo. Pada masa ini kumpulan penyair sangat dipengaruhi oleh kumpulan penyair Nijoo yang memiliki gaya klasik dan monoton. Bersamaan dengan pudarnya pengaruh penyair yang berasal dari kaum bangsawan, perkembangan dunia pantun pun menjadi menurun.
  b.2.1 Gyokuyoshuu dan Fugashuu
      Kyoogoku Tamekane merupakan pelopor penggunaan gaya bahasa Man Yooshuu, namun walaupun demikian dia tetap mengindahkan kaidah-kaidah dan gaya yang ada dalam kumpulan pantun Shinkokinshuu. Dia juga berbeda pendapat dengan Nijoo yang memiliki gaya klasik dan monoton. Kogyooku Tamekane juga menyusun pantun yang diberi nama Gyokuyooshuu atas perintah bekas Kaisa Fushimi. Pantun yang ada dalam Gyokuyooshuu dan Fugashuu yang di karang oleh kaisar Hanasono yang belajar sendiri dari Tamekane dan di bantu oleh bekas Kaisar Koogon mengekspresikan keadaan alam. Kedua kumpulan pantun ini tercatat sebagai yang terbaik dalam kumpulan pantun Juusandaishuu. Berikut adalah contoh pantun yang dikarang oleh Kyoogoku Tamekane.
        Eda ni moru             (5) Cahaya matahari pagi
        Asahi no kage no      (7) yang merembes hanya sedikit
        Sukunaki ni              (5) membuat sangat sejuk
        Suzushisa fukaki     (7) bila berada
        Take no oku kana     (7) di hutan bamboo ini
 PANTUN RENGGA
Setelah Zaman Nanbokucho, Pantun Renga mulai populer menggantikan pantun waka. Mula-Mula pantun Renga terdiri dari dua bait yaitu bait pertama (5.7.5) yang dibacakan oleh satu orang dan bait kedua (7.7) yang dibacakan oleh orang lain sebagai jawaban atas bait pertama. Renga disebut juga tsukuba no nichi untuk mengingat sejarah tejadinya Renga, karena untuk pertama kalinya Renga dibaca oleh Yamato Takeru No Mikoto di Sakaori no miya Propinsi Yamanashi yang berbunyi : Niibari Tsukuba wo sugite ikuyoka netsuru (Artinya : Setelah melalui Niibari Tsukuba sudah berapa malamkah berlalu? ) kemudian dijawab oleh Nikitaki, seorang tukang masak tua istana Kaganabete yo ni wa kokono yo hi ni wa tooka wo (artinya Hari-hari berlalu tanpa terasa sudah sembilan malam sepuluh hari ). Namun sebenarnya ini adalah sejenis pantun yang disebut Kata Uta Mondo.


Berikut tokoh-tokoh Ranga:      
1. Nijoo Yoshimoto
        Tokoh yang paling bejasa mempopulerkan Renga, yang juga merupakan politikus yang berasalm dari keluarga bangsawan tinggi pada dinasti Hokucho. Berkat pengetahuannya di bidang kesustraan klassik karena belajar dari tonna, dia mencoba menghidupkan pantun waka, terutama renga. Dia mengumpulakan para penyair Jige (penyair kelas rendah) bersama dengan penyair Gusai untuk membuat renga.Pada tahun Enbun (1356) merka menerbitkan sebuah buku renga pertama berjudul Tsukuba bashuu. Nijoo yoshimoto juga menulis teori pantun berjudul Tsukuba Mondoo. Bersama Gusai ia menetapkan peraturan penilisan renga yang dimuat dalam buku Renga Shinshiki.Gusai adalah murid Zenna, yang merupakan penyair terkemuka pada zaman Nambokuchoo.


2. Shinkei
Pada awal muromachi pantun , Renga kehilangan pamornya. Pada masa itu hanya ada satu tokoh bernama bonoo Anshu ( Asayama Morotsuna ). Tetapi setelah itu muncullah penyair-penyair renga takayana soozei, Shinkei dan lain-lain. Shinkei belajar membuat waka dari Shootetsu. Kemudian menghususkan diri dalam penulisan Renga. Ia memberi ciri-ciri khas pada Renga pada masa itu. Salah satu karyanya yang terkenal yakni Sasamegoto ( merupakan karya yang berbau filsafat yang memadukan secara sinkronis unsur-unsur waka, renga dan butsudo).
3.Soogi
        Pada masa pemberontakan oonin (1467 – 1477) muncullah seorang tokoh yang bernama Soogi, ia berguru pada Soozei dan Shinkei. Tokoh inilah yang mebawa Renga pada masa keemasannya. Soogi mempunyai hubungan yang erat dengan bangsawan Sanjoo Nishi Sanetaka dan dengan bantuan seorang tokoh lain bernama kansai, ia berhasil menyelesaiakan kumpulan Renga yang diberi nama Shinsen Tsukbashuu pada tahun Meioo 4 (1945). Karya ini sama dengan Tsukubashuu ditujuk sebagai karya sastra pilhan kaisar.Banyak renga bermutu yang berhubungan dengan Soogi antara lain Yuyama sangin, tetapi yang terbaik diantaranya adalah Minase Sangin Hyakuin yang digubah bersama-sama dengan Shoohaku dan Soochoo. Berikut adalah contoh Renga dalam Minase Sangin Hyakuin yang dibawakan oleh Soogi, Shoohaku dan Sotehoo.
        Yuki nagara yamamoto kasumu yuube kana     (oleh Soogi)
        Yuku mizu tooku yume niou sato                  (oleh Shoohaku)
         Kawakaze ni hitomura yanagi haru miete    (oleh Soochoo)
        Fune sasu oto mo shiruki akegeta                       (oleh Soogi)
        Tsuki ya nao kiri wataru yo ni nokoruran     (oleh Shoohaku)
        Shimo oku nohara aki wa kurekeri               (oleh Soochoo)
Naku mushi no kokoro tomo naku kusa karete (oleh soogi)
Kakine wo toeba arawa anru michi               (oleh Shoohku)

Di puncak gunung masih terlihat ada salju, tetapi di kaki gunung secara samar-samar sudah terlihat datangnya musim semi.
Di kaki gunung mengalir sungai ke tempat jauh, di desa di pinggirnya tercium bau bunga plum.
Melihat daun sekelompok pohon willow bergoyang ditiup angin di pinggir sungai, tersalah musim semi sudah tiba.
Bunyi dayung perahu yang berlayar di sungai diwaktu fajar menyingsing terdengar jelas sekali.
Namun pada malam terkabut yang segara akan menjadi terang itu, masih terlihat wajah sang rembulan.
Melihat di padang rumput turun embun yang membeku, terasalah sebentar lagi musim dingin kan tiba.
Tanpa menhiraukan jeritan serangga, rumputpun mengering satu demi satu.
Bila berkunjung ke rumah teman,kita akan melalui jalan yang kotor karena rumputnya sudah mati.
        Renga tetap populer walaupun Soogi meninggal dunia namun bentuknya tetap dan tidak mengalami perkembangan lagi.

HAIKAI NO RENGA
 Renga berasal dari waka yang  pada awalnya cara pembuatannya adalah bersifat bebas dan terdapat unsur kelucuan dan kecerdasan. Namundalam perkembangannya renga mengalami modifikasi yakni menjadi karya astra yang serius yang memiliki peraturan dalam pemilihan dan penuisan kosa kata. Pada masa ini, para penggemar Renga mulai mengadakan pertemuan untuk membacakan Renga yang disebut Haikai no Renga.
Pada akhir Zaman Muromachi, tokoh yang dianggap sebagai pelopor Haikai adlah Arakida Moritake dan Yamazaki Sookan. Moritake adalah pejabat yang bertugas di kuil agama shinto di Lse.  Pada tahun teamon (1240)  ia membaca karyanya berjudul haikai no Renga Dokugin Senku atau disebut juga tobiume senku.




3.  MONOGATARI, SETSUWA DAN OTOGIZOOSHI

Monogatari
Hikayat masih juga giat ditulis meskipun telah memasuki Zaman Kamakura, tetapi penulisan ini mempunyai sifat yaitu kecenderungan untuk mengenang kembali kehidupan kaum istana. Diantaranya banyak karya yang ditulis panjang lebar, meniru gaya tulisan Genji Monogatari (Hikayat Genji) yang muncul sebelumnya.
Pada tahap pertama muncullah karya-karya seperti Sumiyoshi Monogatari (Hikayat Sumiyoshi), Iwashimizu Monogatari (Hikayat Iwashimizu) dan Matsuranomiya Monogatari (Hikayat Matsuranomiya) dan lain-lain. Ketiga cerita ini mempunyai ciri-ciri tersendiri yang cukup menonjol, tetapi selain karya-karya tersebut hamper semua cerita yang muncul kemudian terdiri dari cerita klasik dan menghilang pada akhir Zaman Kamakura.
Pada awal Zaman Kamakura muncul seua buku kritik dan komentar terhadaphikayat berjudul Mumyoozooshi yang sangat mengangungkan Genji Monogatari dan juga memuat kritikan terhadap hikayat yang muncul sesudah itu, yang diuraikan berdasarkan zamannya. Pada masa mundurnya kesusastraan yang berpusat pada hikayat ini, yang sangat menarik perhatian adalah munculnya beberapa karya kritikan yang mencatat tentang sejarah hikayat itu sendiri.




Cerita Sejarah
Untuk meneruskan langkah-langkah yang dirintis dalam bidang cerita sejarah pada zaman sebelumnya, pada permulaan abad pertengahan ditulislah cerita sejarah dengan judul Mizukagami. Mizukagami ditulis untuk melengkapi cerita sejarah berjudul Ookagami dan Imakagami yang sudah ada sebelumnya. Dalam Mizukagami dikisahkan cerita sejak Jinmu Tennoo sampai Ninmyoo Tennoo sebanyak 54 generasi berikut kronologinya selama 1500 tahun. Cerita sejarah yang terakhir adalah Masukagami, yang disebut-sebut sebagai hasil karya Nijoo Yoshimoto. Masukagami mengisahkan kejadian-kejadian sejak lahirnya Gotoba Tennoo sampai kembalinya Godaigo Tennoo dari pengasingan di pulau Oki ke Kyooto, yang mencakup kisah 15 generasi dan berlangsung selama kurang lebih 150 tahun. Masukagami adalah karya tulis klasik yang indah dan bernilai tinggi yang merupakan cerita sejarah yang bersumber pada kraton, dan dapat dikatakan mempunyai nilai sejarah dengan Ookagami.

Argumentasi Sejarah
Kemudian muncullah buku berjudul Gukanshoo yang merupakan kesusastraan sejarah yang berisikan argumentasi sejarah. Selain Gukanshoo muncul pula buku yang sejenis yaitu Jinnooshootooki. Gukanshoo adalah karya seorang penyair bernama Jien, mengisahkan bagian-bagian penting dalam sejarah mulai dari Jinmu Tennoo sampai Juntoku Tennoo dan juga menguraikan teori sejarah. Tidak seperti lazimnyacerita-cerita sejarah yang hanya menoleh ke belakang saja, di dalam Gukanshoo kita diajak memperhatikan pergerakan zaman yang sedang berlangsung, untuk menentukan langkah yang akan di ambil bagi masa yang akan datang.  Gukanshoo ditulis dengan mempergunakan bahasa rakyat agar dapat dengan mudah dimengerti pembacanya. Hal ini sangat berbeda skali dengan tulisan-tulisan sebelumnya.
Jinnooshootooki mengisahkan bagian-bagian penting sejarah yang dimulai sejak masa sebelum Jinmu Tenno sampai naik tahtanya Gomurakami Tenno termasuk komentar dan kritik. Masa ini diperkirakan lamanya kira-kira 2000 tahun.
Jinooshootooki tidak berbeda dengan Gukanshoo, yaitu Jinnooshootooki juga menguraikan teori tentang pemerintahan yang diperuntukkan bagiu Tennoo yang masih dibawah umur.
Karya ini memberikan perasaan cinta tanah air kepada pembaca dan juga merupakan argumentasi sejarah yang memiliki nilai kesusastraan yang memikat pembaca.

Gunki Monogatari
Gunki Monogatari (Cerita Peperangan) sebagai kesusastraan yang menggambarkan sejarah, dianggap memliki nilai yang tinggi. Meskipun pada zaman Heian telah ada Masakadoki yaitu catatan pertempuran yang ditulis dengan Kanbun (gaya penulisan) dan Konjaku Monogatarishuu (Kumpulan Cerita Lama) yang mengandung beberapa bab yang berisi cerita peperangan, tetapi kedua cerita ini belum dapat dikatakan sebagai kesusastraan yang istimewa.
Beberapa cerita yang termasuk Gunki Monogatari antara lain adalah Hoogen Monogatari (Hikayat Hoogen), Heiji Monogatari (Hikayat Heiji), Heike Monogatari (Hikayat Heike), Taiheiki (Hikayat Taihei), Soga Monogatari (Hikayat Soga) dan Gikeiki Monogatari (Hikayat Gikei).



Hoogen Monogatari dan Heiji Monogatari
Hoogen Monogatari dan Heiji Monogatari masing-masing terdiri dari tiga jilid, ditulis pada permulaa Zaman Kamakura. Kedua cerita ini tidak diketahui siapa pengarangnya. Hoogen Monogatari menggambarkan Pemberontakan Hoogen (1156) dan Heiji Monogatari menggambarkan Pemberontakan Heiji (1159), yang dapat dikatakan sebagai permulaan sejarah politik samurai, karena menggambarkan kelemahan dan peruntuhan kaum bangsawan serta bangunnya kekuatan kaum samurai.
YangmenjadipahlawandalamHoogeMonogatari adalahseorangsamuraibernamaMinamoto dan Tametomo, dan pahlawan dalam Heiji Monogatari adalah Akugenda yoshihira, keduanya di likiskan sangat berani dan gagah perkasa. Kedua cerita ini melukiskan gambaran manusia baru yaitu kaum samurai. Pengarangnya dengan indahnya melukiskan perpaduan antara semangat kepahlawanan pada waktu pertempuran dan kesedihan setelah peperangan berakhir.

Heike Monogatari
Heike Monogatari biasanya terdiri dari 12 jilid yang ditambah dengan Kanjoo no Maki, sehingga menjadi 13 jilid, tetapi selain itu ada juga buku yag terdiri 6 jilid, 12 jilid dan 20 jilid. Selain bentuk seperti itu, ada juga buku bernama Genpei Joosuiki (cerita tentang masa jaya dan hancurnya Genji dan Heishi) yang berjumlah 48 jilid. Mungkin aslinya terdiri dari 3 jilid yang dibuat pada Zaman Kamakura, tetapi sejalan dengan perkembangan zaman diperkirakan makin lama makin  bertambah banyak. Mengenai pengarangnya terdapat beberapa pendapat, tetapi dugaan yang paling kuat adalah Shinano no Zenji Yukinaga, seperti yang tertulis dalam Tsurezure Gusa bagian ke-226.
Yukinaga adalah seorang bangsawan yang mempunyai pengetahuan luas dan bekerja pada Gotobain.
Heike Monogatari adalah hasil kerja sama antara sastrawan dari keluarga bangsawan yang sudah menjadi pendeta agama Budha yaitu Yukinaga dan seniman yang berasal dari rakyat jelata yaitu Shoobutsu yang mempunyai hubungan erat dengan kaum samurai yang sedang berkuasa. Dalam isi cerita terlihat pula hubungan yang erat dengan agama Budha. Heike Monogatari juga menceritakan tentang tentang berdiri dan runtuhnya keluarga Heike dan munculnya keluarga Genji.
Cerita yang ada dalam Heiki Monogatari ini dapat juga disebut sebagai seni rakyat zaman pertengahan, yang mempunyai pengaruh besar pada kesusastraan setelah zaman Kamakura.

Taiheiki
Buku Jookyuuki menceritakan tentang peristiwa Jookyuu yaitu kudeta yang berhasil yang dilaksanakan oleh Godaigo Tenno terhadap pemerintahan Kamukura. Setelah Shibu Kassenjoo ini diterbitkan, maka muncullah sebuah buku tentang peperangan anatara Kerajaan Selatan di Kyooto.
Buku Taiheiki baru selesai ditulis pada tahun 1371. Secara resmi pengarangnya adalah Kojima Hooshi, akan tetapi apakah karangan itu berasal dari penyelidikan sendiri atau saduran dari buku-buku lain, tidak dapat dipastikan. Taiheiki terdiri dari 3 bagian, yaitu bagian pertama menceritakan sampai Kenmuchuukoo atau berdirinya pemerintahan Godaigo Tennoo setelah berhasil menjatuhkan pemerintahan Kamakura, bagian kedua mengisahkan kejadian-kejadian sampai meninggalnya Godaigo Tennoo pada tahun 1339 dan bagian ketiga menceritakan peristiwa sampai pemerintahan Jendral Yoshimitsu.
Pengarang buku Taiheiki zaman Nambakuchoo ini menampilkan pandangan baru yang tajam dengan melukiskan kritikan rakyat terhadap pemerintahan yabg tidak beres dan juga melukiskan kejelekan-kejelekan manusia pada masa itu.

Soga Monogatari dan Gikeiki
Sejak keluarnya buku Taiheiki ini sampai Zaman Muromachi, banyak juga diterbaitkan buku lain yang bertemakan peperangan di daerah-daerah. Tetapi yang paling bermutu diantaranya adalah cerita yang cenderung disebut sebagai Eiyuu Denki Monogatari (Biografi Para Pahlawan). Pada zaman ini cerita-cerita kepahlawanan sangat disenangi orang, diantaranya adalah legenda kepahlawanan Soga Bersaudara dan Minamoto Yoshitsune. Buku tentang Soga Bersaudara ini ditulis dalam Soga Monogatari dan tentang kepahlawanan Minamoto Yoshitsune ditulis dalam buku berjudul Gikeiki. Pengumpulan dan pengolahan cerita kepahlawanan dalam kedua buku tersebut dimulai sejak Zaman Kamakura sampai pada permulaan Zaman Muromachi.
Cerita yang diuraikan dalam Soga Monogatari bertemakan pembalasan dendam yang dijiwai semangat samurai Kantoo (daerah Tokyo sekarang), dan di bumbui dengan ajaran-ajaran agama Budha. Sebaliknya Gikeiki meninjilkan perasaan belas-kasihan yang keluar dari perasaan kemanusiaan, dengan berlatar-belakang kehidupan Yoshitsume pada masa kanak-kanak dan pada masa tuanya.

Setsuwa
Legenda yang sejenis dengan Konjaku Monogatarishuu masih terus ditulis sampai Zaman Pertengahan seperti Ujishuui Monogatari, Kokonchomonjuu, Jikkinshoo dan lain-lain. Dalam Ujishuui Monogatari ditulis legenda tentang setan yang mengambil benjolan dari kepala, burung gereja membalas budi dna lain-lain. Legenda seperti ini sangat menarik dan merupakan contoh-contoh legenda Zaman Pertengahan. Antologi legenda agama Budha yang ditulis oleh pendeta dan pertapa diantaranya terdapat  Hoobutsushuu yang ditulis oleh Taira no Yasuyori, Hosshinshuu yang ditulis oleh Kamo no Choomci dan lain-lain. Mujuu juga banyak menulis legenda yang diceritakannya sambil mengajarkan agama Budha, misalnya Shasekishuu. Semuanya ini membawa angin baru bagi legenda rakyat hingga Zaman Pra Modern. Buku Shintooshuu yang disusun pada Zaman Nanbokuchoo, selain berisi ajaran Shintoo, juga banyak memuat legenda-legenda yang berhubungan dengan dewa-dewa Shintoo dan Budha.

Otogizooshi (sejenis dongeng)
Di Zaman Heian cerita hikayat sangat populer sekali, tepapi pada Zaman Pertengahan hal ini berubah, karena otogizooshi lebih digemari. Dongeng ini banyak mendapat pengaruh dari cerita-cerita perang yang seluruhnya berjumlah sekitar 400 sampai 500 buah berupa cerita pendek yang tidak diketahui dengan jelas siapa pengarangnya.
Isi dongenng ini bermacam-macam, ada yang mengambil contoh dari cerita roman, cerita perang, cerita kepahlawanan seperti Shutendooji, ada yang menggambarkan tentang pendeta seperti Chigo Monogatari yang disebut juga Akinoyononaga Monogatari, dongeng pertapa seperti Sanin Hoshi, dongeng tentang hubungan dewa agama Shintoo dengan dewa agama Budha seperti Kumano no Honji, dongeng tentang flora dan fauna yang dilukiskan sebagai manusia seperti Arokassen Monogatari dan lain-lain. Selain itu ada juga yang bersumber dari dongeng rakyat, misalnya Bunshozooshi, Issunbooshi, Hachikazuki, dan sebagainya. Karya tulis dongeng ini merupakan pertanda kebangkitan rakyat biasa dan mempunyai pengaruh sampai dengan kesusastraan zaman berikutnya yakni Zaman Pra Modern.
Dongeng pada umumnya isinya sangat sederhana dan dangkal, karena berlainan dengan jenis kesusastraan yang berpusat pada bmonogatari yang pengarang dan pembacanya terbatas dengan kaum bangsawan, dongeng ditulis oleh bangsawan kelas rendah, pertapa dan pedagang. Ruang lingkup para pembaca dongeng pun lebih luas mulai dari samurai, pendeta, pedagang hingga rakyat banyak.

    






PENUTUP

     Abad pertengahan yang panjangnya 400 tahun ini dibagi dua 2 antara zaman Kamakura dan Muromachi. Dimulai sejak Minamoto no Yoritomo yang mendirikan pemerintahan Kamakura Bakufu diangkat menjadi seii Taisogun jendral tertinggi diantara para samurai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar