Rabu, 26 Juli 2017

Writing for self reminder

Yaa.. saya kalah!
Saya kalah dengan keadaan. Ingin rasanya mengeluh. Mengeluarkan berbagai macam perasaan yang saya tanggung sekarang. Dada ini terasa sesak, semua menumpuk di sana. Kalau saja ada orang yang bisa saya maki. Kalau saja ada benda yang bisa saya lempar hingga pecah berserakan. Kalau saja ...
...

Yaah... saya memang hampir kalah!
Kalimat diatas hampir saja menguasai saya. Kalimat di atas awalnya akan saya jadikan kalimat pembuka untuk keluhan-keluhan panjang saya. Yah, hari ini memang terasa sangat berat, juga sangat sesak. Semua rasanya ingin  saya tumpahkan.
Tapi sungguh beruntung saya. Saya memiliki Tuhan yang sangat Maha Pengasih dan Penyayang. Dia menunjukka rasa sayangnya dengan cara berbeda-beda ke setiap manusia. Seperti halnya ke diriku. Karena sayangNya dia kepada saya, Dia tidak membiarkan saya terlalu larut dalam kesedihan dan tekanan. Salah satu caraNya yaitu mengingatkan sayang pada tulisan saya sendiri di blog ini. Saya membacanya dan yah saya lumayan terobati.

Kadang kita menulis bukan untuk siapa2, tapi untuk diri kita sendiri. Tetap menulis, tetap ingatkan diri sendiri. Bonusnya yaaa kalau-kalau ada orang lain yang ikut ter-ingatkan.

Kamis, 13 Juli 2017

Tips mengurangi kesedihan

Kadang saya ingin menyerah, tapi agamaku mengajarkanku untuk tetap bersabar.


Kehidupan seperti roller coaster, naik turun. Kadang senang, kadang sedih. Menurut saya, porsinya sama, jika senangnya tiga maka sedihnya juga tiga. Tapi kebanyakan (saya bilang kebanyakan loh ya, jadi tidak semua) merasa porsi kesedihan lebih banyak. Kebanyakan dari kita terlalu fokus pada kesedihan jika kesedihan datang dan lalai jika kebahagiaan yang menghampiri. Seperti yang pernah saya baca (maaf lupa sumbernya) "Jika manusia bahagia, ia akan mengingat kesedihannya. Namun jika manusia sedih, ia akan tetap akan mengingat kesedihan dan lupa pada kebahagiaan yang pernah ia alami." Mungkin kata-katanya tidak seperti itu tapi makna yang saya tangkap kurang lebih seperti itu.

Ada manusia (termasuk saya) terlalu mudah terjerumus dalam kesedihan. Sedikit-sedikit galau, sedikit-sedikit gundah, sedikit-sedikit sakit hati. Mungkin manusia-manusia seperti ini manusia yang perasaannya sensitif. Belum apa-apa sudah meneteskan air mata, belum apa-apa sudah mengeluh. 

Lalu bagaimana cara mengatasi perasaan sensitif yang mungkin sudah mendarahdaging di dalam diri? -itu pertanyaan besar saya. 

Beberapa orang memberi tips kepada saya.
Pertama:
'Panta Rhei' - seseorang menyarankan kepada saya untuk meyakini bahwa segala sesuatu di dunia ini pasti akan berlalu. Kesedihan dan kebahagiaan tidak akan pernah abadi. Mereka akan silih berganti. Semua akan berlalu, rasa sakit akan berlalu, rasa bahagia akan berlalu. Jadi inti dari yang saya tangkap adalah, jalani saja. Mau sedih, mau bahagia, jalani saja, maju saja. 
Kedua:
Berimajinasi - seseorang menyarankan kepada saya untuk menganggap kesedihan itu sebuah bungkus kado, yang semakin bagus isinya maka semakin susah untuk membukanya. Jadi, jika kita mendapat kesedihan yang sangat maka kita harus yakini akan ada kebahagiaan yang sangat juga.
Ketiga:
Agama - seseorang menyarankan kepada saya untuk semakin dalam mempelajari ilmu agama, serta semakin dekat lagi dengan Sang Pencipta sekaligus Sang Pengatur. Karena dengan dekat padaNya semua akan  baik-baik saja. Dan dari sanalah saya membuat kalimat penyemangatku sendiri. Kalimat itu kalimat pembuka tulisan ini.

(Siapa tahu ada salahsatu diantara manusia di bumi ini yang membaca tulisan ini. Mohon kiranya berbagi tips di kolom komentar jika ada tambahan tips dari kalian.)



Saat ini saya sedang belajar. Belajar mengendalikan kesedihan, dan belajar fokus pada kebahagiaan. Itu mengapa saya menulis ini. Dengan menulis seperti ini dan mempublikasikannya, saya akan memiliki alarm pengingat setiap saya membacanya. -harap maklum jika kalian bertemu saya dan masih terlihat dikuasai aura kesedihan. Karena ya, ini, saya masih belajar-.

Rabu, 21 Juni 2017

The journey, I miss you

The journey is what brings us happiness, not the destination. -unknown

Salah satu kebahagian terbesar saya adalah ketika saya melakukan perjalanan. Ya.. kalian bisa menyebutnya jalan-jalan. Kebahagiaan itu muncul bahkan saat masih merencanakannya. 

Tapi kini saya salah satu kebahagiaan terbesar itu masih terpendam. Sudah hampir setahun saya tidak kemana-mana. Sudah hampir setahun rasa rindu mendatangi tempat-tempat baru atau bernostalgia dengan tempat yang pernah saya kunjungi, membuncah. Ingin sekali rasanya. Tapi apa daya. Tuhan selalu memiliki rencana terbaik untuk hambanya.

Saya menulis ini karena menulis bagi saya adalah satu cara untuk mengurangi kerinduan. Rindu kepada apa dan siapapun, jika saya tidak bisa menyampaikan atau memenuhi rindu itu, saya menulisnya. Dan yaa rindu melakukan perjalanan belum bisa kupenuhi saat ini.

Saya rindu dengan perasaan tegang di pesawat, saya rindu dengan laju mobil bus, saya rindu dengan wangi tiket, saya rindu dengan perasaan jatuh cinta pada alam yang baru pertama kali kulihat, saya rindu dengan ice cream yang dijual di kafe-kafe, saya rindu dengan beratnya kamera, saya rindu dengan tawa teman perjalanan, saya rindu dengan sapaan yang didatangi, saya rindu dengan bahasa daerah yang asing di telinga saya, saya rindu dengan bertemu kenalan baru, saya rindu dengan berbagai hal yang bisa membuat saya rindu.

Sabtu, 17 Juni 2017

Hujan, Matahari, dan Pelangi




Andai kesusahan adalah hujandan ke senangan adalah mataharimaka kita butuh keduanya untuk bisa melihat pelangi. – begitu kalimat yang bertebaran di website, google, blogger, tumblrataupun situs tulis menulis lainnya.

Kalimat ini hampir semua orang sepakat membenarkannya. Tapi bagi saya sedikit berbeda.

Kita, saat mendapat sebuah musibahbencanaujian atau apapun itu pasti membuat perasaanhati dan jiwa kita menjadi sedihgalau dan gundah. Semua terasa seperti menolak kitasemua terasa seperti kutub negative bagi kita. Tidak ada yang berestidak ada yang seimbang. Pokoknya semua menjadi mendunglalu turun hujan. Banyak tulisan sedih yang makna sesungguhnya bersembunyi di balik kata hujan. Yahujan sama dengan kesedihan.

Selasa, 03 Januari 2017

Dengan Senyuman

Bagaimana (dengan cara apa) kau ingin dikenang?

Minggu, 09 Oktober 2016

Renjana _ Yansa El-Qarni




Yansa El-Qarni
Seorang penulis yang baru kali ini saya membaca karyanya yang dibukukan. 
Sajaknya melulu tentang kerinduan dan kejujuran seorang yang memendam cinta.

Hari ini, malam ini tepatnya. Sajak-sajak karya Yansa El-Qarni ini menemani saya menghabiskan dinginnya malam di bandara Soekarno-Hatta Jkrt.
Saya tekejut mendapati gaya dan bahasa tulisannya. Rasanya tidak jauh berbeda dari tulisan-tulisan saya. Saya merasa ada kesamaan yang nyata. Pernyataan pernyataan ketidakmampuan memendam cinta dan ketidakbadilan rasa rindu. 
Sepertinya dia masih jomblo! 😂

Rabu, 27 Juli 2016

Senja bersama Rosie


Sebuah karya dari TereLiye namun di novel ini namanya masih Darwis Darwis.

Adalah Tegar Karang seorang pemuda yang lahir dan tumbuh di Gili Trawangan, Lombok. Dia memiliki seorang sahabat sejak kecil bernama Rosie. Setiap hari bersama, semua masa kecil mereka lewati berdua.

Kebersamaan bisa menumbuhkan rasa suka bahkan cinta. Dan itu pulalah yang dialami Tegar. Ia jatuh cinta pada Rosie. Ia memendamnya selama ini hingga ia memutuskan untuk mengatakannya di puncak Rinjani kala mereka mendaki bersama.
Namun apa dikata, ia terlambat beberapa langkah saja. Saat hendak tiba di puncak Rinjani, Tegar harus menyaksikan pujaan hatinya direbut oleh sahabatnya sendiri, Dani. Dani lebih dahulu mengutarakan cinta pada Rosie. Dua puluh tahun Tegar luluh lantah dikalahkan oleh dua bulan Dani.
Tegar sendirilah yang dua bulan lalu memperkenalkan Dani pada Rosie. Namun tanpa Tegar duga ternyata diantara meraka tumbuh beni cinta.

Kenyataan pahit itu membuat Tegar memilih untuk menghilang dari kehidupan Rosie. Ia pergi. 

Tereliye (darwis) tidak begitu saja mengakhiri kisah Tegar dan Rosie. Ia menyusun cerita dengan sangat apik, mengalir indah dan penuh kejutan.
Ia mempertemukan kembali Tegar dan Rosie, meski saat itu hati Tegar telah berdamai dengan kepedihan cinta yang ia alami.

Kebahagian Rosie, Dani serta emoat anaknya kini juga menjadi kebahagian Tegar. Hingga bom di Jimbaran, Bali merenggut semuanya. Dani meninggal, Rosie gila, dan Tegar harus mengurus keempat anak Rosie&Dani.

Tegar, bukan sekedar nama. Dia sungguh tegar, setegar batu karang.

TereLiye (Darwis) menyuguhkan cerita tanpa jeda, dia sungguh jenius. Pembaca terbawa, merasakan setiap kejadian. Dan lagi, kita tak bisa menebak hingga membaca akhir halaman cerita 'Senja Bersama Rosie'. 


Sanrego, 27 juli 2016