Kamis, 31 Desember 2009

Seniman Handal Adalah Alam

Kuas-kuas berwarna
Tergores di langit biru
Melukis sebuah lukisan Indah
Menampakkan warna cerah yang alami

Guyuran sinar mentari
Menambah silauan kebahagian
Menyilaukan setiap pasang mata

Titik hujan tak menghapus keceriaan
Semakin terdengar titik hujan
Semakin menyejukkan jiwa
Menenangkan kalbu

Dendangan musik alam
Terdengar begitu merdu
Melodi-melodi mengalun lembut
Bak seniman memainkan nada

SAHABAT

Sahabat…
Memiliki arti lebih dari kata teman

Mereka datang tanpa kusadari
Mereka kutemukan tanpa kucari

Mereka mengisi kekosongan di hati
Mereka menutupi kehampaan di jiwa

Sungguh beruntung diriku
Memiliki mereka sebagai sahabat

Kutertawa karena cerita mereka
Kutertawa karena tingkah mereka

Dan…
Kubahagia karena semua
Dari mereka

7 Juli 2009

SANG PAHLAWAN

Hari-hari melelahkan mereka hadapi dengan kesabaran hati. Berkeliling pasar sambil menawarkan plastik-plastik besar tempat menyimpan hasil belanjaan. Kadang mereka kecewa jika ibu-ibu menolak untuk membeli plasti-plastik yang mereka tawarkan. Tapi tak jarang pulang ibu-ibu yang membeli banyak barang dan tidak membawa keranjang belanjaan memanggil mereka, disaat seperti itulah senyum-senyum indah keluar dari bibir anak-anak penjual plastik-plastik itu. Salah seorang diantara mereka bernama Ito,dia seorang anak yang berusia 10 tahun. Ayahnya sudah tiada dan ibunya tidak memepunyai pekerjaan tetap. Karena Ito anak sulung dari tiga bersaudara jadi dia harus berusaha membantu ibunya mencari uang dengan cara menjual plastik-plastik di pasar hanya untuk membeli makanan untuk dirinya dan adik-adiknya yang masih kecil-kecil. Dalam hati Ito selalu menjerit ingin rasanya sekolah tapi keadaan tak memungkinkan,untuk makan setiap hari saja susah apa lagi biaya untuk sekolah. Tapi tak pernah terlintas sedikitpun di hati Ito untuk mengeluh menghadapi pahitnya hidup yang harus dia jalani, dia selalu saja bersyukur dengan apa yang dia peroleh. Bahkan disaat dia tak berhasil menjual plastic-plastiknya pun dia selalu bersyukur dan tak mengeluh seperti yang dialami sebagian temannya di pasar. Hari ini suasana pasar sangat ramai, maklum satu minggu lagi lebaran idul adha. Plastik-plastik jualan Ito hari ini semuanya laku, begitupun teman-temannya. Setelah plastik-plastik Ito habis terjual tapi hari masih sangat pagi jadi Ito beralih profesi menawarkan jasa membantu ibu-bu membawakan belanjaannya. Walau banyak ibu-ibu yang tak menghiraukan Ito dan kawan-kawan tapi tak jarang pula ibu-ibu itu menerima tawaran Ito dan kawan-kawan. Hari ini Ito mendapat hasil yang sangat banyak, bahkan tiga kali lipat dari hari-hari biasa.
Di pasar tak jarang pula terlihat anak-anak berewokan lalu alang tak jelas apa yang mereka lakukan, hanya menambah sesaknya pasar. Diantara anak-anak berewokan itu seorang anak yang berusia sekitar 15 tahun yang biasa di panggil Coki sering mencari ulah, tak jarang dia ditemukan mencuri gorengan Mas Dani,sering pula dia kedapatan memakan buah yang Mbak Tini jual. Coki memang musuh anak-anak pasar tapi anggota-anggota Coki juga banyak, jadi anak-anak pasar tak bisa berbuat apa-apa. Pernah ada seorang teman Ito mengadukan Coki dan kawan-kawan kepada Satpam pasar karena Coki dan kawan-kawan mengambil semua hasil jualan Ito dan kawan-kawan, tapi setelah Coki dimarahi oleh Pak Satpam, Coki dan kawan-kawan memberi pelajaran pada teman Ito dengan cara memukulinya sampai babakbelur. Setelah peristiwa itu tak ada lagi anak-anak pasar yang berani menentang Coki apalagi mngadukannya pada Pak Satpam setiap Coki berbuat ulah.
Keesokan harinya, pagi-pagi betul Ito sudah ada di pasar. Dia memang mempunyai prinsip untuk tidak bermalas-malasan. Walau hanya terlihat beberapa orang yang berbelanja di pasar Ito sudah beberapa kali mengelilingi pasar menawarkan plastic-plastiknya. Matahari sudah menyengat tapi baru seperempat plastik-plastik Ito yang terjual, maklum disaat-saat menjelang Lebaran Idul Adha banyak anak-anakyang turun ke pasar untuk mencari uang, ya salah satunya dengan menjual plastic-plastik seperti Ito.
Kali ini anak-anak berewokan itu tampak asyik duduk-duduk di depan sebuah took yang tutup, sesekali terlihat mereka menjaili anak-anak pasar lainnya yang lewat di dekat mereka. Tak jauh dari tempat anak-anak berewokan itu tampak seorang Bapak-bapak sedang membeli pisau cukur, mungkin untuk mencukur kumisnya yang memang sudah sangat tidak rapi. Saat bapak-bapak itu mengeluarkan dompetnya untuk membayar pisau cukur itu Coki tak sengaja lewat di dekat Bapak-bapak itu. Coki melihat isi dompet itu, tampak beberapa lembar uang limapuluh ribuan di dalam dompet itu. Terlintas difikiran Coki untuk mengambil dompet itu. Diam-diam Coki menghampiri bapak-bapak itu dan secepat kilat dia mengulurkan tangannya untuk mengambil dompet itu.
“ awas Pak….copet…!!!” teriak Ito yang tak sengaja menyaksikan kejadiaan itu. Bapak itu kaget dan berbalik tapi dompet itu sudah ada ditangan Coki sekarang. Dengan cepat Coki berlari sebisa mungkin, bapak-bapak itupun mengejarnya sambil meneriakkan.”maling…maling…”. melihat hal itu Ito mendapat ide dan berbalik arah memsuki lorong-lorong pasar dan ternyata Ito melihat Coki berlari kearah dimana dia berdiri. Saat Coki hamper berada di dekatnya, dia segera mendorong sebuah meja yang sudah tidak terpakai lagi dan alhasil Coki menabrak meja itu dan terjatuh. Bapak-bapak itu ssangat berterima kasih pasa Ito yang telah membantunya menangkap pencopet itu.
“ terima kasih ya nak….” Ucap bapak itu sambil menyodorkan lembaran duapuluh ribuan kepada Ito. Tapi Ito menolaknya “ sama-sama Pak tapi saya nda bisa terima uang itu…”
“nda papa ko’ nak ambil saja” bujuk bapak-bapak itu
“wah. Maaf pak, ibu saya mengajari saya untuk tidak menerima uang yang bukan kerja keras saya”
“oh… kalau begitu anggap saja ini sebagai imbalan karena kamu sudah menolong saya”
“sekali lagi maaf dan terima kasih pak tapi itukan sudah kewajiban kita semua untuk membantu sesame apalagi sama orang yang lebih tua dari kita, iya kan pak!!”
“siapa yang mengajarimi berkata seperti itu??” Tanya bapak itu
“ almarhum ayah saya pak” jawab Ito
“oh,,,kalau kamu tidak mau ya sudah tapi tunggu sebentar disini ya, saya kesana dulu beli air minum “
Tak lama keudian bapak-bapak itu datang dan membawa dua botol minuman dingin “ ini untukmu tapi yang ini jangan ditolak ya!!”
“terima kasih pak, saya memang haus…heee…” jawab Ito sambil senyum
“ ya sudah bapak pergi dulu ya… terima kasih kalau tidak ada kamu sudah lenyap dompet saya” ucap Bapak itu dan beranjak meninggalkan Ito yang sedang asyik menikmati minuman dinginnya.

THE END

Sabtu, 12 Desember 2009

Aku

Aku memang apa adanya, jadi aku tak perlu menjadi yang lain agar aku bahagia. aku adalah diriku sendiri

Sabtu, 05 Desember 2009

100 Hari Lagi

Hampir tiga tahun kebersamaan ini
Menciptakan sejuta kenangan
Dan cerita-cerita seru
Yang akan menjadi dongeng di kemudian hari

100 hari lagi kebersamaan itu pergi
100 hari lagi waktu dan tempat akan memisahkan kita
100 hari lagi perahu-perahu kita tak lagi sama
Dan akan membawa kita ke masing-masing pulau impian

16 November 2009

Sabtu, 21 November 2009

Goresan Kehidupan

Menggoreskan ujung pena

Di kertas putih ini

Tak mengerti makna

Dari goresan itu

Tapi entah mengapa

Jari ini terus saja bergerak

Menggorekan pena bertinta kelam ini

Meninggalkan bekas yang tak mau hilang

Goresan palung jiwa

Tak tahu tinta berwarna apa

Mungkinkah masih ada ruang putih

Ruang yang tak ternoda tinta itu

Bila hari berganti esok

Esok berganti esok

Hingga kita mendapati

Ujung dari hari dan esok itu

Dan ujung dari hari dan esok itu

Tinta yang berwarna apa

Yang tergores di kehidupan ini

Tak dapat menetes lagi

Harapn pun muncul

Sebuah harapan yang menginginkan

Goresan kehidupan ini berwarna cerah

Yang mampu menutupi

Warna kelam yang pernah tergores.

Rabu, 30 September 2009

CERPEN Perjalanan Cika

PERJALANAN CIKA

Satu minggu kedepan Cika libur sekolah, maklum habis ulangan semester. Untuk mengisi liburan Cika kerumah nenek yang ada di kampung. Sore itu Cika ke terminal untuk mencari mobil yang akan membawanya ke kampung neneknya. Tak begitu susah mencari mobil jurusan kampung nenek Cika. Tapi karena mungkin musim liburan mobilnya pada penuh-penuh, terpaksa deh Cika desak-desakan dengan penumpang lainnya diatas mobil.

Perjalanan ke kampung nenek Cika membutuhkan waktu empat atau bahkan sampai lima jam jika mobilnya singgah di warung. Dan lagi jalanannya curam dan berbelok-belok,kalau kita ngintip lewat kaca mobil tampak di tepi aspal jurang yang sangat dalam dan mengerikan. Ngga kebayang deh kalau jatuh di situ, kemungkinan untuk selamatnya Cuma nol koma sekian persen.

Karena Cika tidak terbiasa dengan jalanan yang seperti itu, makanya dia pusing dan sedikit mual ditambah lagi suasana mobil yang pengap karena desak-desakan dengan penumpang lainnya. Cika mengeluarkan minyak kayu putihnya yang memang sengaja dia siapkan untuk perjalanan panjang seperti yang sekarang dia alami.

“ ehm… de bisa minta minyak kayu putihnya sedikit tidak??” Tanya ibu-ibu separuh baya pada Cika

“ iya boleh ko’ bu…” kata Cika sambil menyodorkan botol mungil itu.

“ terimakasih ya de” kata ibu itu sambil menuangkan minyak kayu putih di telapak tangannya kemudian mengusapkannya pada keningnya.

Cika hanya mengangguk dan tersenyum lemas karena Cika sudah sangat pusing. Beberapa kali dia mencoba memejamkan matanya tapi selalu saja melek karena kesakitan tertindis badan yang duduk di sebelahnya.

@@@

Arrrgghhh… teriak semua penumpang dalam mobil yang ditumpangi Cika. Di jalan yang berbelok-belok mobil yang ditumpangi Cika hampir menabrak mobil yang berpapasan dengannya. Tapi untunglah sopir mobil itu dapat mengendalikannya. Suasana tegang itu berlalu ketika sopir mengendalikan mobil dengan tenang kembali. Cika yang tadinya shock menghembuskan nafas panjang untuk menenangkan dirinya, dan kembali mencoba memejamkan matanya. Tiba-tiba ada kejadian aneh, sopir kaget dan membanting stir mobil kearah kanan dengan kencang untuk menghindari binatang yang sedang menyebrang, tapi karena dijalur kanan juga ada mobil yang datang dari arah yang berlawanan sopir mobil yang ditumpangi Cika membanting stir mobil kearah kiri dengan sangat cepat. Suasana di dalam mobi kembali tegang, seluruh penumpang berteriak histeris tak terkecuali Cika. Sopir tak dapat mengendalikan laju mobil itu, ditambah lagi jalanan yang licin karena dari tadi gerimis tak kunjung reda. Alhasil mobil masuk kedalam jurang yang dalam, Cika berteriak histeris memanggil-manggil mama dan papanya. Dia sudah pasrah dan merasakan dirinya seperti melayang. Tiba-tiba dia merasakan tubuhnya diguncang-guncang oleh sepasang tangan, tak hanya itu, Cika juga mendengar suara-suara…

“ de’…de’……” kata suara itu

“ uahh…kamu malaikat ya??” Tanya Cika

“ malaikat? Wah bukan de’ aku manusia biasa.” Kata suara itu lagi

“ aku sekarang ada dimana nih? Apa sudah ada di akhirat?” kata Cika lemas yang masih memejamkan matanya.

Suara tadi tak menghiraukan pertanyaan Cika malah dia menguncang-guncang kembali tubuh Cika

“ de’ kita singgah di warung dulu, soalnya banyak penumpang yang lapar.” Kata suara itu yang ternyata pemiliknya adalah ibu-ibu yang tadi meminta minyak kayu putih pada Cika.

“ hah…. Kita ada dimana bu?? Ko’ di akhirat ada warung sih??” Tanya Cika sambil membuka lebar-lebar matanya dan tercengang penuh kebingungan.

“ apa? Akhirat? Ini masih dunia de’.. ngaco aja ahh…” kata ibu-ibu itu

“ kita semua sudah mati bu…tadi mobil jatuh dijurang” kata Cika meyakinkan

“ wahh tambah ngaco aja ini ade’….” Kata ibu itu sedikit tertawa

“ mungkin tadi ade mimpi kali….tadi ade’ tidurnya pulas amat, sampe-sampe pundakku di jadikan bantalan…hahaha” lanjut ibu-ibu, kali ini tertawa lepas

“ oh iya ya… tapi rasanya seperti nyata”

“ sudahah de’ lupakan saja mimpi buruk itu, ayo lekas turun dari mobil dan cari makanan, poasti kamu lapar kan?” ajak ibu itu

“ iya bu…heee” kata Cika nyengir

Cika dan ibu itu berjalam menuju warung yang penumpang lainnya masuki. Tapi tiba-tiba Cika angkat bicara

“ bu… “ sapa Cika

“ iya ada apa?” Tanya ibu itu

“ehm… Cika minta maaf ya bu sudah menjadikan pundak ibu sebagai bantalan buat Cika”

“ sebenarnya pegal juga tapi ga papalah…sudah lupakan saja.” Kata ibu itu sambil tersenyum lebar pada Cika.

Cika sangat lega karena tadi itu Cuma mimpi, tak henti-hentinya dia engucapkan rasa syukur kepada Sang pengatur segalanya.

Maros, 14-3-2009

Ila aswil

SMS Gratis

SMS GRATIS

I want to change the world

Kazewo kakenukete

Nanimo osoresuni

Ima yuuki to egao no kakera daite

… … … …

Lantunan lagu ‘Change The World’ ost. Film kartun Inuyasha terdengar dari HP Ila. Ila beranjak dari kursi meja belajarnya yang memang sejak tadi Ila mengerjakan PR Matematikanya menuju kasur tempat HP kesayangannya bernyanyi riang.

“emmhh…”Ila menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ila mengangkat HPnya lalu meletakkannya di kuping kanannya.

“ Halo…Assalamualaikum” ucap Ila namun tak terdengar suara dari seberang sana.

“ Halo…halo…” ulang Ila tapi tak ada suara apapun yang terdengar.

Ila kesal lalu mengalihkan HPnya ke depan wajahnya.

“ Hah…” kata Ila kaget

“ Sialan!! Ternyata SMS toh, perasaan ini lagu untuk dering panggilan deh, siapa lagi yang sudah menggantinya” umpat Ila sendiri.

Ila segera menekan tombol HPnya dan membaca rangkaian kata yang tampil di layar Hp berwarna pink itu. Tampaknya Ila serius membacanya. Tak beberapa lama kemudian Ila kembali menekan tombol-tombol HPnya. Di layar HP keluar terbaru itu tertulis kata ‘YA’ dengan mantap Ila mengirimnya.

Berselang beberapa detik, HP Ila kembali melantunkan lagu Change The World-nya V6. tak berbed adari yang dilakukan Ila tadi, dia menekan tombol HPnya.

“ Horeee….” Sorak Ila riang sambil tetap memandangi HP yang tergolong mahal itu.

“ Ila kenapa teriak? Berisik banget!” teriak kakak Ila dari kamar sebelah.

“ ups.. ehm… tidak ada apa apa ko’ Ka’” jawab Ila sambil tersenyum centil dan sekali lagi membaca SMS yang tadi.

SELAMAT…!! Anda Mendapat Bonus 200 SMS Gratis Dari TELKOMSEL.

Terimahkasih Atas Registrasinya.