Sabtu, 18 Februari 2012

Aku, Vidi Aldiano, dan ceritaku (12-2-2012)


Seperti biasanya, saat waktu luang pasti kugunakan untuk menjelajah di dunia maya. Facebook dan twitter menjadi jendela utama yg harus kubuka. Entah hari itu tanggal berapa, timeline di twitter penuh dengan retweet (RT) anak-anak vidies. Semua bercerita tentang jadwal kegiatan VD , dan ternyata ada jadwal ke Makassar... yyeeeeaaaahhhh, entah mengapa aku merasa sangat senang.

Berbagai cara kulakukan untuk mencari info kapan dan dimana VD akan manggung di Makassar. Dan dari hasil pencariandari sabang sampe marauke (jiaaahhh lebay...;p) akhirnya saya mendapatkan info kalau VD manggung di Trans Studio Makassar pada hari minggu tanggal 12 Februari. Senangnya bukan kepalang, tapi tak bisa kusembunyikan rasa sedih karena masalah uang. masuk di wahana TSM itu bagi saya sangat mahal, jadi harus berfikir 2 kali, eh salah berfikir 2811 kali untuk masuk wahananya. Paling kalau ke TS (Trans Studio) aku Cuma nongkrong di Mall-nya. (kentara miskinnya... hahaha)

Dua minggu sebelum hari H, saya membulatkan tekad menabung untuk bisa masuk TS. Tapi beberapa hari sebelum hari H, kakak nelfon, dia sangat butuh uang. mau tidak mau saya harus mengiriminya, dan uang yg saya kirim adalah uang yg rencana akan saya pake untuk masuk TS. Tapi tak apalah, saya ikhlas. Saya tak mungkin tega bersenang-senang sedangkan kakak lagi kesusahan. Hari itu saya mengajak diri sendiri untuk berdamai dan mengikhlaskan untuk tidak bertemu dengan sang idola, VD.

Allah memang sangat Pemurah. Keesokan harinya saya mendapat kabar dari Iin, teman saya bahwa ternyata VD tidak manggung di dalam wahana TSM, tapi hanya di Mall-nya. Sungguh mendengar hal itu membuatku serasa melayang saking bahagianya. “harapn untuk bertemu VD, ada!” gumamku dalam hati.

Tapi hambatan tak hanya sampai disana. Iin kembali mengabarkan kalau ternyata untuk melihat aksi panggung VD harus menggunakan surat undangan dari pihak yang menyelenggarakan acara tersebut. Down! Itu yang tiba-tiba kurasa saat mendengar kabar itu.

Mungkin karena melihatku begitu sedih, iin memberi solusi yang sedikit menghiburku. Dia tetap mengajakku datang ke Mall TS tapi harus pagi-pagi sebelum VD datang. Katanya “jika memang acaranya di ruang tertutup, kita akan menunggunya di pintu masuk sampai dia datang. Asal kau bisa melihatnya walau sebentar.” Dasar saya yang memang sangat mengidolakan VD jadi tawaran itu aku terima meski dalam benakku harus kecewa karena hanya bisa melihatnya sejenak, mungkin hanya beberapa detik karena VD pasti dikawal.

Sehari sebelum hari H saya memaksa iin untuk menemaniku dan juga memaksanya untuk bangun cepat agar bisa secepat mungkin ke TS dengan harapan bisa melihat VD walau beberapa detik. Bagaimanapun caranya, aku ingin melihat VD secara langsung.

Hari itu datang juga, 12 februari. VD akan manggung di Makassar dan peluang untuk melihatnya sangat kecil. Tapi pagi itu, aku memulai hari dengan berdoa agar aku bisa melihat VD. Aku sangat ingin! 

Aku berangkat dari rumah tanpa ada kepastian bisa atau tidak aku melihat VD. Tapi dari pada tinggal di rumah mending saya ke TS Mall, setidaknya ada usaha.

sampai di TS, aku dan Iin duduk di teras karena waktu itu Mall belum buka. Ada kemirisan tersendiri melihat mereka yang memegang udangan. Dalam hati doa untuk bertemu VD terus kupanjatkan.

Saat Mall dibuka, saya dan Iin masuk, dan Alhamdulillah, saya merasa Allah sangat menyayangi saya. Ternyata tempatnya tidak tertutup dan yang tidak memiliki undangan bisa menonton tapi dari luar garis pembatas. Tak apalah yang pentng bisa melihat VD! Itu yg penting. Iin mengajariku strategi-strategi untuk bisa melihat VD secara jelas dan lebih dekat. Kuikuti semua instruksi dari dia.

Saya berdiri di belakang panggung, menunggu VD datang. Dan saat dia datang, sumpah senangnya minta ampun karena bisa menyentuh tangannya meski dihalangi oleh orang-orang yang mengawalnya.

Status palsu, lagu pembuka yang dinyanyikannya dengan merdu. Entahlah ada berapa lagu yang VD nyanyikan, sy terlalu senang sehingga lupa menghitungnya.

Kamera digital tidak bersahabat, kadang bagus, kadang jelek jadi kami Cuma mengandalkan kamera HP.

Selesai manggung VD langsung keluar Mall. Puas, seneng dan aaahhh susah dijelasinnya, pokoknya saya bahagia sekali.

Beberapa menit kepergian VD, kami pun sepakat untuk pulang. Ditemani “Shiro” –nama motor yang selalu menemaniku ke mana saja- kami berboncengan pulang. Di tengah jalan, tiba-tiba Iin menepuk pundakku dan berkata “ILa, VD sekarang sedang makan di Warun Sop Kondro Karebosi.” – “kenapa bisa tahu?” tanyaku. “ada yang ngetwit kalu dia melihat VD disana”. Dengan cekatan saya membelokkan motor namun tiba-tiba ada yang meneriakiku, “weee cewe.. weserko!!!” sumph kaget bukan main, sebenarnya sih lebih tepat takut bukan main, tapi saya tdk peduli, kutancap gas menuju arah warung Sop Konro.

Tiba disana, saya memberanikan diri masuk. Kecewa! VD gak ada. Tapi Iin mengajakku naik ke lantai dua. Masuk di lantai dua karena dari luar yang cahaya matahari sangat terik dan tiba-tiba masuk ruangan jadi penglihatanku agak remang-remang. Kecewa lagi! Saya sama sekali tidak melihat keberadaan VD. Sudah, pengen pulang rasanya. Tapi tiba-tiba saya melihat orang yang poni-nya mirip VD, setelah kuperhatikan lebih tajam ternyata benar dia VD... aaahhhh senengnya bukan kepalang. Saya yang sangat pemalu memberanikan diri menghampirinya, tapi ternyata managernya ada, saya ditegur. Tapi benar juga sih, saya salah karena mengganggu VD yang sedang makan.

 Jadi kuputuskan untuk keluar menunggunya selesai makan. Lama... sepertnya iin sudah bosan, tapi saya terus memohon agar dia bertahan. Akhirnya VD keluar, aku dan iin secepat kilat meminta pada Vd dan managernya agar kami bisa foto bareng. Duh senangnya ternyata VD mau... setelah foto kami berjabat tangan. Pas menuruni tangga, saya ngikutin dari belakang, senaaaaang sekaaaliiii bisa berjalan di dekat VD. Sempat bilang kedia supaya sering-sering ke Makassar dan ternyata direspon, duuuuhhhh sumpaaahhhh Allah memberiku sesuatu yang sangat Indah hari itu. VD masuk ke mobil dan saya hanya bisa menatapinya. 12 Februari, akhirnya saya bisa bertemu, jabat tangan dan mendengar suaranya secara langsung. Terimakasih Allah, syukur dan pujiku padaMu tak henti-hentinya. Juga terima kasih buat Iin yang sibuk mencarikanku info. ^^


















Tidak ada komentar:

Posting Komentar