Minggu, 10 Juli 2011

Tidak Untuk Kau Baca

Sebenarnya ini seharusnya tidak kulakukan. Saya tahu ini salah, tapi menurutku ini satu-satunya jalan agar aku bisa lega, agar aku bisa menumpahkan sedikit tumpukan kengerian fikiran yang ada di otakku.

Menulis atau bisa dibilang bercerita tentang perasaan di dunia seperti ini memang kurang tepat tapi, biarlah diriku melakukannya.

Aku tahu ini jalan yang harus kulalui, aku bahkan sangat tahu Tuhan sudah mengatur semua untukku. Tapi, perasaanku tak bisa dengan begitu saja menerima tumpukan-tumpukan kesakitan yang kualami sejalan dengan berputarnya jarum jam. Terlalu banyak hal yang membuatku merasa khawatir hingga ketakutan besar menghampiriku. Aku tahu masalah besar dalam hidupku, TAKUT. Ia, takut adalah lawan yang sangat kejam di diriku. Aku tak tahu harus berbuat apa jika ketakutan itu muncul. Dan takut yang terbesarku adalah kesendirian dan kesepian. Mungkin sebagian besar mereka tak mempedulikan hal itu, tapi aku sangat takut jika sendiri, terlebih jika aku sendiri dalam keramaian aku tak tahu harus berbuat apa. Semua tubuh gemetar, keringat dari jemariku terus menetes, bahkan pernah aku sampai menangis. Aku takut mereka meninggalkanku, aku takut sendiri.

Tumpukan kesakitan yang lain adalah mereka seperti menganggapku tidak ada. Aku telah bersusah payah menunjukkan diri namun tetap mereka tak menyempatkan sedetikpun untuk sekedar tersenyum atau menyapa aku. Sebenarnya seiring terjadinya hal itu, aku sangat sadar kalau memang tak ada yang bisa kulakukan agar aku yang *entahlah* bisa mereka jadikan tempat bercerita atau sekedar tersenyum. Aku tak terlihat oleh mata –kepantasan- mereka, karena aku tahu tak ada kata pantas untuk orang seperti diriku.
Menjadi bayang-banyang orang lain juga membuat semakin sesaknya tumpukan kesakitan itu. Aku bahkan merasa sangat bodoh di dunia ini saat menyadari hal itu. Mereka memiliki hal yang bisa mereka tunjukkan pada dunia bahwa mereka pantas untuk di kagumi. Diriku? Diriku hanya sebagai bayang-bayang mereka. pernah ada diantara mereka yang mengaitkan kepantasan dalam pertemanan, sedang diriku yang dulu selalu ada di dekatnya merasa tak memiliki kata pantas itu. Aku selalu memertanyakan apa yang bisa ku jadikan –pantas- agar ia juga bangga berteman denganku. karena itulah sesak dan sakit itu datang lagi.

Kini, tak aku yang tersakiti takut berjuang keras mengikis semua yang membuatku tersakiti, aku hars melawan ketakutan dan mencari jalan-meski perih-untunk mendapatkan kepantasan yang sering mereka katakan. Tak lupa pula kuselalu dekatkan diri pada Sang Pemilik segala-bahkan hati ini-karena kutahu Dia Maha Pelindung dari segala ketakutan.



-ILa-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar