Minggu, 30 September 2012

It's Hurt, But Must


Bismillah…
            Aku akan melawan rasaku, aku akan menghadapi semua. Tapi aku tak bisa tanpaMu Tuhan, aku butuh bantuanMu.

Setelah hampir seminggu meninggalkan kampus, kini aku mengumpulkan kekuatan untuk memberanikan diri menginjakkan kembali kakiku di kampus merah itu.
Entahlah ada apa di sana, tapi aku merasa terhimpit jika berada di bumi kampus itu. Aku merasa berada di dunia tekanan. Aku tak bisa.

How to Understand My Self


Bagaimana cara orang lain mengerti apa inginku sedang aku sendiri tak mengerti apa sebenarnya yang kuinginkan.

Aku selalu saja menuntut orang lain mengerti apa yang kurasa tanpa kukatakan hal itu. Kini aku sadar, bagamaina cara mereka mengerti kalau aku tak mengatakannya. Memangnya mereka punya indra ke-6 untuk bisa membaca fikiranku. Tentu saja tidak, kan!?! Tapi aku tak punya keberanian untuk mengeluarkan kata-kata itu. aku tak memiliki keberanian untuk berbicara, untuk share, untuk berbagi. Aku selalu takut. Aku takut berbicara apa saja, entah itu masalah hati ataupun masalah sepele. Aku takut ada hati yang tersakiti, aku takut ada yang salah paham dengan kata-kataku, aku takut ada yang terluka. Untuk itu aku menulis saja, aku menulis semuanya, aku hanya membaginya pada yang tak memiliki mulut untuk dibagikan ke orang lain. Karena bagiku dengan menulisnya hanya aku dan kertas itu dan pastinya Tuhan yang tahu.
Meski begitu, kadang ada saat aku ingin semua tahu, aku ingin semua mengerti. But, bagaimana caranya? Aku juga tak mengerti. Memangnya, mengerti diri sendiri itu susah ya, sangat susah ya? Jadi kalau diri sendiri saja tak mengerti, apakah ada orang lain yang mengerti, atau mau memngerti? Entahlah…

Senin, 24 September 2012

Gadis Berjilbab Biru


Catatan gadis berjilbab biru

            24 september 2012,
            Pagi telah menyapa dengan indah. Aku lunglai bingung hendak kemana hingga petang datang menutup segalanya. Sejak tadi aku hanya terdiam tapi ternyatakini telah malam.

            Alarm di Hp gadis itu berbunyi, menandakan subuh telah dimulai. Ia bangun dan bergegas untuk menunaikan kewajibannya.
            Setelah selesai beribadah, gadis itu duduk di sudut tempat tidur. Ia menatap ke arah jam dinding, jarum jam menari menghibur  matanya, namun ternyata mata itu sama sekali tak menikmatinya, tatapannya kosong. Ada apa dengannya? Semangat itu kemana?
            Ia menyiapkan segala sesuatu untuk ke kampus. Dan ya masih tetap sama, semangat yang hilang masih menemaninya.
            Saat di kampus gadis berjilbab biru itu berusaha semaksimal mungkin tetap terlihat ceria, namun sepertinya itu benar-benar susah. Dan sepertinya kejadian-kejadian di kampus secara penuh mendukung lahirnya sebab-sebab tangis yang sedikit lai akan tumpah. Namun gadis berjilbab biru itu berusaha melawan, ia berusaha menutup rapat celah hingga air mata itu tidak memiliki rembesan untuk keluar. Hari itu kuliah ia lalui dengan senyum, canda dan tawa yang mungkin bisa dibilang kepura-puraan.
            Kelemahan hati dan semangat yang hilang berimbas saat di perjalanan pulang, gadis berjilbab biru itu melamun, kosong tatapan itu terlihat jelas di bola matanya. Hingga ia tersentak saat ia hampir menabraak kendaraan lain. Klakson yang berbunyi panjang menyadarkannya dari lamunan dan berusaha kembali fokus pada jalanan meski itu terasa susah.
            Tiba di rumah, kejadian menyesakkan tak bisa dihindari, pesan yang masuk di Hp mungilnya membuatnya shock dan menuntutnya untuk berfikir panjang. Ia harus berfikir keras untuk masalahnya sendiri, ia mengecam pada dirinya untuk tidak lagi meminta bantuan padanya. Untuk itu dia meminta bantuan pada orang lain, dan itu membuatnya harus mengesampingkan rasa gengsi agar ia tak mati termakan oleh masalah-masalah.
            Gadis berjilbab biru itu melewati hari di tanggal 24 september dengan hal yang menuntutnya untuk bersikap dewasa, meski itu sangat sulit.

Minggu, 23 September 2012

Berbuat Baik





Pernah tidak berbuat baik, atau paling tidak menerima kebaikan? Pasti kalau ditanya seperti itu jawabannya ‘tentu saja pernah’. Jika ada yang menjawab tidak, sepertinya ada hal yang salah. Entahlah hal itu hal apa, yang pasti ada yang salah jika kita tidak pernah satu kalipun berbuat baik atau satu kalipun menerima kebaikan. Kebaikan, yaaa hal yang sering kali kita dengar, ucap dan temui. Tidak ada yang aneh dan ganjil dari kata itu tapi sepertinya aku merasa tergelitik untuk menulis tentang ‘kebaikan’.


Ada tidak diantara kita yang pernah menanyakan pada diri sendiri atau orang lain ‘mengapa kita harus berbuat baik?’ jika pernah, apa kalian sudah menemukan jawaban yang kalian inginkan? Tapi jika memang tak pernah bertanya demikian, itu juga bukan suatu masalah. Aku pernah bertanya pada beberapa orang, dan inti dari semua jawaban mereka adalah ‘berbuat baiklah meskipun kau sama sekali tidak tahu apa alasan kau berbuat baik’. Juga kata mereka ‘berbuat baik itu tak memandang siapa, lakukan pada semua’. Aku juga pernah membaca tulisan seorang penyair yang bernama Aan Mansyur, katanya begini ‘Berpura-puralah berbuat baik hingga kau lupa bahwa kau berpura-pura’. Dan aku yakin, pasti semua agama di dunia ini menganjurkan kepada umatnya untuk senantiasa berbuat baik. Sepenting itukah berbuat baik?


Menurutku, berbuat baik sama pentingnya dengan beribadah, atau bisa dibilang berbuat baik bagian dari ibadah. Bagaimana tidak, jika kita tak berbuat baik alias kita berbuat jahat, entah apa yang terjadi di dunia ini. entah bagaimana hidup kita. mungkin perang sudah terjadi dimana-mana. Tak ada lagi cinta, tak ada lagi kasih, lebih-lebih tak ada lagi sayang.


Tapi bagaimana jika niat baik kita untuk berbuat baik disalah artikan, bahkan dengan jujurnya dia berkata kalau dia sakit hati dengan perbuatan kita, meskipun menurut kita itulah hal atau perbuatan paling baik untuknya. Aku kadang tak mengerti. Jadi aku sering bertanya (lagi) ‘apa perlu kita menjadi jahat agar mereka bahagia?’ kan tujuan hidup mencari bahagia, tak perlu menilai baik buruk yang penting bahagia (menurutku). tapi sebuah kalimat kembali menyadarkanku ‘Lebih baik sakit hati tapi jujur, dari pada bahagia tapi penuh kebohongan.’ Jujur itu kan kebaikan, jadi intinya berbuat baiklah, berbuat baik pada semuanya.




Special thanks buat Isnanda Saputra yang sudah menghadirkan ide untuk artikel mini ini... ^^ 


-Ila-

Sushi-sushian ala ila


hari minggu dan gak tahu mau ngapain gara-gara perut lagi gak bersahabat. Tapi karena aku juga gak bisa tinggal diam di kamar jadi dah ide muncul. Yap, memasak. Sepertinya memasak bakalan sedikit engurangi ingatanku tentang sakit perut. Beranjak dari tempat tidur ke dapru. Bibirku langsung manyun saat buka kulkas, gak ada apa-apa… uufffttthhh… mau masak apa kalau begini. Yang ada cuma telur dan nasi… diam sejenak. Ahha.. mending buat Shushi aja, tapi daging dan sayurnya gak ada. Mmm… sepertinya bakalan ada penjual sayur yang lewat. Ok lah, saya akan menunggu. Allah sangat menyayangiku dengan tidak membiarkanku menunggu lama, beberapa menit kemudian penjual sayur lewat di depan rumah, dan berhenti, ajaib..! ok, aku keluar dan membeli beberapa sayur.
Karena memang bahan tidak mendukung jadi kita buat sushi-sushian aja, yaa mirip shushi tapi bisa dibilang bukan shushi, aduh apa sih… hahahah

Ok..ok..ok..
Karena bahan udah siap, kita masak aja yok…

Nih bahan-bahannya


telur, dikocok lalu campur dengan bumbu penyedap



sayur-sayuran

nasi, jika ada nasi yang sedikit lengket. tapi jika tidak ada, nasi biasa juga tak masalah




 
Setelah melakukan ini itu dan beberapa keajaiban, jiiiiaaahhhh…
Jadi deh seperti ini. ini masih tergulung, belum dipotong-potong.


 







Dan tetttedeeeee.... ini dia sushi-sushian ala ila... hahahahha
mau coba? datang aja ke kerumah... hohohohoh ^^