Kamis, 14 Juli 2011

After Read "5 cm"


Saya berfikir panjang, menghayal, merenung dan tak terasa menitikkan air mata setelah membaca sebuah novel karya Donny Dhirgantoro yang berjudul 5 cm. Sebuah novel yang menurutku lumayan berat karena tebalnya hampir empat ratus namun ceritanya ringan, dan memiliki arti yang sangat dalam.

Novel yang bercerita tentang persahabatan antara Arial, Riani, Zafran, Ian, dan Genta (ditambah lagi Arinda, Indy dan Deniek sebagai tokoh yang ada di novel ini) yang membuatku sangat-sangat iri ingin memiliki sahabat seperti mereka. Bagaimana tidak, meskipun mereka memiliki sifat dan karakter yang berbeda-beda, mereka tetap memeluk indahnya tali persahabatan. Semua jalan-jalan kehidupan saat remaja mereka lalui bersama, mulai dari nongkrong bareng hingga membahas Socrates, Plato, Einstein dan masih banyak lagi hal-hal unik yang mereka lakukan.

Tak terelakkan, nafas-nafas cinta tumbuh diantara beberapa personil “Power Ranger” –nama yang mereka berikan untuk kelompok mereka- namun cerita di akhir novel tentang cinta yang tumbuh itu membuatku terkejut, sangat jauh dari yang kubayangkan saat menjelajahi lembar-lembar sebelumnya.

Meskipun di dalam novel ini banyak lirik-lirik lagu yang ‘mungkin sebagian besar orang menganggapnya’ keren, namun hanya lagu yang berbahasa Indonesia saja yang kutahu-itupun tak semuanya- (maklum ILa katro dalam urusan lagu-lagu barat...^^)

Saat perjalanan mereka menaklukkan puncak gunung Mahameru, disana saya menemukan berjuta serpihan arti persahabatan dan persaudaraan. Dan saat Donny Dhirgantoro mengalirkan cerita-cerita ketika si “Power Ranger” melewati rintangan-rintangan menempuh perjalanan menuju puncak dan tiba di puncak untuk mengibarkan Sang Merah Putih, dan saat lembaran cerita seorang pendaki lainnya menulis surat di batu nisan sahabatnya yang meninggal di gunung Mahameru, semua itu membuatku terpaku dan bertanya pada diri sendiri “ILa, apakah kau sudah mencintai negaramu sendiri? Apakah kau sudah berbakti pada Ibu Pertiwi? Yang telah memberimu tanah dan air untuk hidup... dan apakah kau sudah melegakan nafas mereka yang ada disekitarmu saat ini? Atau apakah kau hanya menambah sesak kehidupan mereka?” –tak bisa kujawab, aku hanya bisa merenung dan ‘menangis’-

Novel ini memberiku kekuatan untuk bermimpi dan mengumpulkan seluruh keyakinanku untuk mewujudkan mimpi itu. karena “...yang bisa dilakukan seorang makhluk bernama manusia terhadap mimpi-mimpi dan keyakinannya adalah mereka hanya tinggal mempercayainya...” -5 cm-


“Impian, Cinta, dan Kehidupan.”
Sederhana, tapi luar biasa... ada dalam diri setiap manusia jika mau meyakininya.

-5 cm-

-iLa-

Selasa, 12 Juli 2011

Confused

kali ini aku hendak melakukan apa
otakku mengeluh mencari sikap yg seharusnya
aku terlampau bingung untuk menjadi ada

tapi aku disni, aku berdiri
lihatlah, lihat diriku!
berdua dengan bayangan sangat tak menyenangkan
gapai, raih diriku agar aku bisa bersama kalian

menangis, meratap, terlalu indah untuk kulakukan disni, sendiri.
tapi apakah tertawa, bahagia bahkan menari adalah hal menyenangkan jika sendiri?


-iLa-

Minggu, 10 Juli 2011

Tidak Untuk Kau Baca

Sebenarnya ini seharusnya tidak kulakukan. Saya tahu ini salah, tapi menurutku ini satu-satunya jalan agar aku bisa lega, agar aku bisa menumpahkan sedikit tumpukan kengerian fikiran yang ada di otakku.

Menulis atau bisa dibilang bercerita tentang perasaan di dunia seperti ini memang kurang tepat tapi, biarlah diriku melakukannya.

Aku tahu ini jalan yang harus kulalui, aku bahkan sangat tahu Tuhan sudah mengatur semua untukku. Tapi, perasaanku tak bisa dengan begitu saja menerima tumpukan-tumpukan kesakitan yang kualami sejalan dengan berputarnya jarum jam. Terlalu banyak hal yang membuatku merasa khawatir hingga ketakutan besar menghampiriku. Aku tahu masalah besar dalam hidupku, TAKUT. Ia, takut adalah lawan yang sangat kejam di diriku. Aku tak tahu harus berbuat apa jika ketakutan itu muncul. Dan takut yang terbesarku adalah kesendirian dan kesepian. Mungkin sebagian besar mereka tak mempedulikan hal itu, tapi aku sangat takut jika sendiri, terlebih jika aku sendiri dalam keramaian aku tak tahu harus berbuat apa. Semua tubuh gemetar, keringat dari jemariku terus menetes, bahkan pernah aku sampai menangis. Aku takut mereka meninggalkanku, aku takut sendiri.

Tumpukan kesakitan yang lain adalah mereka seperti menganggapku tidak ada. Aku telah bersusah payah menunjukkan diri namun tetap mereka tak menyempatkan sedetikpun untuk sekedar tersenyum atau menyapa aku. Sebenarnya seiring terjadinya hal itu, aku sangat sadar kalau memang tak ada yang bisa kulakukan agar aku yang *entahlah* bisa mereka jadikan tempat bercerita atau sekedar tersenyum. Aku tak terlihat oleh mata –kepantasan- mereka, karena aku tahu tak ada kata pantas untuk orang seperti diriku.
Menjadi bayang-banyang orang lain juga membuat semakin sesaknya tumpukan kesakitan itu. Aku bahkan merasa sangat bodoh di dunia ini saat menyadari hal itu. Mereka memiliki hal yang bisa mereka tunjukkan pada dunia bahwa mereka pantas untuk di kagumi. Diriku? Diriku hanya sebagai bayang-bayang mereka. pernah ada diantara mereka yang mengaitkan kepantasan dalam pertemanan, sedang diriku yang dulu selalu ada di dekatnya merasa tak memiliki kata pantas itu. Aku selalu memertanyakan apa yang bisa ku jadikan –pantas- agar ia juga bangga berteman denganku. karena itulah sesak dan sakit itu datang lagi.

Kini, tak aku yang tersakiti takut berjuang keras mengikis semua yang membuatku tersakiti, aku hars melawan ketakutan dan mencari jalan-meski perih-untunk mendapatkan kepantasan yang sering mereka katakan. Tak lupa pula kuselalu dekatkan diri pada Sang Pemilik segala-bahkan hati ini-karena kutahu Dia Maha Pelindung dari segala ketakutan.



-ILa-

Mau tahu siapa ILa? baca ini ^^

tulisan ini sebenarnya tugas kuliahku dulu, tepatnya mata kuliah filsafat. dulu kami ditugaskan untuk menulis sejauh mana kita mengenal diri kita sendiri, dan sejauh inilah saya mengenal diriku sendiri... meski tugas kuliah tapi tak apalah ku posting di sini... hehehe


Saya diciptakan di dunia ini sebagai makhluk hidup yang berakal, dan dari golongan hawa. Sebagai makhluk sosial, saya sangat bergantung pada sesama, terutama pada keluarga saya. Namun tak jarang pula saya lebih suka menyendiri, jauh dari kebisingan.

Saya terlahir sebagai anak bungsu, karena itulah sifat saya agak manja dan keras kepala. Mungkin karena sifat itu saya sering dipanggi sebagai anak mami. Namun meskipun saya sangat manja, saya sudah hidup terpisah dengan orangtua sejak umur 16 tahun, dan belajar hidup mandiri.

Sifat saya yang sangat dominan adalah pemalu, saya sangat tidak bisa tampil di depan umum, bahkan saat SMP dan SMA saya sangat benci pelajaran yang mengharuskan tampil di depan kelas untuk berbicara. Saya juga penakut. Saya sangat menghargai waktu, karena itu saya benci menunggu, dan selalu berusaha untuk tidak ditunggu. Dan sedikit tak suka dengan orang yang menunda-nunda. Sejak SD saya sering ditertawai karena selalu datang paling cepat ke sekolah.

Saya orangnya sabar, tak terlalu memikirkan kelakuan jahat orang lain pada saya. Namun sekali saya tak suka, maka akan lama saya akan tidak suka, semacam pendendam. Sifat cuek dan tak peduli membuat orang beranggapan bahwa saya sombong.
Saya miliki banyak talenta, misalnya menulis, menari dan dibidang akademik. Sejak SD sampai SMP saya menjadi juara pertama di kelas, namun SMA saya hanya bisa masuk 10 besar. Talena yang menonjol saat ini adalah menulis. Saya yakin kalau saya bisa menulis sejak SD saat diikut sertakan lomba mengarang. Kini karya saya telah dimuat di surat kabar dan kini saya sudah berhasil menciptakan sebuah buku kumpulan cerpen yang berjudul ‘Burung Kertas’

Sebenarnya saya orangnya tertutup dan tak terlalu suka menceritakan siapa dan bagaimana saya, dan saya masih belum sepenuhnya tahu siapa dan bagaimana saya yang sebenarnya. Yang saya tahu, saya pendiam, pemalu, suka menghayal, pemikir, keras kepala, manja, dan sangat menjaga perasaan orang lain (tidak suka menyinggung).



-ILa-