ILa's Book

ILa's Book
Tertarik dengan buku ini? Silakan pesan via SMS ke 085694771764 dengan Format : Nama, Alamat Lengkap, Judul Buku yg dipesan. Lalu Indiepro akan mengkonfirmasi ongkos kirim ke alamat kamu. Setelah itu, kamu bisa transfer uang pembelian + Ongkos kirim ke no rekening berikut ini : BCA no 0080346719 an Endah Widayati atau BSM no 6007006333 an Dani Ardiansyah

Sabtu, 24 November 2012

Kesusastraan Jepang zaman Pertengahan (bagian ke-2)


ZUIHITSU, NIKKI DAN KIKOO
1.      Zuihitsu (essai)
            Zuihitsu adalah genre sastra Jepang yang terdiri dari esai dan ide-ide yang biasanya bereaksi terhadap lingkungan penulis. Zuihitsu muncul pada zaman Heian, namun berlanjut ke periode Abad Pertengahan, yaitu tepatnya pada zaman Kamakura. Di zaman Heian zuihitsu yang terkenal adalah Makura no Sooshi karya Seishoonagon, sedangkan di zaman Kamakura zuihitsu yang terkenal yaitu Hoojooki dan Tsurezure Gusa.

ü  Hoojooki, adalah sebuah karya pendek yang penting dari zaman Kamakura (1185-1333) di Jepang, yang ditulis oleh Kamo no Chōmei yang berasal dari keturunan agama Shintoo namun matang dalam agama Budha. Peristiwa-peristiwa yang sangat menyedihkan  seperti kebakaran besar, angin topan, kelaparan,  gempa bumi dan lain-lain telah mendorongnya mengasingkan diri dari keramaian dan bertapa di Gunung Hinoyama. Pemikiran-pemikiran agama Budha bahwa segala sesuatu di dunia yang fana ini tidak ada yang abadi dan bahwa dunia ini kotor harus dijauhi dan berdoa demi kebahagian dunia yang akan datang, juga merupakan latar belakang penulisan essei Hoojooki.

Namun isi Hoojooki bukanlah merupakan pelajaran agama Budha, tetapi merupakan pencetusan sikap dan hati pengarang yang memisahkan diri dari kancah kehidupan rakyat biasa, kemudian menyendiri di gubuk yang ada di gunung seakan dia jera akan kehidupan dunia fana ini. Tetapi meskipun demikian, Hoojooki sebagai sebuah essei merupakan suatu karya tulis dengan nada indah dan sangat logis sifatnya. Kamo no Chōmei menulis essei  dimulai dengan kata-kata Yuku Kawa... (Air sungai mengalir...). Maksudnya, pengarang mengungkapkan bahwa segala sesuatu yang ada di dunia fana ini tidak ada yang kekal.
Yuku kawa no nagare wa taezu shite, shikamo moto no mizu ni arazu. Yodomi ni ukabu utakata wa, katsu ki katsu musubite, hisashiku todomaritaru tameshi nashi.byo no naka ni aru hito to sumika to mata kau no gotoshi. Tamashiki no miyako no uchi ni mune wo narabe iraka wo arasoeru takaki  iyashiki hito no sumai wa, yoyo wo hate tsukisenu mono naredo, kore wo makotoka to tazunereba, mukashi arishi ie wa mare nari. Aruiwa kozo yakete kotoshi tsukureri. Aruwa ooie horobite koie to naru. Sumu hito mo kore ni onaji. Tokoro mo kawara zu hito mo ookaredo, inshie mishi hito wa, nisanjuunin ga naka ni wazuka hitori futari nari. Ashita ni shini, yuu ni umaruru narai, tada mizu no awa ni zo nitari keru.
Air sungai selalu mengalir, tetapi airnya akan berbeda. Buih-buih air itu akan pecah dan mengalir, kemudian timbul lagi buih yang baru, tidak ada yang bertahan lama. Manusia dan segalanya dalam dunia ini tak ubahnya seperti air dan buih, tiada yang kekal. Juga rumah-rumah yang berjejer di ibukota. Seakan bersaing dalam kemewahannya. Rumah pembesar maupun rumah si miskin kelihatannya seakan tetap ada sepanjang masa melalui beberapa generasi. Tetapi kalau kita tanya apakah rumah itu ada dari dulu, ternyata tidaklah demikian. Rumah yang lama sudah terbakar kemudian diganti dengan yang baru. Ada juga dulu rumah yang besar, karena sudah hancur tinggallah hanya gubuk kecil saja. Demikian juga penghuninya, selalu berubah tiada yang tetap. Meskipun tempat dan jumlah manusianya tidak berubah, tetapi manusia yang dulu ada 20 atau 30 orang, kini hanya tinggal 2 atau 3 orang saja. Pagi meninggal sorenya lahir, begitulah dunia ini seperti halnya buih-buih yang mengapung di sungai.

ü  Tsurezure Gusa, adalah sebuah essei yang muncul pada akhir zaman Kamakura. Ditulis oleh Yoshida Kenkoo atau nama samarannya yang lebih populer adalah Urabe no Kaneyoshi. Dilahirkan di lingkungan keluarga pendeta agama Shintoo namun ketika berumur 30 tahun, Kenkoo menjadi pendeta agama Budha. Sebagai penyair yang berbakat, dia juga mempelajari sistem adat istiadat kuno, upacara kuno, waka,  agama Budha dan ajaran konfusius (ajaran China). Dengan latar belakang bermacam-macam keahlian diatas, di tempat pengasingan diri yang sunyi dan tenang dia berhasil menciptakan sebuah essei yang dikenal dengan nama Tsurezure Gusa. Essei ini terdiri dari 243 bab tidak termasuk pra kata, yang memuat berbagai hal.
Dengan didasari ajaran agama Budha, dalam buku ini diterangkan bagaimana caranya menghadapi dan mengatasi kehidupan sehari-hari yang penuh liku-liku dan pesoalan yang memang betul-betul dialami setiap orang. Dia memberikan contoh-contoh yang mudah dimengerti sehinga buku itu dapat dikatakan termasuk buku yang berguna bagi pendidikan. Di dalam buku itu ada juga bagian yang isinya berlawanan dengan bagian yang lain, tetapi secara keseluruhan pada umumnya lebih banyak menonjolkan hal-hal yang logis dan rasional, yang mencerminkan cara berfikir penulisnya yang serius dan logis.
“Tsurezurenaru mama ni, hikurashi, suzuri mukaite ni, kokoro wo ni utsuriyuku yoshinashigoto, sokowakatonaku kakitsukureba, ayashū koso monoguruoshikere”.
Dikala senggang dan santai, sehari suntuk menghadapi batu tulis, semua yang terbayang dalam hatiku, langsung kutulis kadangkala kuhapus, tetapi semua yang kutulis itu, membingungkan diriku sendiri.

2.      Nikki (catatan harian)
            Nikki adalah kesusastraan Jepang yang yang merupakan catatan harian yang menarik dan memiliki makna. Seperti halnya Zuihitsu, nikki juga muncul pada zaman Heian namun berlanjut ke periode Abad Pertengahan. Di zaman Heian nikki yang terkenal yaitu Tosa Nikki karya Ki no Tsurayuki, Kageroo Nikki karya Michitsuna (istri Fujiwara Keneie), Izumi Shikibu Nikki dan nikki yang terakhir adalah Murasaki Shikibu Nikki karya Murasaki Shikibu.
            Pada Abad Pertengahan, tepatnya di zaman Kamakura nikki (catatan harian) yang terkenal dan ditulis oleh wanita, yaitu Kenshunmonin Chuunagon Nikki karya Fujiwara Shunzen no Musume, Kenreimonin Ukyoo no Daibutsu karya Kenreimonin Ukyoo no Daibu, Nakatsuka Naishi Nikki karya Benno Naishi. Selain itu ada juga nikki yang berjudul Towazugatari karya Gofukakusain Nijoo yang dianggap unik dan mempunyai warna tersendiri.
            Selain nikki yang ditulis oleh wanita, ada juga nikki yang ditulis oleh pria dalam huruf kana, antara lain Haru no Miyamaji karya Asukai Massari dan Soochoo no Shuki karya Soochoo. Soochoo no Shuki adalah salah satu nikki yang menarik karena menggambarkan kehidupan penyair pantun Renga.

3.      Kikoo (catatan perjalanan)
Dengan dibukanya Kamakura sebagai pusat pemerintahan Bakufu, menyebabkan pusat kegiatan politik terbagi menjadi dua tempat yaitu Kyooto dan Kamakura. Akibatnya kedua tempat tersebut banyak dikunjungi pelancong yang menyebabkan timbulnya kesusastraan Kikoo.
            Kesusastraan kikoo adalah jenis catatan perjalanan. Kikoo ini baru di muncul di periode Abad Pertengahan, dan contoh kikoo yang terkenal adalah Kaidooki dan Tookankikoo. Tookankiko merupakan salah satu contoh kikoo yang ditulis dengan campuran gaya bahasa Jepang dan gaya bahasa China.
            Salah satu Kikoo yang terkenal selain kedua Kikoo yang sudah disebutkan diatas adalah Isayoi Nikki yang ditulis oleh Abutsuni, istri Fujiwara Tameie. Kalimat dan gaya bahasanya sangat indah dan halus karena sangat menonjolkan sifat kewanitaan penulisnya. Isayoi Nikki melukiskan kisah perjalanan dari ibukota Kyooto menuju Kamakura dan keadaan kehidupannya selama bertempat tinggal di Kamakura.
            Setelah Zaman Nanbokuchoo berakhir, keadaan lalu lintas bertambah maju dan ramai, sehingga memungkinkan banyak orang bepergian atau bertamasya. Hal ini menyebabkan banyak sekali karya kesusastraan kikoo muncul. Tetapi kikoo yang dapat dikatakan bernilai tinggi setelah Zaman Nanbokuchoo berakhir hanyalah Tsukushi no michi no Ki karya Soogi.

HOOGOO DAN KANBUNGAKU
1.      Hoogoo
            Hoogoo adalah essei tentang teori agama Budha yang ditulis dengan katakana. Pendeta Zaman Kamakura yang berasal dari tiap aliran agama pada umumnya menulis essei yang mengandung ajaran agama Budha dan isinya mencerminkan entusias beragama Budha. Buku tersebut dimaksudkan untuk memberikan penerangan ajaran agama Budha secara sederhana pada masyarakat agar mudah dipahami. Maksud dan tujuan pembuatan buku tersebut seperti disebutkan diatas adalah untuk penyebaran agama Budha secara menyeluruh dan memberikan pengertian tentang agama Budha kepada masyarakat yang belum mengetahuinya. Tetapi walaupun demikian, Hoogoo  dianggap termasuk salah satu macam karya sastra.
Beberapa Hoogoo yang terkenal diantaranya adalah Kurotani Shoonin Gotooroku karya Hoonen, Matsutooshoo dan Ippenshoonin Goroku karya Shinran. Sedangkan karya yang mendapat reputasi baik adalah karya pendeta sekte Nichiren bernama Doogen dengan judul Shooboogenzoo yang berisikan pandangan dan pemikiran yang luas, dalam dan logis. Selain itu, buku yang berjudul Gobunshoo yang ditulis oleh Rennyo pada Zaman Muromachi juga sangat disenangi masyarakat.

2.      Kanbungaku
            Kanbungaku adalah kesusastraan China yang berkembang di Jepang. Kanbungaku mencapai puncak kepopulerannya yaitu pada awal zaman Heian, dimana saat pantun waka mengalami kemunduran. Namun sejak pertengahan zaman Heian, pengaruhnya mulai mundur dalam dunia kesusastraan Jepang. Tetapi pada zaman Kamakura, sekte Zenshuu agama Budha masuk ke Jepang yang bersamaan dengan terjadinya hubungan yang erat antara pendeta agama Budha Jepang dengan pendeta agama Budha China. Para pendeta kedua negara ini saling mengadakan kunjungan, sehingga kesusastraan dinasti Soo (Sung) dan Gen (Yuan) ikut masuk ke Jepang. Dengan demikian Kanbungaku mulai berkembng di Jepang.
            Dari akhir Zaman Kamakura sampai Zaman Muromachi, para pendeta agama Budha dari sekte Zen (sama dengan Zenshuu) banyak menghasilkan karya kesusastraan, terutama mereka yang bermukim di kuil-kuil Gozan, kesusastraan ini disebut Gozan Bungaku (kesusastraan Gozan). Sebagai pelopornya adalah seorang pendeta agama Budha yang berasal dari dinasti Gen (Yuan) dan telah menjadi orang Jepang bernama Issan Ichinei. Muridnya yang bernama Kokan Shiren banyak meninggalkan karya kesusastraan berupa syairdan kritikan yang sangat bernilai.
            Pada akhir Zaman Nanbkuchoo muncul dua orang bernama Gidoo Shuushin dan Zekkai Chuushin yang membawa kesusastraan Gozan mencapai puncak zaman keemasannya. Mereka berdua mendapat kepercayaan dari jendral Ashikaga Yoshimitsu yang berkuasa pada waktu itu. sehingga menjadi penasehat dalam bidang kebudayaan dan spiritual.
            Setelah memasuki Zaman Muromachi, kesusastraan Gozan pada mulanya masih populer, tetapi lama kelamaan menjadi mundur karena orang-orangnya mendapat perlindungan pemerintah Bakufu, sehingga mereka lebih banyak mencurahkan tenaganya untuk kepentingan kaum penguasa. Namun biarpun demikian, kesenian dan kebudayaan Zen yang pernah berkembang pesat terutama pada Zaman Nanbokuchoo yang telah merembes kemana-mana dan memberi pengaruh yang besar kepada kebudayaan dan kesenian tidak dapat kita abaikan.

KESUSASTRAAN DRAMA DAN KAYOO
1.      Noh
Noh ialah bentuk utama drama musik Jepang klasik yang telah dipertunjukkan sejak abad ke-14. Noh terdiri dari Utai (yaitu cerita dalam gaya syair yang dibawakan pada waktu pementasan), Hayashi (yaitu musik yang mengiringi Utai pada waktu   pementasan) dan Shosa (yaitu tarian atau lakon yang dipertunjukkan pada waktu pementasan).                Noh di Itsukushima
           
Kesenian Noh sudah ada  sejak zaman Heian, dan pada zaman itu Noh yang sangat popular adalah Noh jenis Dengaku. Namun, pada akhir zaman Nanbokucho dan awal zaman Muromachi muncullah seorang tokoh bernama Kannami bersama anaknya bernama Zeami. Kedua orang ini berhasil menciptakan drama Noh Sarugaku, yang diciptakan dengan mengolah dan mengambil unsur-unsur baik dari berbagai kesenian Noh yang ada pada waktu itu. Dewasa ini yang dimaksud dengan Noh atau Noogaku adalah Noh Sarugaku yang diciptakan oleh kedua tokoh ini. Pantun atau syair yang dibawakan pada waktu pementasan disebut Yookyoku.
Kesenian Noh yang lain yang ada pada Abad Pertengahan yaitu karya dari Konbaru Zenchiku. Kesenian Noh yang dibahasnya mempunyai ciri – ciri yang berbeda, karena dia memasukkan pengaruh Zen dan Kagaku ke dalamnya. Drama Noh yang diasuh oleh tokoh – tokoh diatas mendapat perhatian  dan perlindungan dari keluarga samurai yang berkuasa pada waktu itu, disenangi oleh keluarga bangsawan, para pendeta dan penduduk di daerah, sehingga dapat bertahan sampai sekarang.
Yookyoku yang merupakan skenario drama Noh yang dipentaskan dewasa ini kira–kira berjumlah 240 buah, yang dibagi menjadi lima babak menurut urutan pementasannya, yaitu :
a.       Babak I, disebut Wakinoh.
Isinya terdiri dari ceritera mengenai dewa – dewa atau mengenai suatu upacara tanda syukur.
b.      Babak II, disebut shuramono.
Isinya terdiri dari ceritera yang bertemakan seorang samurai yang telah meninggal dalam pertempuran.
c.       Babak III, disebut Kazuramono
Isinya terdiri dari ceritera yang menjadikan wanita atau roh wanita sebagai tokohnya.
d.      Babak IV, disebut Genzaimono
Isinya terdiri dari ceritera mengenai kejadian yang ada pada zaman yang bersangkutan, atau ceritera lain yang beraneka ragam.
e.       Babak V, disebut Kirinoh
Isinya mengenai setan atau ceritera mengenai binatang buas.
Kelima babak di atas ada kalanya disingkat menjadi babak Shin (dewa), babak Nan (laki – laki), babak Nyo (perempuan), babak Kyoo (gila) dan babak Ki (setan). Pembabakan seperti itu dengan isi yang berlainan yang diatur sebagai urutan pementasan pada sebuah drama Noh dimaksudkan untuk menghasilkan nilai yang semaksimal mungkin.
Kesenian Noh bersifat klasik dan banyak mengandung unsur – unsur agama Budha. Kalimat – kalimatnya yang berirama banyak mengambil pantun kuno dengan susunan tujuh lima atau empat. Selain itu, pada Noh banyak dipakai kata – kata yang mempunyai arti rangkap yang sangat digemari pada waktu itu. Secara keseluruhan, drama Noh mempunyai sifat – sifat agung, simbolik dan khayalan yang merupakan kesenian yang mewakili zaman Pertengahan.
2.      Kyoogen
Kyoogen adalah sejenis lawak yang erat hubungannya dengan Saraguku dan Noh, karena itu disebut juga Noh Kyoogen, dipentaskan di tengah pertunjukan Noh, yaitu diantara babak yang satu dengan babak yang berikutnya. Kyoogen suda ada sejak zaman Kannami dan anaknya Zeami. Pada zaman Kannami isi Kyoogen ini belum tetap, selalu berubah – ubah tergantung waktu dan tempatnya. Setelah memasuki akhir zaman Muromachi barulah isi dan temanya mencapai kestabilan.                                                       Nenbutsu Kyogen
Kyoogen merupakan suatu pertunjukan yang dititik beratkan pada dialog dan gerak. Dalam dialog ini selalu dipergunakan kata – kata yang popular pada masa yang bersangkutan. Berbeda dengan Noh yang sangat hidmat, simbolik dan dipusatkan pada tari dan lagu. Kyoogen bersifat ringan dan jenaka yang menggambarkan peristiwa atau kejadian – kejadian yang masih hangat dalam masyarakat. Dengan kata lain Noh yang dapat dikategorikan pada kesenian yang menonjolkan kehalusan dan keindahan, sedangkan Kyoogen sangat bersifat kerakyatan yang mengandung unsur – unsur realita.
Kyoogen yang kurang lebih berjumlah 300 buah ceritera, dibagi dalam beberapa jenis. Pertama yaitu Kyoogen yang berhubungan dengan selamatan yang disebut  Wakil Kyoogen, seperti lakon Suehirogari. Ada juga lakon yang berhubungan dengan Daimyoo yang disebut dengan Daimyoomono, misalnya lakon Hagi Daimyoo, yang berhubugan dengan Muko Onna yang disebut dengan Muko Onna Mono seperti Hoochoo Muko yang berhubungan dengan Oniyamabushi, yang berhubugan dengan Shukke Zatoo yang disebut dengan Shukke Zatoo Mono seperti Fusenaikyoo. Selain itu ada juga lakon yang berjudul Urinusubito, Hanago dan lain – lain.
Pementasan Kyoogen merupakan selingan dalam drama Noh yang bertujuan membuat gelak tawa penonton yang lelah dan tegang selama menyaksikan drama Noh. Namun akhirnya Kyoogen merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari drama Noh.
3.      Kowakamai
Kowakamai adalah suatu seni tari pada zaman Muromachi yang terbentuk setelah adanya Noh. Kowakamai dipelopori oleh seorang anak Samurai Zaman nanbukuchoo, yang bernama Kowaka Maru (nama aslinya adalah Momonoinao Akira). Tarian dalam Kowakamai ini sangat bersahaja, rupanya yang menjadi bagian terpenting adalah isi cerita yang merupakan lagu – lagu yang mengiringi tarian tersebut. Ceritera ini masih ada sekitar 52 buah yang sebagian besar merupakan lagu – lagu yang menceritakan tentang Hooganmono atau lagu yang digubah berdasarkan cerita tentang samurai bernama Minamoto no Yoshitsune seperti Eboshiori, Takadachi dan lain – lain. Tetapi ada juga yang disebut Sogamono, yaitu lagu yang menceritakan Soga Bersaudara yang berkelahi demi membela orang tuanya, misalnya Wada Sakamori,  Youchi Saga dan lain – lain. Selain itu ada juga ceritera sejenis yang mempunyai cir- ciri agak lain yaitu Yuriwaka Daijin.
Secara keseluruhan, ceritera – ceritera ini mengandung isi tentang samurai, tentang perang yang menandakan bahwa zaman Muromachi telah diisi dengan peperangan yang berkepanjangan. Tarian ini nampaknya disukai kaum samurai, tetapi karena isinya yang bersifat kemiliteran hamper tak pernah mengalami perubahan. Setelah memasuki zaman Edo, tarian ini lambat laun menjadi hilang.

4.      Enkyoku, Wasan dan Kouta
Enkyoku dan Wasan adalah nyanyian rakyat yang popular pada zaman Kamakura. Enkyoku disebut  juga Sooka, yaitu nyanyian yang dinyanyikan para samurai dan bangsawan pada waktu pesta. Sekitar zaman Kamakura dan Muromachi, nyanyian seperti ini sering dibawakan sambil memainkan kipas. Nyanyian ini ada sekitar 173 buah, diantaranya adalah yang dimuat dalam Enkyokushuu. Nyanyian ini sangat indah yang digubah berdasarkan episode dalam gaya bahasa Jepang dan Cina. Kelihatannya mempunyai hubungan yang erat dengan agama Budha selain mengambil pengaruh dari nyanyian rakyat zaman Heian.
Wasan pada zaman Kamakura sangat berpengeruh dalam penyeberangan agama Budha, terutama aliran Joodokyoo yang dipelopori oleh Shinran, Ippen dan Taa. Nyanyian yang diciptakan ketiga pelopor agama ini sangat terkenal.
Setelah memasuki Zaman Muromachi timbullah Kouta, diantaranya dimuat dalam Kaginshuu yang berjumlah kira – kira 310 buah. Kaginshuu mengandung bermacam – macam nyanyian seperti Sooka, nyanyian yang berasal dari Waka seperti yang sering dibawakan dalam Dengaku, Sarugaku dan lain – lain. Selain itu masih banyak nyanyian yang popular pada zaman ini yang melagukan perasaan sedih dan sentimental.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar