Senin, 26 September 2011

Dia yang Kuanggap


dunia terasa berubah detik itu
ada tatap, senyum dan ucap
syukur untuk-Mu yang memberiku waktu
mempertemukan aku dengan dia yang kuanggap


ragu sempat membekukanku
namun sapa itu mencairkannya
hingga kukumpulkan keberanian
untuk dia yang kuanggap


ada kala aku terdiam
bahkan kata tak berani melawan pesonanya
pesona dia yang kuanggap


sudut mata tak bisa kukuasai
ia terus mencari sosok
sosok yang kuanggap


ketakutan menjalar
saat matanya menangkap sudut mataku
aku takut ia tahu ada rasa
rasa untuk dia yang kuanggap


entah setelah itu
Engkau masih memberiku waktu
waktu untuk bertatap, tersenyum dan berucap
waktu untuk dia yang kuanggap




-iLa-

Sabtu, 17 September 2011

Lagu Kita (Vidi Aldiano)



meskipun aku bukan siapa-siapa, bukan yang sempurna
namun percayalah hatiku milikmu

meski seringku mengecewakanmu, maafkanlah aku
janjiku kan setia padamu, hanyalah dirimu

aku milikmu, kau milikku
takkan ada yang pisahkan kita
ini lagu kita tuk selamanya
janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu

meski seringku mengecewakanmu, maafkanlah aku
janjiku kan setia padamu, hanya dirimu

aku milikmu, kau milikku
takkan ada yang pisahkan kita
ini lagu kita tuk selamanya
janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu

lagu ini akan menjadi saksi
tulusnya hatiku cintaimu ooh

aku milikmu, kau milikku
takkan ada yang pisahkan kita
ini lagu kita tuk selamanya oh janjiku untukmu
(aku milikmu, kau milikku)
takkan ada yang pisahkan kita
ini lagu kita tuk selamanya
janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu
janjiku untukmu takkan tinggalkan dirimu
takkan tinggalkan dirimu

Penghilang Penat versi ILa

gambar-gambar ini lahir saat kuliah berlangsung... dan seperti biasanya, tak ada gambar lain yg kubisa selain gambar pohon yg dipenuhi ranting-ranting...hahahha gambar ini bukan hasil dari tanganku saja yang bekerja, banyak campur tangan teman-teman sekelasku... (mungkin mereka juga sedang bosan saat kuliah jadi ikut-ikutan mencoret-coret kertas...hahaha dasar mahasiswa...^^)














Add caption

Minggu, 11 September 2011

tears



kemana lagi aku bawa rasa sesak ini... aku tak tahu harus berbagi kepada siapa... aku... ingin kalian di sini.. mendengar setiap keluhan dari lubuk hatiku... tapi  aku sendiri tak tahu kalian itu siapa...

Tuhan, aku kesepian...
Tuhan, aku rindu orangtua dan keluargaku...
Tuhan, aku tak mau sendiri...

kemana, kemana Tuhan, harus kucari mereka, mereka yang peduli padaku...

aku lelah Tuhan, aku lelah...

aku butuh dia, mereka, atau entah siapa saja yang bisa menghiburku malam ini...

aku tahu kesalahan terbesarku adalah mengeluh, dan terus mengeluh..


aku akui, aku sangat Kesepian.. dan aku juga takut sendiri...

Benci dan Amarahku

ahhh... aku membencinya... sangat membencinya...
mengapa dia bisa seperti ini...
membuat saya sangat membencinya...
meskipun aku berusaha untuk membujuk hatiku agar berdamai dengan perasaan marahku namun itu tak bisa....
aku betul..betul membencinya...
aku membenci harapan yang sempat ia taruh di sisiku....
aku membenci dia pura-pura tidak tahu masalah..
aku membenci dia yang dengan kentaranya tak mempedulikanku..
aku membenci dia yang menyalahkanku...
aku membencinya... aku membencinya...
seandainya kutahu akan seperti ini aku tak akan mau mengenalnya..
aku tak akan mau menjadi... menjadi... arrggghhh.. aku juga tak tahu aku menjadi apa dihadapannya...
dia sangat egois.. dia sangat jahat...
aku membencinya... aku membencinya...
dia...dia... telah membuat hariku dipenuhi sesak...
bahkan amarahku telah menjalar pada oranglain yang mungkin tak tahu apa-apa....
aku membencinya...aku membencinya...

Tuhan.. aku sangat membencinya... aku marah padanya...
katakan padanya Tuhan, aku tak mau bertemu lagi dengannya...
katakan padanya Tuhan, agar ia menghilang, agar
ia tak pernah kuingat lagi...
agar aku tak merasakan amarah yang sangat ini...
Tuhan, katakan padanya, karena aku tak sangggup... aku tak sanggup Tuhan..
aku terlalu marah padanya...
aku terlalu membencinya...
jangan tampakkan dia lagi dihadapanku Tuhan,
entah di dunia nyata ataupun di dunia maya..
aku terlalu membencinya...
dia telah membuatku menangis..
dia telah membuatku sesak...
aku tak mau lagi mendengar suaranya, ocehannya, bujukannya, bahkan basa-basinya..
aku terlalu membencinya..
aku terlalu marah padanya...

karenanya aku telah marah pada seseorang, seseorang yang mungkin tak ada salahnya padaku, namun aku marah padanya, aku...aku... sebenarnya iri...
aku... aku... aku...
mungkin aku terlalu bodoh untuk amarah dan iri ini, tapi..
aku terlalu membencinya....
tak ada lagi kalimat lain untuknya...
aku membencinya....

dan saat ini aku sangat membencinya saat membayangkan senyum kemenangan dari orang yang sekarang disisinya.... aku..aku.. membenci kalian...!

The Name I Love (Onew-SHINee)



                                      
soni siryeowa sarangui gieogi chagapge dagawa
aryeoonda ijeneun deo isang neoreul bujeonghago sipji anheun nareul algo itjiman
gakkai inneun neol saranghal su eomneungeol algo itgie
nal barabol su eomneun neol gidarimi neomu himdeureo
ijen gyeondil su eobseo irwojil su eopgie
naega saranghaetdeon geu ireum
bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon
geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo
nae ane sumgo sipeojyeo
neol saranghal subakke eobseotdeon
geu nareul ijen arajwoyo
irul su eomneun sarangdo saranginikka
honja hal su eomneun sarangiran neukkimeun naege dagawa
sijak hal su do eomneun geuriumdeureun keojyeoman gago
sirin gaseum han kyeonen neoui hyanggiman nama
naega saranghaetdeon geu ireum
bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon
geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo
nae ane sumgo sipeojyeo
neol saranghal subakke eobseotdeo
geu nareul ijen arajwoyo
irul su eomneun sarangdo saranginikka
sucheon beoneul dorikyeo cheoeumui naro gan sungane
gaseum han guseoge da asagal ne moseubin geol
naega saranghaetdeon geu ireum
bulleoboryeo nagalsurok neomu meoreojyeotdeon
geu ireum ijen jeogeonoko na ulmeogyeo
nae ane sumgo sipeojyeo
neol saranghal subakke eobseotdeon
geu nareul ijen arajwoyo
irul su eomneun sarangdo saranginikka
irul su eomneun sarangdo saranginikka

Translation

Both hands trembles as I remembered the cold love memories
Now it is getting weirder, I dont wish to reject you, but I just know that
No matter how close we are, I know that I cant love you anymore
I cant miss you; waiting for you makes me tired
I cant endure anymore and I cant realize this

The name I loved once in this life
Has becoming further and further away from me
I am writing your name on a paper and forever kept it in my heart
From thatday I only realized that I will only loved you forever
Love that cant be together can also be known as Love
I cant handle the love memories and feelings alone
I cant start this, I can only miss you secretly in my heart
My heart only left your body fragrance that I missed and always loved

The name I loved once in this life
Has becoming further and further away from me
I am writing your name on a paper and forever kept it in my heart
From that day I only realized that I will only loved you forever
Love that cant be together can also be known as Love
Kept remembering the first time I saw you walking towards me
And stolen an edge of my heart without noticing

The name I loved once in this life (Loved once in this life)
Has becoming further and further away from me
I am writing your name on a paper and forever kept it in my heart
From that day I only realized that I will only loved you forever
Even though it is not long, but my love for you will never change

The name I loved once in this life
Has becoming further and further away from me
I am writing your name on a paper and forever kept it in my heart
From that day I only realized that I will only loved you forever

Alamat yang Hilang






Sebuah surat kutujukan padamu
Namun hingga detik ini aku tak tahu alamatmu


Telah kutanya semuanya
Pada burung di angkasa
Pada semut di tanah
Namun tak satupun tahu keberadaanmu


Lelah kumencari
Langkah kaki terasa berat
Kemana lagi surat ini harus kubawa


Dimanakah rumahmu?
Rumah yang telah menampung jiwa dan ragamu
Rumah yang harus kualamatkan surat ini


Atau kau telah memberiku alamat yang salah,
Tapi mengapa?
Aku hanya ingin mengirimimu surat
Sebuah surat yang alamatnya hilang






-iLa-

Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin





Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku dan adikku, dan Ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat beteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan teladan tanpa mengharap budi sekali pun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, Ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapkulebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.





                Itulah kalimat-kalimat yang ada di sampul belakang novel karya Tere-Liye. “Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” judul yang panjang namun memiliki makna yang dalam bagiku.

                Novel yang beralur campuran ini membuat emosiku naik turun saat membacanya. Kisah seorang gadis kecil yang hidup bersama Ibu dan seorang adik yang harus hidup di jalanan dengan rumah kardus. Tak bisa dibayangkan bagaimana getirnya hidup yang harus mereka jalani. Tak merasakan indahnya masa-masa sekolah, malah harus merasakan panasnya terik matahari saat menyanyikan lagu dari kaca mobil yang satu ke kaca mobil lainnya di lampu merah.

                Namun, semua itu berubah saat seseorang yang ia sebut ‘malaikat’ datang di kehidupan mereka bertiga. Makanan, sekolah, kasih sayang, bahkan janji masa depan yang indah mereka dapat dari si ‘malaikat’ ini.

                Kesedihan bermula saat sang Ibu harus pergi untuk selamanya. Namun sebelum pergi sang Ibu berpesan agar si gadis tak boleh menangis kecuali hanya untuk ‘malaikat’ mereka.

                Perasaan-perasaan aneh muncul dihatinya, dan ia sangat tahu kalau perasaan itu untuk ‘malaikat’ keluarganya. Namun ia pendam, ia tak berani mengungkapkannya. Sampai kejadian menyayat hati harus ia terima, sang ‘malaikat’ akan menikah, dan bukan dengannya.

                Namun, potongan-potongan kejadian terkumpul dan membentuk sebuah kebenaran yang tersembunyi, kebenaran yang seharusnya mereka akui, tidak disembunyikan, tidak dipendam, dan tidak mereka biarkan kebenaran itu membuat mereka hidup dalam kelam dan ‘sakit hati’.

                Dalam buku ini, aku belajar banyak hal, salah satunya... “jika kau memiliki perasaan pada seseorang, jangan memendamnya, katakan meski itu akan terasa sangat berat dan membutuhkan banyak keberanian bahkan semua keberanian yang kau miliki. Jika tidak, kau hanya akan mendapati dirimu dipenuhi penyesalan, membuat dirimu duduk di bawah pohon berjam-jam menatap datar ke arah danau tanpa sedikit pun lepas dari kutukan pada diri sendiri mengapa tak mengatakannya. Apapun jawabannya, setidaknya kau telah membuatnya mendengar dari bibirmu sendiri kalau kau memiliki perasaan yang tidak pernah bisa kita mengerti. Perasaan itu kusebut Cinta.”
 
                Entahlah aku sendiri juga tak tahu bisa mengaplikasikannya (sepertinya tidak :p), namun itu yang kudapat di nove ini.

                Tere-Liye membuat bendungan-bendungan air di mataku meluap, seperti novel-novel karyanya yang telah kubaca sebelumnya, ia mengumpulkan, dan menjahit kata demi kata hingga membentuk sebuah novel yang setara dengan gaun indah sang putri raja. Ditambah lagi saat membaca novel ini, lagu dari Onew-SHINee ‘the name I love’ kujadikan background. Entah, tak terlalu kupahami isi dari lagu itu namun saat mendengar ‘the name I love’ sambil membaca ‘Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin’ diriku terbawa dan masuk ke kehidupan sang gadis, bahkan terlalu dalam menyentuh hingga lubuk hati. Mataku bengkak karena novel dan lagu ini.


Katakan, katakan perasaanmu padanya apa pun jawabannya. Kebesaran hati adalah menerima semuanya dengan ikhlas. Aku (ILa) hanya tidak ingin kisah kalian seperti kisah si gadis dan ‘malaikat’-nya.




-ILa-

Supernova



        Saat merenung dan memikirkan langit, saya tiba-tiba teringat supernova. Segera saya tanyakan pada dia. Dia yang menurutku pasti bisa menangkap apa sebenarnya maksud pertanyaanku. Dan tepat, dia seperti telah membaca pikiranku yang berbasa-basi tentang supernova dan langit namun sebenarnya berfikir tentang manusia dan akhir dari manusia itu sendiri.



Aku : Supernova itu apa?
Dia : Ledakan bintang, kenapa?
Aku : Kasian bintangnya.
Dia : kenapa kasian? Memang sunnatullahnya begitu.
Aku : Matahari juga bakalan begitu?
Dia : Iya, kalau tidak padam, dia meledak.
Aku : Deh... ngeri... buat apa jadi bintang kalau akhirnya meledak, hilang...
(Dia tidak menjawabnya, dia malah bilang...)
Dia : Buat apa jadi manusia kalau akhirnya meninggal.


          Dan setelah percakapan itu, aku merenung kembali. Bukan...bukan merenung, tepatnya bertanya pada diriku sendiri. Buat apa aku hidup? apa yang telah kulakukan di kehidupanku?

       Sudah belasan tahun aku hidup, tapi masih merasa tak berguna. Setidaknya sebelum meledak, bintang berbagi cahaya, dia telah menerangi langkah-langkah sang pemimpi di dunia ini. Aku... aku belum bisa mengatakan diriku sebagai bintang (yang pada akhirnya meledak), bahkan mungkin sangat jauh dari sifat bintang yang memberi cahaya bagi banyak kehidupan.

        Namun, setiap detik dan setiap langkah yang kujalani ada doa disana. Aku meminta agar aku diberi kesempatan untuk menjadi bintang (yang memberi cahaya bagi banyak kehidupan) sebelum akhirnya aku meledak, dan hilang...




-iLa-

New Hair, New Life

Aku sendiri tidak mengerti darimana pemahaman yang kuyakini itu. seperti sebelum-sebelumnya saat aku merasa banyak masalah dan merasa terlalu berat kupikul, aku hanya bisa mengurung diri di kamar, menangis dan menullis. Yaaa... sepertinya Tuhan mengirim kemampuan menulis pada diriku agar aku memiliki sahabat untuk menceritakan keluh kesah.  Dan setelah aku merasa sedikit lega setelah sekian lama bergelut melawan masalah-masalah aku kadang memilih untuk membuangnya dan berusaha melupakannya, caranya... ada banyak cara, dan salah satunya aku memotong rambutku. 

                                                                   
Seperti sekarang ini, aku membuang dan mengikhlaskan sesuatu dengan cara memotong rambut. Dan sekarang, rambutku sangat pendek. Entahlah apa yang membuatku hingga memotongnya sependek ini.


Aku berharap dengan perubahan ini, hidupku akan berubah menjadi lebih baik... tak ada harapan selain menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Disayang oleh semua, terutama disayang oleh Yang Maha Penyayang.

Senin, 05 September 2011

Ranah 3 Warna



Ranah 3 warna, sebuah novel yang membuatku terhanyut saat membacanya. Membuat semangatku membara saat membacanya. Membuat diriku menggebu-gebu untuk segera menulis saat membacanya. Membuat diriku berani bermimpi besar saat membacanya. Dan membuat diriku mengumpulkan keberanian untuk menghadapi dunia dan tantangannya saat membacanya. Tapi pertanyaannya, apakah aku sanggup melakukan itu semua saat tidak sedang membacanya? Entahlah... namun aku berjanji pada diri sendiri untuk melakukan perubahan...


Novel kedua dari triogi Negeri 5 Menara yang ditulis oleh A.Fuadi ini sungguh sangat menginspirasi. Setiap katanya bagaikan mantra yang membuat diri ingin mengikuti jejak-jejak si Alif (tokoh utama dalam novel) untuk terus berjuang melawan kerasnya hidup dan cobaan yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa...


Sebelumnya, dalam novel Negeri 5 Menara terdapat mantra yang sangat mujarab bagi Alif yaitu ‘Man Jadda Wa Jadda’. Namun dalam novel Ranah 3 Warna, mantra ini tidak cukup sakti dalam memenangkan hidup. Alif juga menggunakan mantra kedua yaitu ‘Man Shabara Zhafira’.


Saat di lembaran-lembaran awal, saya sangat salut dengan semangat Alif untuk mendapatkan ijazah agar bisa mendaftar UMPTN dan bisa masuk kuliah di universitas yang sangat ia impikan. Bukan hanya sampai disitu perjuangan Alif, masih banyak cobaan yang terus menghujaninya. Namun ketabahan, kesabaran dan semangatnya membuat semua itu terlewati meski tetap membekas di hati.


Ada bagian cerita yang membuatku sangat sangat kagum pada Alif. Dengan ketekunan dan kerja kerasnya, dia bisa menapakkan kakinya di benua Amerika, tepatnya di Kanada. Di sana ia memilki banyak pengalaman-pengalaman seru dan menyenangkan. Saat di perantauan Alif selalu teringat syair Imam Syafi’i “Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman. Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang. Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan. Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.



“Apa pun kelebihan dan keterbatasanmu, jadilah orang berguna untuk dirimu, keluargamu, masyarakatmu, sebanyak mungkin dan seluas mungkin.”
-Ranah 3 Warna-




Man jadda wajada : siapa yang bersungguh-sungguh akan sukses.
Man shabara zhafira : siapa yang bersabar akan beruntung.




-iLa-