Selasa, 16 Oktober 2012

Apakah ini Cerpen, atau hanya sebuah Percakapan?




            

“Aku ingin bicara banyak hal padamu.”

Bicara saja.”

            “Tapi aku tidak tahu harus memulai darimana. Kau tahu aku kan, aku tidak tahu bicara.”

Hahah..katamu tidak tahu bicara, lalu sekarang ini kau sedang apa namanya?

            “Maksudku…”

Iya…iya aku tahu. Kau mau bicara apa?

            “Aku seperti dihindari”

Maksudnya?”

            “Iya, aku merasa dihindari oleh teman-temanku.”


Memangnya ada apa? Kau berbuat salah pada mereka?

            “Nah itu dia, aku tidak tahu, apakah ini salah atau tidak.”

Ahh..aku semakin tidak mengerti.”

            “Tuh kan, makanya aku jarang ngomong, orang-orang tidak mengerti apa yang kukatakan. Termasuk dirimu.”

Maaf..maaf…

            “Tak ada alasan kau meminta maaf, kau tak salah. Aku yang…”

Sudah..sudah… lanjut apa yang ingin kau bicarakan tadi.

            “Iya. Begini… aku merasa dijauhi oleh teman-temanku, tadi saja aku mendapat kata-kata menyakitkan dari mereka.”

Boleh aku tahu kata-kata itu?

            “Tak usah, tak ada pengaruhnya juga…”

Baiklah, terserah dirimu saja.

            “Mungkin karena salahku juga, tapi arrgggghhh… aku juga tak tahu.”

Aku tak akan mengerti jika kau tak menceritakannya.

            “Ok, aku akan menceritakannya. Dengar baik-baik. Aku tak pernah ke 'sana' , aku tak menemukan diriku disana, aku merasa orang asing disana, jadi aku jarang kesana.”

Itu artinya, kamu yang menjauhi temanmu, bukan mereka yang menjauhimu.

            “Tapi bukan karena temanku, tapi karena tempatnya, aku seperti ikan tanpa air di sana. Aku tetap ingin bersama temanku, aku sangat menyayangi mereka, tapi aku tak bisa 'sana', sungguh aku hanya membohongi diriku jika kesana.”

Katamu kau masih menyayngi temanmu, tapi kau tak bisa ke 'sana', di 'sana' kan tempatmu dengan teman-temanmu.

            “Ya, seperti itulah, kadang aku juga tak mengerti diriku. Ada sesuatu, sesuatu yang tak pandai kukeluarkan lewat suara, seperti yang kukatakan tadi.

Tapi yang kau tahu dan bisa kau deskripsikan, apa? Coba katakan!

            “Aku tak suka bicara formal.”

Heh.. maksudmu? Berhenti membuatku bingung.

            “Ternyata kau benar-benar belum mengenalku.”

Maaf

            “Lupakan! Aku memang kadang terdengar sangat cerewet, tapi coba perhatikan, ada berapa orang disekitarku jika aku bicara banyak. Iyya, tak lebih dari lima orang. aku tak tahu berbicara di depan orang banyak, mungkin lebih tepatnya malu.”

Ooo…

            “Juga, di sana ada banyak aturan, dan kau tahu aku sangat benci aturan, aku suka kebebasan, aku suka melakukan apapun, meski ternyata saat di sana, aku tak bisa melakukan apapun, aku harus menjadi orang lain, menjadi ikan yang pura-pura bertahan hidup meski di sekitarnya tak ada air.”

Wah, kau terlalu puitis. Hahahha

            “Beginilah aku…hahahah”

Semakin banyak hal yang kutahu darimu, semakin tak kumengerti dirimu.

            “Dan aku sendiri juga sebenarnya tak mengerti diriku sendiri.”








nb: Terima kasih buat seorang teman yang tadi kutemui, tulisan ini tidak akan hadir jika kata-kata menyakitkan itu tidak kau tujukan padaku. ^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar