Sabtu, 31 Maret 2012

Mencari Inspirasi




Libur, tinggal di rumah sepertinya sangat membosankan.

Kuputuskan untuk jalan-jalan bareng Shiro (motor kesayanganku) ke salah satu Mall di Makassar. Siang itu matahari sangat terik, tapi tidak menyulutkan niatku untuk mencari inspirasi sekaligus menghilangkan penat selama seminggu penuh dengan rutinitas kuliah.

Tiba di sana tujuan utamaku adalah toko buku gramedia. Yaaa… memang sebelum berangkat saya sudah merencanakan menghabiskan waktu banyak di toko buku. Alhasil empat jam saya nongrong di gramedia. banyak buku yang saya baca, tapi cuma satu buku yang dari awal sampai akhir selesai.
Mulai dari buku sastra, novel, kumpulan cerpen, kumpulan puisi sampai buku pelajaran bahasa Jepang.

Inspirasi mulai bermunculan dari sana, banyak ide-ide segar yang diproduksi oleh otakku. Namun bukan hanya inspirasi untuk menulis, semangat untuk menjalani hidup serta semangat untuk berbuat baik juga saya dapatkan dari buku-buku itu.
Benar kata salah satu orang hebat di Indonesia “Penjarakanlah aku dengan buku, karena dengan buku aku bebas”

Aku mencintai buku.

Itu yang saat ini aku rasakan. Entah mengapa aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk bercengkrama dengan buku.
Karena dengan buku aku belajar ikhlas, aku belajar kuat, aku menemukan kemerdekaan, aku mendapat motivasi untuk menulis, aku mengetahui semua yang ada di belahan dunia manapun, dan masih banyak lagi yang disuguhkan oleh buku kepadaku. 

Selesai kita membicarakan buku.

Aku ingin sedikit berceri tentang semua hal yang terjadi selama perjalananku menghilangkan penat dan mencari inspirasi.
Saat memasuki gramedia, saya kaget, di hadapanku ada para pemain film Negeri 5 Menara. Senangnya… aku bisa melihat mereka secara langsung. Tapi yang paling menonjol diantara mereka adalah tokoh Baso. Dia begitu dielu-elukan pengunjung. Mungkin karena tokoh Baso berasal dari Makassar, tepatnya Gowa. Tokoh yang sangat menginspirasi, menurutku.

Tak lama, mereka pamit dan acara talk show selesai.

Merasa perut keroncongan, saya dilema antara makan di sini atau makan di rumah. Tapi mungkin karena dorongan cacing di perutku, akhirnya aku memutuskan untuk makan di salah satu tempat makanan cepat saji. Ramai, terlalu ramai sehingga memaksaku untuk segera beranjak dari tempat itu.


Blank…. Aaaarrrrgggghhhhh…. Aku lupa kejadian demi kejadian yang terjadi tadi, kejadian yang memberi sejuta inspirasi. Padahal tadi saya sudah berjanji pada diri sendiri untuk menulis semuanya…. Maaf!


-ILa-

Kamis, 29 Maret 2012

HUT OXAVIA "VIDI" ALDIANO


お誕生日 おめでとう ございます。。。。。。。

selamat ulangtahun Vidi....

tepat hari ini 29 maret penyanyi solo Indonesia, Vidi Aldiano berulangtahun yang ke 22. Hmm... masih muda yaa.. hehehehe

bingung, saya tidak bisa menemukan kata-kata untuk sekedar ucapan selamat yang diberikan oranglain untuk mereka yang ulang tahun.
mungkin hanya doa yang bisa saya titip untuknya lewat Tuhan.


Selamat Ulang Tahun Vidi....


tetap jaga senyum manismu itu... :p


-ILa-

Rabu, 14 Maret 2012

UNO



“Aku datang…‼!” teriakku dari arah luar pintu. Tak ada tanggapan, bahkan tak ada suara. Aku heran, biasanya mereka dengan suara yang tak mau dikalah membalas teriakanku saat aku datang. Dengan langkah penasaran, aku mengendap-ngendap dari balik pintu. Aku tak mau langsung masuk, aku mengintip lewat celah-celah pintu yang tak tertutup rapat. “Loh, kok mereka saling berhadapan, membentuk lingkaran malah.” tanyaku pada diri sendiri. “mereka terlihat sangat serius. Tak ada sedikitpun suara yang keluar dari lingkaran itu. Ada apa ini?. Namun tiba-tiba suara tawa terbahak-bahak pecah dari lingkaran itu. Mereka tertawa terpingkal-pingkal. Mataku tertangkap oleh mata salah satu dari mereka. “Hei, kau sudah datang? Tumben tidak teriak!” ucapnya sambil memperbaiki posisi duduknya. “Hah..! tidak teriak? Suaraku parau gara-gara teriak dari tadi, kalian tuh yang tidak mendengarnya.” Aku masuk kemudian menjatuhkan tas, “Kalian sedang apa sih? Terus ditangan kalian itu apa?” rasa penasaranku semakin menjadi-jadi karena tak satupun dari mereka yang menggubris pertanyaanku. Mereka hanya tersenyum, tertawa sejenak, serius kembali lalu tertawa lagi. Arrrrrggghhhh mereka sedang apa sih?

“Uno!” aku kaget mendengar salah satu dari mereka berteriak kencang disusul tawa sejenak.
“Hei! Ini apa? Kalian sedang bermain apa?” suaraku meninggi.
Mungkin karena mereka sudah benar-benar menyadari keberadaanku, salah satu dari mereka akhirnya buka mulut.” Ini permainan uno, mau ikut main?” tanyanya.
 “Ikut main? Liat aja baru kali ini!” ucapku.
“Hah? Baru liat? Duh… kemana aja, kampungan banget!” suara itu dan kalimat itu seperti menamparku.
“Ini permainan sudah lama, makanya gaul dikit dong!” panas rasanya mendengar kata-kata itu.
“kalau gitu, perhatikan saja dulu, permainan ini gampang kok” kata bijak ini bisa menetralkan suhu yang mulai memanas dalam hatiku.
“okelah” ucapku pendek
Akhirnya rasa penasaran itu menguap juga, aku mulai memperhatikan jalannya permainan yang mereka sebut permainan Uno. Satu demi satu kartu yang mereka turunkan dan cara serta aturan-aturan yang berlaku dipermainan itu kucermati. Dalam hati aku bergumam, “Meskipun aku baru menemukan pemainan ini, aku pasti tidak akan kalah dari kalian!” Beberapa menit kemudian setelah enam kali permainan terulang, akhirnya saya memberanikan diri untuk bermain. Tujuh kali permainan diulang, aku selalu jadi yang terbelakang. Dongkol, tepatnya pada diri sendiri. Kenapa aku tidak bisa maju-maju. Permainan ke delapan, entah ada angin dan malaikat dari mana, aku yang pertama kali yang berteriak UNO!

END


Kira-kira si Aku ini, menang atau tidak ya???


Cerita ini terinspirasi dari permainan uno saat di basecamp Jlo tadi sore.
Terimakasih sudah mengajariku bermain Uno… ^^



-ILa-

Jumat, 09 Maret 2012

TOKYO -YUI-

key: G
b>Intro: G Am7  G C  G Am7  G C   
  
G       D               Am7  C  
Sumi nareta kono heya wo  
   Em7   D           C   
Dete yuku hi ga kita  
G      D                Am7 C     Em     D            C  
Atarashii tabidachi ni     iii    mada tomadotteru  
G Am7   D                 G     D   Em   
   Eki made mukau BASU no naka  
 Am7               D  
Tomodachi ni MEERU shita  
D            C             D             Em7  
Asa no HOOMU de denwa mo shitemita  
          C         D              Em7  
Demo nanka chigau ki ga shita  
          C            D        Em7  
Furui GITAA wo hitotsu motte kita  
    C                  D         Em7  
Shashin wa zenbu oitekita 
C                   D         Bm7                Em7  
    Nanika wo tebanashite soshite te ni ireru  
Am7      D            G Am7 G C  
Sonna kurikaeshi ka na?  
C       G         D      Am7  C   Em7    D        C 
     Tsuyogari wa  itsudatte yume ni tsuduiteru  
   G     D          Am7  C        Em      D        C  
Okubyou ni nattara soko de togireru yo  
G       Am7      D     G  D       Em  
Hashiri dashita densha no naka  
Am7               D  
Sukoshi dake naketekita  
D           C           D           Em7          C   
Mado no soto ni tsuduiteru kono machi wa  
        D        Em7        C 
Kawara nai de to negatta  
     C         D      Em7       D      C 
Furui GITAA wo atashi ni kureta hito  
   C                  D          Em7  
Toukyou wa kowaitte itte ta  
               C              D Bm7    Em7  
Kotae wo sagasu no wa mou yameta  
Am7        D         G D    
Machigai darakede   ii  
G     D           Am7          C    
Akai yuuyake ga BIRU ni togireta  
  Em7        D           C  
Namida wo koraetemo  
G           D           Am7            C 
Tsugi no asa ga yattekuru tabigoto ni  
   C Em        D               G 
Mayou koto datte aru yo ne?  
             D         C D   Em7  C 
Tadashii koto bakari erabe nai  
C        D          Em7  
Sore kurai wakatteru  




+- CHORDS USED -------------+
|                           |
| G - 3,2,0,0,3,3           |
| Am7 - X,0,2,0,1,0         |
| C - X,3,2,0,1,0           |
| D - X,X,0,2,3,2           |
| Em7 - 0,2,2,0,3,0         |
| Em - 0,2,2,0,0,0          |
| Bm7 - X,2,4,2,3,2         |
|                           |
+___________________________+

e-Chords.com - Copyright - All Rights Reserved.

seharusnya, SAAT INI AKU TIDAK BOLEH MENYUKAI SESEORANG

bukan karena aku telah memiliki orang lain, bukan pula karena aku dilarang. tapi aku hanya ingin menghindar, menghindari perasaan yang bernama kecewa.







kejadian beberapa tahun lalu sepertinya akan terulang lagi...
sebenarnya bukan akan lagi, tapi kini terulang lagi dengan orang yang berbeda.


setiap hari aku menceramahi diri sendiri agar saat ini aku tidak jatuh cinta. aku tidak boleh mengagumi seseorang, karena dengan rasa kagum itu akan tumbuh benih pohon baru yang kunamakan pohon cinta.


tapi bagaimana caraku untuk menata rasa untuk tidak kagum padanya, dia terlalu indah untuk kubiarkan tak kukagumi. bahkan salah satu hari di bulan ini dia membuka mata hatiku untuk melihat ada beberapa orang yang sebenarnya menyadari adanya jiwa di dalam tubuhku, dia menghancurkan pengkotak-kotakan itu (baca: sesuatu-yang-kunamakan-kecewa). disaat semua orang tak menghiraukan kehadiranku, dia malah mengajakku berbicara. meski hanya beberapa patah kata, tapi setidaknya aku bukan pelengkap disana. aku juga dianggap hadirnya di sana, oleh dia, hanya dia tepatnya.

karena sifat dan tingkah lakunya yang mulia, aku merasa terlalu bodoh untuk membenci karena mengaguminya. tapi aku juga tak ingin tertawa karena kecewa. aku takut aku membawa perasaan ini layaknya seseorang yang dengan sengaja menyayat-nyayat bagian tubuhnya dengan silet tajam. aku terlalu takut untuk merasakan sakit yang kedua kalinya.


mengapa aku mengatakan kedua kalinya, karena ini kejadian kedua kalinya setelah beberapa tahun yang lalu. cerita yang dalam kusembunyikan. tak perlu dan tak ada gunanya orang lain tahu. hanya aku, perasaan itu, dan Tuhan yang tahu.


aku bisa, tapi aku tidak ingin!
sejak tadi kalimat itu yang menguasai otakku.
aku bisa menggaguminya, aku bisa mencintainya. tapi aku tidak ingin! aku benci perasaan itu!



seperti judul sajak yang kutulis beberapa tahun yang lalu, "Kubenci Mengagumimu!"
sajak ini sangat ingin kusampaikan padanya, agar dia tahu aku sangat benci perasaan yang kini mencoba mengambil lahan untuk tumbuh di hatiku.

aku takut dengan perasaan ini. aku tidak ingin ia menjadi alasanku untuk berperang melawan diri sendiri. sebelumnya aku sudah cukup damai dengan diriku. tapi sejak dia,  senyumnya, tingkahlakunya, keahliannya, dan cerita temanku hadir dan menyapaku, aku merasa kembali ke cerita masa beberapa tahun lalu. tapi dengan tokoh yang berbeda.


selain aku harus meyainkan diri untuk tidak mengagumi orang saat ini, aku juga harus berpura-pura agar kelak nantinya aku lupa kalau aku berpura-pura.





SAAT INI AKU TIDAK BOLEH MENYUKAI SESEORANG, TERLEBIH DIRINYA!







-ILa-


Selasa, 06 Maret 2012

Sesuatu yang Kunamakan KECEWA




Mungkin tulisan ini sangat berbeda atau bertentangan dengan tulisan yang posting beberapa hari lalu. Entah mengapa hari ini aku jatuh dan terjun bebas ke daerah pesimisku. Aku seperti tenggelam dalam lautan kesedihan yang dimana negatiflah menjadi penguasa di sana. Sepertinya positif-positif habis termakan oleh keangkuhan negatif.


Hari ini aku merasa tulisan yang kutulis sebelumnya hanya merupakan topeng pembungkus wajah pesimis yang hampir selama ini kusembunyikan. Tapi hari ini topeng itu koyak, topeng itu rusak. Jadi kuputuskan menambah koyakan agar lubang dari topeng itu semakin besar  untuk memamerkan wajah pesimis yang entah bagaimana rupanya. Bukan tanpa alasan kuputuskan seperti itu, ada satu dua, beberapa bahkan banyak alasan yang membantuku menambah koyakan itu. Dari semua alasan yang ada, KECEWA-lah yang berperan banyak di sana.


Kecewa, kata yang memang negatif yang menyelimutinya. Aku yakin semua manusia di belahan dunia manapun pasti pernah merasakan kecewa. Namun cara mereka mengatasi atau mengolah rasa kecewa itu berbeda-beda. Ada yang berhasil menyembunyikannya, namun ada juga yang sama sekali tak bisa membendungnya hingga melampiaskannya pada apapun. Mungkin saat ini aku ada diantara keduanya. Aku berusaha menyembunyikannya namun aku tak bisa, tapi mengumbarnya pun aku tak mampu. Aku takut ada kekecewaan baru yang muncul karena pelampiasan kecewa yang menguasaiku. Jadi kuputuskan untuk melampiaskannya pada rangkaian kata dan membuangnya di penampungan kataku ini. 


Mungkin penghuni penampungan kataku ini bertanya-tanya apa yang membuatku begitu kecewa hingga menjadikan mereka sesak karena tambahan pembuangan kataku di sini. Sebenarnya kecewa ini telah muncul sejak lama, sejak aku belum membangun penampungan kata ini, bahkan sejak aku kecil. Mungkin beberapa menganggap alasan ini enteng bahkan ada yang menganggapnya lelucon tapi jika itu terjadi berulangkali, bahkan hampir di setiap helaan dan langkah yang kujalani itu sudah tidak dapat kukatakan enteng atau tidak bisa kuterima mereka yang mengatakannya lelucon. Ini sudah menjadi tingkat level tinggi dalam sesuatu yang kunamakan kecewa. Alasan itu adalah perasaan yang merasa kalau jiwa yang bersembunyi dibalik tubuh ini sepertinya TIDAK DIANGGAP kehadirannya.


Aku selalu ada diantara mereka tapi aku selalu merasa jiwaku tak bersama mereka. Seperti ada pengkotak-kotakan yang terjadi diantara kami. Ini kumaksudkan bukan pada mereka yang ada disekitarku yang selalu bersamaku, ini kumaksudkan pada mereka yang bertemu dengan aku dan orang yang ada disekitarku dan bersamaku. Dan kotak itu mereka ciptakan untuk aku dan orang disekitarku dan bersamaku. Aku merasa mereka bedakan. Aku dikotakkan pada kotak yang tak perlu dilihat, pada kotak yang semestinya hanya menjadi bayangan dari kotak yang ada di depanku, kotak yang ditempati orang yang ada disekitarku dan bersamaku.


Aku sangat mencintai dan menyayangi mereka yang ada disekitar dan bersamaku. Aku tidak ingin mereka membenci dan melangkah jauh membelakangiku. Aku sebenarnya sangat bahagia bersama mereka tapi pengkotak-kotakan yang oranglain lakukan pada kami membuatku merasa hanya seperti bayangan orang yang ada disekitarku dan bersamaku.  Disni ketidakdianggapan jelas terlihat dan terbaca oleh jiwa rapuhku. Aku merasa seperti seonggok daging yang berdiri diantara mereka tanpa mereka peduli adanya jiwa yang hidup dan merasa di dalamnya. Aku hanya pelengkap.


Adakah jiwa diluar sana yang utuh tanpa sentuhan koyakan kecewa yang disebabkan ketidakdianggapnya kehadiran jiwa dan rasa yang dibawa oleh tubuh? Aku akan mengapresiasikannya dengan sangat, karena jiwa yang seperti itulah jiwa yang mampu menghancurkan negatif dan membunuh pesimis, tidak seperti jiwa yang kubawa, rapuh!


Dianggap, masalah yang menjadi awan-awan hitam dalam hidupku. Sepertinya hari ini aku terlalu jauh terjatuh dalam masalah itu. sehingga menghujani seluruh damainya hati dan baranya semangat. Hari ini aku terpuruk karena bendungan kecewa yang tak terbendung. Hari ini bendungan kecewa itu meluap yang ditandai mengalirnya air dari mata dan basahnya wajah. Hari ini aku, kecewa dan tidak dianggap menjadi kesatuan yang utuh membunuh pisitifisme yang harusnya kuanut. Hari ini izinkanlah aku membuang rasa kecewa dan tidak dianggap dalam penampungan ini. Hari ini saja!


Namun...


Aku menulis! Saat perjalanan paragraf-paragraf yang kutulis diatas, sedikit demi sedikit aku menemukan positif yang membunuh keluhan. Mungkin aku tidak dianggap karena aku belum memantaskan diri untuk dianggap. Aku belum menemukan cara untuk menjadi cahaya, aku belum menemukan cara untuk menghapus bayangan. Aku juga merasa sangat hina saat mengenang waktu-waktu yang kuhabiskan untuk tidak mensyukuri kehadiran mereka yang ada di sekelilingku dan bersamaku (aku sangat meminta maaf unuk itu. aku menyayangi kalian. Jangan pernah berfikir untuk melangkah jauh membelakangiku. Aku takut.). Aku akan berusaha dan memantaskan diri untuk dianggap! Aku janji tidak akan menjadi Bayangan!



Dan hari ini Aku, Kecewa dan Tidak dianggap menguap!


Mungkin Lebih tepat jika Sesuatu yang Kunamakan KECEWA itu kutujukan pada diriku sendiri... kecewa pada diri sendiri



-ILa-

Minggu, 04 Maret 2012

Menulis


kadang banyak yang tanya kenapa saya suka menulis... hhmmm... jawabannya simple aja, yaa karena saya suka menulis...  hahahaha

sebenarnya banyak hal yang membuat saya ingin menulis, salah satu yang paling membuat saya ingin menulis dan ingin jadi penulis adalah ingin dikenal dan dikenang oleh banyak orang

saya pikir, alasan saya untuk menulis itu sudah banyak dan membuat saya semakin ingin menulis, tapi setelah membaca blog Om Aan Mansyur --> Huruf Kecil saya jadi terkejut. ternyata ada banyak sekali hal yang membuat keinginan untuk menulis, mulai dari hal yang sangat sederhana samapai yang sangat rumit. saya akan berbagi alasan-alasan Aan Mansyur mengapa dia ingin menulis...

Silahkan baca di bawah ini atau bisa kunjungi langsung di blog huruf kecil yang judul postingannya kepada cucu seorang yang menolak aku menjadi menantu


"aku menulis puisi sebab waktu kanak-kanak aku ingin menjadi seorang astronot—dan tidak mau guru dan teman-temanku tertawa sekali lagi karena ibuku janda penjual tomat. aku menulis puisi agar mereka tahu anak penjual tomat juga boleh menyimpan cita-citanya di bulan, di langit, atau di tempat yang jauh lebih tinggi.

aku menulis puisi sebab aku tidak mau menyakiti hati ibuku dengan kata-kata saat aku tidak mampu menjadi anak lelaki yang kuat mengangkat cangkul karena penyakit yang lahir bersama jantungku. aku menulis puisi agar ibuku mau tersenyum ketika lelah pulang dari pasar dan tidak ada tomatnya yang laku.

aku menulis puisi sebab aku ingin mengungkapkan kepada teman-temanku aku tak mampu beli sepatu dan baju model terbaru. aku tak mampu mengajak gadis-gadis yang aku suka ketawa bersama di kantin sekolah atau kafe bagus. aku menulis puisi agar mereka tahu kata-kata telah membuat aku tak bunuh diri karena setiap hari mendengar mereka menertawai aku di sekolah.

aku menulis puisi sebab aku berharap bisa jadi suami yang tak mampu meneriakkan kalimat kasar kepada istri dan anak-anaknya. waktu kecil, aku menangis saat ayah membentak aku dan ibuku. aku senang mendengar musik tapi bahkan main gitar aku tak tahu. aku menulis puisi agar orang-orang tahu kata-kata adalah pedang yang bisa dilipat menjadi perahu dan pesawat mainan juga bunga untuk ruang keluarga.

aku menulis puisi sejak masih kecil seperti kamu, bukan untuk menjadi penyair. aku ingin jadi astronot, seorang yang mampu ke tempat tertinggi di mana pernah dia menyimpan mimpinya. aku menulis puisi ini untukmu di jendela, sambil berpandangan dengan bulan, agar kamu tahu aku gagal dalam banyak hal di hidupku—termasuk menjadi suami ibumu.

aku menulis puisi ini agar kamu tahu bahwa kehidupan, bagaimana pun kejamnya, selalu indah untuk dituliskan menjadi puisi."



-ILa-

To Be A Light



Pengkotak-kotakan dan sekat memang sering kita dengar bahkan kadang kita jumpai di kehidupan ini. Orang kaya dan orang miskin dibedakan. Orang pintar dan orang bodoh dibedakan. Orang cantik/gagah dan orang jelek dibedakan. Aku risih dengan pengkotak-kotan itu karena aku juga mengalaminya. Aku rasa banyak orang, hal dan tempat yang membeda-bedakan diriku dengan yang lainnya. Namun, lebih sakit jika aku merasa aku tak dianggap, aku tak ada di kotak-kotak itu. aku tak ada di sekat manapun. Aku seperti tak ada di sekitar mereka.

Sejak dulu aku merasa kecil, aku merasa dipandang sebelah mata. Bahkan aku merasa tak dianggap ada oleh mereka. mungkin banyak yang berfikir itu perasaanku saja tapi banyak kejadian dan bukti yang membuatku berfikiran seperti itu.

Tapi, itu dahulu...

Sebelum kuputuskan untuk mengubah fikiran negatif dalam diriku. Sebelum kubersemangati untuk menggoyahkan mindset negatif di diriku. Sebelum kuniatkan untuk menjadi manusia yang tak mengenal pengkotak-kotakan.

Walau keputusan, semangat dan niat telah kugenggam, namun keberanian masih enggan menyatu dalam jiwa ini. Ada rasa yang selalu menghambatnya. Ada tembok yang selalu menghalanginya. Aku belum bisa berani!

Setiap malam dalam hariku kumeminta kepadaNya keberanian agar aku bisa melaju ke depan. Agar aku bisa mewujudkan segala impian dan harapanku. Karena tanpa keberanian aku tak bisa bergerak, akutak bisa mengulurkan tangan meraih segalanya. 


ITU CERITA SEBELUM KUMENEMUKAN MEREKA


Kini....

Cerita itu telah berubah.

Cerita saat ini penuh dengan semangat dan keberanian yang membara...

Aku telah belajar dan mendapatan keberanian dari mereka yang kini ada di sekitarku.

Aku telah mulai melangkah untuk sebuah keputusan, semangat dan niat yang pernah tertunda..
Meski masih ada harapan yang terlalu jauh untuk kuraih, namun aku berjuang melawan rasa yang sakit saat mencoba mengulurkan tangan untuk menggapainya.

Tak kupungkiri, tak kusembunyikan dan tak mungkin kurahasiakan apa yang memang sebenarnya terjadi saat ini. Aku masih seberti bayangan disekitar mereka, tapi aku tidak takut. Walau aku masih bayangan, aku tidak bersedih karena aku tahu dan yakin disekitar bayangan pasti ada cahaya yang sangat terang dan kelak aku akan menjadi cahaya itu.

Semangat dan keberanian untuk menjadi cahaya akan aku tanam dalam jiwaku. Aku ingin menjadi cahaya agar dapat berbagi terang bagi mereka yang masih merasa gelap dalam kotak-kotak dunia.

:D :) ^^


-ILa-