Minggu, 25 November 2012

KESUSASTRAAN ZAMAN HEIAN DI JEPANG


1.     Garis besar kesusastraan zaman Heian
Pada akhir abad VIII kaisar Kanmu memindahkan ibu kota Jepang ke Kyoto dan membuat istana ibukota Heian yang maha besar dengan meniru ibukota Chan An dari dinasti Tang di Cina. Ibukota Kyoto yang selama kurang lebih 400 tahun menjadi pusat kegiatan politik dan kebudayaan di Jepang masa itu dikenal dengan zaman Heian. Keluarga Fujiwara yang mendapat kedudukan tinggi di pemerintahan sejak Fujiwara Katamari berpengaruh lebih besar dan luas lagi setelah pemindahan ibukota ke Kyoto. Bahkan mulai abad IX dan seterusnya keluarga Fujiwara memonopoli kedudukan di pemerintahan, sehingga terbentuk keadaan politik yang khas, yaitu kedaulatan kaisar ditunjang oleh kekuasaan keluarga Fujiwara. Dalam sejarah politik Jepang keadaan politik yang khas ini disebut dengan “Sekkan Seiji.
Pada masa Heian hubungan dengan dinasti Tang Cina masih ada, namun setelah hubungan dihapus kebudayaan khas Jepang mulai berkembang. Kreasi seni khas Jepang pada bangunan, pakaian mulai timbul. Kemajuan bidang kesusastraan berkembang setelah terciptanya tulisan Kana, sehingga pada zaman Heian kesusastraan berkembang pesat dan mencapai puncaknya pada zaman kaisar Ichijoo. Hal ini dapat dilihat dengan terciptanya karya sastra Genji Monogatari dan makurano Sooshi.


Pengarang dan Pembaca Kesusastraan
Pada zaman Heian, lingkungan bangsawan sangat mendominasi kesusastraan Jepang. Pengarang ataupun penulis Puisi adalah anggota keluarga kaisar atau keluarga bangsawan. Penulis catatan harian, essei, kisah perjalanan, ceritera biarpun bukan bangsawan tetapi sebagian besar adalah pengikut bangsawan yang hidupnya dijamin. Pembaca kesusastraan pada zaman Heian adalah kaum bangsawan dan para selir di istana atau orang-orang yang mempunyai hubungan erat dengan pihak istana atau bangsawan, sehingga zaman itu dikenal juga dengan zaman kesusastraan bangsawan.

Latar Belakang Filsafah Pemikiran

Ajaran budha pada kesusastraan zaman Heian sangat berpengaruh besar. Sekte Joodoo agama Budha yang popular meninggal kehidupan duniawi merabas masuk ke kesusastraan tersebut sehingga kesusastraan pada zaman itu bertambah unik.

Pembagian Zaman dan Jenis Kesusastraan

Kesusastraan zaman Heian dapat dibagi menjadi empat kelompok zaman. Pertama zaman populernya syair kanbun, kedua zaman kebangkitan kembali pantun waka, ketiga zaman populernya kesusastraan cerita, catatan harian dan essei, dan keempat zaman banyak dikarang dan disusunnya cerita sejarah dan kesusastraan Setsuwa. 

2.     KANSHIBUN, WAKA, DAN KAYOO
Kepopuleran Kanshibun
Pada awal zaman Heian, pantun Waka pernah mengalami kemunduran, sebaliknya “kanbungaku mencapai kepopulerannya. Pengarang “Kanshibun termuka pada awal zaman Heian antara lain Kuukai (dengan nama lain Kooboo Daishi) seorang sarjana, penyair dan pemeluk agama yang patuh dikenal sebagai pelopor kebudayaan Jepang, karya Kuukai antara lain Shooryooshuu dan Bunkyoo Hifuron yang membicarakan puisi dan prosa bergaya retorik. Kemudian pengarang lainnya adalah Ono no Takamura dan Sugawara no Michizane.  
Sejak pertengahan zaman Heian, kanshibun mengalami kemunduran karena waka dan sebangsanya kembali populer. Pada akhir zaman Heian, sarjana Kanshibun yang perlu dicatat namanya adalah Ooe Masafusa. Meskipun pantun waka mengalami masa suram pada zaman ini namun waka masih ditulis orang yang bersifat melanjutkan karya Manyooshuu dan Kokinshuu. Bersamaan dengan itu, kebudayaan zaman Heian juga berkembang meninggalkan pengaruh dari kebudayaan Tang dan membentuk kebudayaan asli Jepang.

Pengungkapan jiwa orang Jepang melalui waka lebih cocok dari pada melalui kanshibun dan terciptanya tulisan Hiragana membantu perkembangan waka.
Kepopuleran Utaawase dan Pembentukan Konkinshuu
Perkembangan waka dipengaruhi oleh “Utaawase (perbandingan pantun). Memasuki zaman Engi (901-923) pantun waka makin populer dan mencapai puncaknya ketika Kokin Wakashuu (kumpulan waka lama dan baru) terpilih sebagai karya terbaik berdasarkan titah kaisar. Konkinshu ( Kokin Wakashu) disusun oleh empat orang penyair terdiri dari 20 jilid dengan jumlah pantun lebih dari 1100 buah. Kata pengantarnya ditulis dengan tulisan Hiragana oleh kino Tsurayuki yang mempunyai kedudukan penting dalam sejarah pemakaian kana. Kokinshu adalah kumpulan pantun waka dari tahun 759 sampai tahun 905.
Ciri-ciri Khas Konkinshuu
Ciri khas Kokinshuu adalah perubahan aturan pemakaian sukukata lima tujuh yang berlaku pada zaman sebelumnya yang bersifat lamban berat menjadi sukukata tujuh-lima yang bersifat ringan lancar sehingga terlihat indah dan halus serta elegan dengan ini terbentuklah gaya baru yang disebut “Kokinshoo (gaya kokinshuu).
3.     Monogatari
Monogatari mencakup fiksi (Tsukuri Monogatari), cerita pantun (Uta Monogatari), Cerita sejarah (Rekishi Monogatari), dan legenda (Setsuwa). Pada zaman Heian, monogatari dimulai dengan Taketori Monogatari, yaitu fiksi legendaries (Tsukuri Monogatari) dan Ise Monogatari, yaitu cerita pantun (Uta Monogatari) yang bersifat realistic yang keduanya saling mempengaruhi dan saling mengisi.
Taketori Monogatari Tahun penulisan Taketori Monogatari tidak diketahui dengan pasti, namun dalam buku Genji Monogatari tertulis bahwa Taketori Monogatari adalah perintis munculnya kesusastraan jenis monogatari. Taketori monogatari adalah cerita yang menceritakan Kaguya Hime yang diperebutkan oleh 5 orang putra raja yang mempersuntingnnya. Ise Monogatari , Ise Monogatari adalah Uta Monogatari yang bersifat realistic. Uta Monogatari adalah cerita yang isinya dibuat lebih menarik dengan menulis Kotobagaki (keterangan mengenai keadaan dan situasi ketika sebuah pantun dibuat) dengan panjang lebar. Ise Monogatari adalah buku pertama yang mempunyai cara pembuatan seperti itu. Ise Monogatari terdiri dari 125 bab, pada setiap bab dimulai dengan kata pembukaan mukashi otoko arikeri (dahulu kala ada seorang laki-laki), tetapi semuanya menceritakan hubungan percintaan yang penuh suka duka antara pria dan wanita. Yamato Monogatari  adalah aliran yang sama dengan Ise monogatari namun menceritakan tentang orang-orang terkenal. Utsubo Monogatari dan Ochikubo Monogatari adalah beberapa cerita yang masih ada sampai sekarang. Utsubo Monogatari dapat dikatakan sebagai lanjutan Taketori Monogatari dengan versi yang berbeda. Dapat dikatakan bahwa Utsubo Monogatari merupakan karya masa peralihan dari Taketori Monogatari menuju Genji Monogatari. Ochikubo Monogatari Ochikubo monogatari adalah suatu cerita yang mengisahkan kehidupan seorang anak tiri yang dianiaya, tetapi akhirnya anak itu memperoleh kebahagiaan. Jalan ceritanya disusun dengan cermat, penempatan tokoh-tokohnya diatur dengan baik. Bersifat realistis sampai akhir cerita. Genji Monogatari Genji monogatari suatu konsepsi yang menggabungkan sifat romantis, realis, dan dramatic dengan memasukkan banyak lirik kedalamnya. Genji monogatari terdiri dari 54 bab . Pada bab ke 1 sampai ke 41 berisi tentang kehidupan tokoh utama Hikaru Genji. Bab ke 42 sampai 44 berisi tentang keadaan Hikaru Genji meninggal dan masa pertumbuhan anaknya Kaoru. Dan babak terakhir yang disebut Ujijuujoo berisi kehidupan Kaoru yang selalu berputus asa dalam hidupnya setelah ia dewasa. Pengarang genji monogatari adalah Murasaki shikibu. Yang setelah suaminya bernama Fujiwara Nobutaka meninggal ia bekerja di pada isteri Ichijo Tenno. Genji monogatari merupakan suatu karya sastra yang berhasil menggambarkan bermacam-macam aspek kehidupan bangsawan istana pada zaman Heian. Diantaranya tentang pergantian Tenno dan cara-cara peralihan kekuasaan diatur oleh keluarga permaisuri Tenno. Menurut Motoori Norinaga memberi komentar bahwa genji monogatari adalah suatu karya sastra yang berhasil dalam penyuguhan mono no aware ( membuat tergugah dan terharu). Konjaku Monogatari, Konjaku monogatari adalah kumpulan dongeng atau cerita yang timbul pada akhir zaman Heian. Berisikan 1000 buah cerita yang sebagian besar merupakan cerita mengenai agama Budha dan kebiasaan masyarakat. Cerita agama budha pada umumnya menonjolkan keagungan agama budha, kebajikan-kebajikan kepercayaan, hukum karma dan pemikiran reinkarnasi. Konjaku monogatari mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap kesusastraan yang timbul pada zaman Kamakura.
4.     Catatan harian (nikki)  
Banyak sekali nikki baik yang bersifat resmi maupun yang bersifat pribadi yang ditulis dengan Kanbun (ditulis dengan kanji dan gaya bahasanya memakai gaya bahasa Cina) , tetapi nikki yang mempunyai nilai sastra ditulis dengan kokobun (gaya bahasa Jepang dengan tulisan Hiragana) adalah Tosa nikki, Kageruoo nikki.

Tosa Nikki
Tosa Nikki adalah permulaan dari kesusastraan nikki di Jepang yang di tulis oleh Ki  no Tsurayuki ( 貫之, 872 – June 30, 945) adalah seorang penulis Jepang, penyair dan punggawa yang dalam perjalanan pulang dari Tosa (salah satu daerah di Shikoku) ke Kyooto setelah menyelesaikan tugas kerjanya sebagai bupati di Tosa. Di dalam Tosa Nikki, Tsurakuyi ingin mengungkapkan perasaannya antara lain kerinduannya kepada putrinya yang meninggal di Tosa, ketakutan yang dialaminya ketika diserang bajak laut, dan kegembiraannya saat dia telah tiba di Kyooto.
Kageru  Nikki
Kageru Nikki adalah bagian klasik sastra Jepang dari periode Heian yang jatuh di bawah genre Nikki bungaku, atau literatur buku harian. Ditulis sekitar 974, penulis Kageru Nikki seorang wanita yang hanya dikenal dengan gelar Bunda Michitsuna. Menggunakan kombinasi puisi dan prosa waka, ia menyampaikan kehidupan seorang wanita pengadilan selama periode Heian.
Izumi Shikibu Nikki
Izumi Shikibu Nikki adalah suatu catatan harian yang mengungkapkan salah satu kehidupan romantis wanita pada Zaman Heian yang isinya mengenai hubungan cinta yang berlangsung selama satu tahun anhtara putra Reizi Tennoo yang bernama Atsumichi dengan wanita yang bernama Izumi Shikibu seorang penyair periode pertengahan Heian Jepang yang merupakan anggota dari Tiga puluh enam Dewa Puisi Abad Pertengahan. Hubungan cinta ini terjadi setelah Atsumichi berkunjung ke rumah Izumi Shikibu dan saling berkirim surat yang memuat pantun-pantun cinta. Hubungan cinta ini ditulis melalui mata orang ke tiga, dalam bentuk Nikki.
Murasaki Shikibu Nikki
Murasaki Shikibu Nikki adalah suatu karya yang mengungkapkan kepribadian pengarangnya yang ditulis dengan jelas dan sederhana.
5. Rekishi Monogatari (Ceritera Sejarah) dan Setsuwa Bungaku (Dongeng)
Pada akhir zaman Heian, masyarakat pada saat itu cenderung untuk mengenangkan kembali masa-masa yang sudah berlalu. Mereka berusaha untuk mencari bahan dari kejadian masa lalu untuk menulis karya sastra yang baru yang sekarang dikenal dengan istilah “Ceritera Sejarah” atau “Dongeng”.
Eiga Monogatari
Eiga Monogatari merupakan karya yang menuturkan keadaan dan peristiwa selama kira-kira 200 tahun mulai dari zaman Uta Tennoo sampai zaman Horikawa Tennoo yang berlangsung selama 15 generasi. Buku tersebut setebal 40 bab, dan menceritakan kehebatan dan kemegahan Midoo Kampaku yang setara dengan Perdana Menteri, bernama Fujiwara Nichinaga.
Ookagami
Ookagami juga merupakan ceritera sejarah yang menceritakan kemegahan dan kehebatan Fujiwara Michinaga, tetapi dalam banyak hal dapat dikatakan, lebih baik dari Eiga Monotagari. Dimana karya ini menceritakan peristiwa sejak Zaman Montoku Tennoo sampai zaman Goichijoo Tennoo.
Imakagami
Imakagami merupakan karya lanjutan dari Ookagami,  yang menceritakan peristiwa dari zaman Goichijoo Tennoo sampai dengan zaman Takakura Tenno. Cara penuturannya sama dengan Ookagami, yaitu melalui penuturan tokoh buatan yang ditampilkan dalam ceritera.
Konjaku Monotagari
Bersamaan dengan adanya usaha untuk mengenang kembali kejadian-kejadian masa lalu yang timbul pada akhir zaman Heian yang mengakibatan lahirnya ceritera sejarah, perhatian orang juga mulai ditunjukkan untuk mengumpulkan dongeng, ceritera rakyat, dan lain-lain. Sehingga pada akhirnya berhasil diterbitkan sebuah buku kumpulan dongeng yang berjudul Konjaku Monogatari.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar