Selasa, 13 April 2010

Masalah Umi

Dering Hp Ita terdengar keras, secepat kilat Ita meraih HPnya. Tanpa membaca nama yang tertera di layarnya, dia menjawab telepon itu.
“Halo.” Suara lesu terdengar dar inya.
Tak ada jawban dari seberang sana. Ita hanya mendengar suara rintihan. Diapun bingung, segera dia mengalihkan Hpnya ke depan wajahnya dan membaca nama yang meneleponnya. “Umi?” makin bertambah kebigungan Ita.
Berulang kali terdengar Ita memanggil nama sahabatnya itu, tapi tak ada suara dari seberang sana. Jadi Ita mematikan panggilan temannya lalu memutuskan untuk ke rumahnya.
Saat di perjalanan, pikiran Ita tak karuan. Berbagai macam hal buruk yang dia bayangkan terjadi pada sahabatnya. Setelah beberapa menit kemudian, Ita sampai di depan lorong rumah Umi. Denagn sekuat tenaga, Ita berlari. Dia tak lagi memperhatikan dirinya yang lusuh, jilbabnya tak lagi serapi tadi, mukanya juga berminyak.
“Assalamualaikum” teriak Itayang tak sabar ingin melihat keadaan temannya.
“Walaikumsalam” Jawab Umi yang keluar sambil memegang pipinya.
Ita shok melihat keadaan sahabatnya. Sekitar mata kirinya berwarna biru, wajahnya bengkak. Hidungnya patah, bibirnya hilang sepotong, alisnya terbelah, giginya rontok semua, kupingnya hilang satu (Umi say : Wee penulis janganko lebai sekali kalau menulis, kalau begituki keadaanku matima itu kauE… bayangkan wajah umi yang marah)
“Umi, apa yang terjadi denganmu?” Tanya Ita serius sambil memandangi temannya dengan tatapan penasaran.
“Kemarin aku kena musibah Ta.” Jawabnya dengan nada meringis sambil memegangi pipinya yang bengkak.
“Iya, aku tahu kau kena musibah tapi musibah apa? Memang siapa yang membuatmu seperti ini? Biar aku yang membalasnya.” Kata Ita sambil mengangkat lengannya seperti Ade Ray yang menunjukkan otot-ototnya (sok jagoan banget kan?hehehe)
“Sepeda baru adikku!” katanya dengan wajah yang meminta belas kasihan “Sepeda! Bagaimana bisa?”
“Bisalah… akujatuh dari sepeda gara-gara aku gak ngeliat lubang yang ada di depanku.” Katanya sambil memanyunkan bibirnya (ya… sekitar 5 senti ke depan.)
“Ada-ada saja… kirain kamu kena musibah apaan!” kata Ita lalu membiarkan tubuhnya terjatuh di kasur empuk Umi. Beberapa detik kemudian Ita sudah larut dalam mimpnya. Sementara Umi hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah ITa yang memang tukang tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar