Minggu, 27 Mei 2018

9 Cara Meningkatkan Daya ingat Otak dengan Cepat

“Lupa eh”
“Wadduh saya lupa”
“Astagfirullah, saya lupa”
“Tadi ingat sih, tapi kok sekarang jadi lupa ya..”
“Di mana ya… lupa”

Pernah dengar kalimat-kalimat di atas, nggak? Pernah kan ya, sering malah. Zaman sekarang bukan cuma nenek kita aja yang sering pikun, tapi malah kita cucunya yang masih muda-muda sudah terjangkit pikun bahkan ada yang mengidap level parah.
Nah, berikut ini beberapa cara untuk meningkatkan daya ingat otak dengan cepat, agar terhindar dari pikun level parah.

1. Tulis 
Di zaman sekarang, kegiatan menulis dibagi menjadi dua, yaitu menulis di keyboard handphone atau komputer (mengetik) dan menulis tangan di kertas. Mana yang kalian senangi? Dua-duanya sih bagus, tapi kalau untuk daya ingat yang lebih mendalam lagi, menulis tangan lebih disarankan, karena seseorang yang menulis tangan akan lebih cermat dengan apa yang ditulisnya sehingga membangkitkan ingatan-ingatan.
Tapi. Jika kalian tidak ingin repot membawa buku dan pulpen, maka menulis dengan keyboard hp akan menjadi lebih praktis. Gunakan aplikasi catatan di smartphone kalian. 
Pokoknya, menulis sangat direkomendasikan untuk menyimpan ingatan anda agar tidak terlupa.

2. Gambar
Kalau kalian tipe orang yang tidak suka menulis, maka tingakatkan daya ingat kalian dengan gambar. Visualisasikan ingatan tersebut dengan gambar. Saat mengingat sesuatu informasi, bersamaan dengan suatu gambar, maka akan memudahkan otak untuk memanggil ingatan tersebut kembali. Misalnya saja, ketika selesai membaca komik, bagi yang senang dengan gambar, maka ia akan lebih mengingat gambar daripada teks komik tersebut, lalu otak akan bekerja untuk mengingat apa yang diceritakan dalam komik tersebut.

Sabtu, 26 Mei 2018

Yang Baik Untuk Yang Baik, Yang Buruk Untuk Yang Buruk.

Ini saya tulis di hari kesepuluh bulan Ramadhan.

Hari ini saya banyak merenung. Bahkan yang biasanya di jam setelah dhuhur, saya tidur siang, kali ini saya tidak bisa menutup mata, terlalu banyak kalimat-kalimat yang ingin tumpah di kepala saya. Salah satunya mengenai jodoh.

Ada tiga hal yang dirahasiakan Allah SWT kepada mahklukNya yaitu, Rezeki, Jodoh dan Kematian. Hari ini semua hal itu saya fikirkan dan renungkan. Tapi kali ini saya akan menulis tentang Jodoh.

Umur saya sekarang 26 tahun, bisa dibilang dewasa lah untuk ukuran umur. Tapi, untuk ukuran sifat dan fisik, masih terperangkap di usia belasan. Saya merasa -dan masih banyak yang menganggap bahwa saya masih remaja. Diusia yang seperti saya sekarang ini sudah banyak yang telah menikah, bahkan sudah memiliki anak. Namun saya (sebelum merenung dan menulis ini), terlalu cuek dengan urusan seperti itu. Tidak memikirkan tentang pernikahan dan segala kehidupan setelah berumahtangga. Sampai saat ini, saat terlalu banyak hal yang terlintas di kepala, Jodoh mulai menyentil. Orangtua selalu menyinggung, terutama Ibu. Dia bahkan selalu mengingatkan saya akan umurnya. Katanya, selagi dia masih sehat-sehat, segerakanlah menikah. (ada yang kasusnya sama dengan saya? Duh!)

Berbicara tentang jodoh dan menikah, pasti harus ada pasangannya kan, lawan jenisnya. Hahah ya iyalah! Nah mungkin kasus saya masalahnya ada di sini. Pasangan.
Lingkungan saya Islam, tapi tidak terlalu islami. Maksudnya, masih banyak yang membenarkan adanya pacaran. Jadi, banyak sekitar saya yang selalu bertanya dan bahkan memaksa memberitahu mereka siapa pacar saya. Untuk kalian yang membaca ini dan kenal lebih dekat dengan saya, pasti tahu, kalau saya itu kurnag bergaul. So, jangankan pacar, teman laki-laki saja saya jarang punya. Ada sih teman laki-laki tapi yaa saya rasa saya tidak bisa dibilang akrab dengan mereka. Setelah belajar dan mengenal Islam lebih dalam, saya sudah bertekat untuk tidak pacaran. Mungkin itu juga sebabnya sehingga saya tidak memiliki teman laki-laki yang akrab. Saya takut nanti saya suka dan berpacaran. Jadi yaa lebih baik menghindar kan ya… hehehe

Minggu, 01 April 2018

Jerawat, I give up!


Kemarin ngepost di intagram story. Biasanya gak pernah menampakkan wajah, tapi karena lagi nyanyi-nyanyi di mobil sama adek sepupu jadi lah muka kami kelihatan.
Dan, beberpa saat kemudian bnyk yg DM, 'mukamu kenapa ila? Jerawat mu parah!'

Yup, saya jerawatan, mm.. sudah sejak dua tahun lalu. Sebenarnya jerawat saya sudah dari SMA tapi muncul hilang muncul hilang gituu..
Dan sepertinya yang terparah sepanjang sejarah, ya, sekarang ini.

Meskipun berjerawat, saya hanya memakai bedak tabur kalau keluar rumah, sama sekali tdk menggunakan foundation untuk menyamarkannya sedikit. 
Mungkin banyak yang bertanya dalam hati, 'gak malu apa mulanya begitu banget?'
Yaa malu lah, malu sekali malah!

Saya sangat malu, bahkan sampai di titik stress berat! Saya tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi jerawat di muka saya.
Krim dokter, krim 'mahal', sampai obat tradisional saya gunakan, tapi hasilnya nihil. Malah tambah!

Setiap ketemu orang, pasti kaget lihat muka saya. Dan tidak sedikit yang memberikan saran untuk menggunakan ini itu. Bahkan ada beberapa yang mulai mencibir secara langsung. Duh, kalian tdk tahu bagaimana rasanya di posisi saya.

Saya menyerah!
Berbagai obat sudah saya gunakan.
Entahlah, mungkin nasib saya berjerawat begini.
Saya lelah.
Kalau banyak dari mereka yang menghindari saya karena jerawat di muka saya terlihat sangat jelek, biarlah!

Sekarang saya berada di titik, 'terserah'.
Hey, jerawat, kalau mau tumbuh lebih banyak lagi, terserah!
Muka ini seperti ini, yaa mau bagaimana lagi.
Saya sudah terlalu lelah ~

Kamis, 29 Maret 2018

Jenuh

Dangerous!

Sudah kerja?
Atau masih sekolah?
Kuliah?

Pernah nggak kalian berada di titik, - malas banget ke kantor/sekolah/kampus. 
Jenuh 

Kalau iya, kalian biasanya ngapain? 
Sengaja bolos?
Tetap masuk tapi loyo-loyoan?

Kalau saya sih tipe orang penakut. Jadi nggak berani kalau harus bolos. Sejak mulai sekolah, saya paling anti yang namanya bolos. Bukan karena nggak mau, mau banget sebenarnya tapi  takut. Dan malas juga harus ditanya ini itu kalau ketahuan.
Jadi yaa tetep masuk sekolah meskipun keliahatan gak mood, yaa loyo-loyoan gitu.. 
Dan itu berlaku sampai sekarang. Sampai saya kerja. Meskipun sudah pernah berani bolos (peningkatan) hahahaha.

Kalian kalau jenuh, ngapain?

Anak sekolahan dulu vs sekarang

let’s talk about ‘anak sekolahan jaman now’

Hello… yang lagi baca ini.
Kamu kelahiran berapa?
Mm.. angkatan 90an juga tak? Atau dibawahnya? Atau kamu anak millennia, lahir duaribuan keatas?

Saya akan bercerita tentang anak sekolahan (apa yang saya lihat) sekarang dan bercerita tentang anak sekolahan di zaman saya.

Jujur, saya kadang miris kalau melihat keadaan sekarang. 
Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Baru SMP (sekolah menengah pertama) kira-kira umur 13-16 tahun, mereka sudah pacaran, dan gak sungkan-sungkan mamerin kalau mereka punya pacar. 
Caranya mamerin gimana?
Yaa.. kalau nggak boncengan ke sana sini, mereka memamerkannya di medsos (kalau di medsos lebih parah sih ya cara mamerinnya menurutku). Foto si cewek/cowok dijadikan profil picture (nama profil nama asli sesuai yang dikasih bapak emak pas aqiqah. Eh tapi lihat foto profilnya kok jadi foto lawan jenis. nanti ada bibi or paman kalian yang punya medsos juga lagi nyari nama ponakan tercinta, eh taunya -anggap si Mawar fotonya cowok. Nanti bibi or paman kalian bertnya-tanya, ‘sejak kapan ponakan saya operasii plastik?’) atau foto mereka berdua (nanti bibi or aman bertanya-tanya lagi, ‘sejak kapan ponakan saya nikah? Kok nggak ngabarin, kan mau ngasih kado gede ~)
Ini SMP loh ya, belum anak SMA, eits anak SD juga sudah kenal pacar-pacaran. Duuuhh!

Di zaman saya dulu, waktu SD, baru dicie-ciein aja kitanya pada nangis, apalagi mau mamerin kalau punya pacar. Duuh jauuhhh 
mm.. SMP, udah kenal sih yang namanya suka-sukaan, tapi untuk yang namanya pacaran itu sangat tabu. Yes, terserah kalian mau ngatain kami kampungan (tapi emang tinggal di kampong sih hahahah).

Anak sekolahan jaman now, kelihatannya tidak ada takut-takutnya sama ibu/bapak guru. Mereka dengan nyantainya melakukan hal yang mereka inginkan meskipun ada guru di sekitar mereka.
Dulu, pas zaman saya sekolah, kalau lihat guru dari dekat bahkan dari jarak lima puluh meter pun, kita bakalan cari cara supaya menghindar. 

Anak sekolahan sekrang, kalau dibentak dikit aja sama guru, dianya malah balik bentak, malah ngadu ke orangtua supaya guru tersebut dikeluarkan dari sekolah.
Dulu kita, mau dibentak, dicubit, dipukul, distrap, kita gak berani ngadu ke orang tua.

Udah ah, nanti makin ngawur sayanya kalau lanjut cerita
Hahahahh 
Saya ketawa pas baca ulang diatas. Seriously,seribu persen gak jelas dan garing!
But, this is my opini. (ketawa lagi hahhahahahahahah)

Rabu, 14 Maret 2018

jaringan oh jaringan



Menungguu ~ ternyata menyakitkaan

Ada lirik lagu kayak gitu kan? Tapi saya lupa judul dan penyanyinya siapa. Hahaha

Ini saya ketik saat lagi nunggu jaringan bagus buat upload tulisan. Mau posting tulisan aja perjuangannya kayak gini banget ya, apalagi nyari jodoh… krik krik krik

Tapi ada hikmah dibalik kejadian ini.
1.      Melatih kesabaran. Dengan jaringan lalod seperti ini, berarti saya harus menahan amarah. Mau marah juga gak tahu marah ke siapa. Marah sama tembok? Kan gak lucu! Malah bakalan dibilang gila.
2.      Ada tulisan baru. Kalau jaringan gak lalod, gak ada jeda nunggu, dan gak bakalan bosan, dan gak bakalan nulis ini. Yaa… akhirnya saya tulis ini karena membunuh rasa bosan. Eeeaa membunuh. Coba rasa ke kamu juga bisa dibunuh, wqwqwq
3.      Nggak tahu hikmah apalagi, tapi saya yakin pasti ada! Hahahaha


Senin, 22 Januari 2018

B


Beberapa hari terakhir saya banyak mendapatkan pertanyaan “gak ngeblog lagi, La?”
Awalnya sih saya cuek aja kalau ditanya, tapi kok lama-lama kepikiran juga ya… hahaha
Akhirnya pagi ini saya mencoba untuk menulis sesuatu dan mempostingnya di blog. Agar kalau ada yang bertanya, jawabannya tidak mengecewakan lagi. Hahaha

Pagi ini saya akan beropini tentang, B. sebenarnya opini ini pernah saya tulis di blog kedua saya yang gak tahu kenapa belum cukup seumur jagung blog itu mati. Mati karena saya tidak pernah memposting tulisan lagi dan mati karena saya lupa memakai email apa di sana dan tentunya lupa passwordnya. Oke, lupakan blog itu. Let’s tall about B.